Sains
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini yang Harus Dilakukan
Gunung Anak Krakatau kembali mengeluarkan erupsi selama dua hari terakhir. Ini yang bisa dilakukan.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Dua hari terakhir, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi.
Pada Jumat (17/6/2022), kolom abu terlihat berwarna hitam.
Intensitas tebalnya ke arah barat daya.
Erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 meter di atas permukaan laut.
Gunung Anak Krakatau erupsi dan terekam di seismograf dengan aplitudo maksimum 62 mm berdurasi 53 detik.

Atas peristiwa erupsi yang terjadi, baik masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah aktif.
Sebelumnya, pada Kamis (16/6/2022) juga mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu yang hampir sama dengan hari ini.
Kolom abu teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah utara. Adapun erupsi Gunung Anak Krakatau terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 62 mm dan durasi 41 detik.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berstatus siaga (level III). Status tersebut naik dari waspada (level II) pada 24 April lalu berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan adanya kenaikan aktivitas yang semakin signifikan.
Baca juga: Harry Style dan Olivia Wilde Semakin Mesra, Berawal dari Syuting Film
Baca juga: Dikritik Karena Tunjuk Perwira TNI-Polri Aktif Sebagai Pj Kepala Daerah, Tito Karnavian Janji Ini
Sejarah erupsi Gunung Anak Krakatau
Dalam laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), kawasan Selat Sunda menjadi kawasan yang sering mengalami bencana akibat Gunung Krakatau.
Tercatat, letusan Gunung Krakatau paling fenomenal pernah terjadi tahun 1883.
Saat itu, Gunung Krakatau meletus dengan melontarkan remah vulkanik dengan volume 18 km kubik, tinggi asap 80 km, dan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.
Menurut pemberitaan resmi pemerintah Hindia-Belanda, dituliskan bahwa peristiwa Gunung Krakatau meletus ini menewaskan 36.417 orang.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menuliskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Krakatau sempat berhenti tahun 1681. Setelah beristirahat kurang lebih 200 tahun, Krakatau kembali memperlihatkan aktivitasnya.