Human Interest Story

Sosok Hein, Kaum Tunanetra di Manado yang Setiap Hari Jualan Kacang, Dulunya Masih Bisa Melihat

Hein menjual kacang di lorong jalan penghubung jalan Samrat dan Pierre Tendean Manado.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Handhika Dawangi
Tribun Manado/Arthur Rompis
Hein menjual kacang di Lorong Jalan penghubung jalan Samrat dan Pierre Tendean Manado. 

Agar Tribun percaya ia berjalan, menerobos kendaraan yang padat di malam minggu itu.

Awal mula berjualan di situ, ceritanya, dipicu kisah romantis.

"Saya sekolah kemudian ketemu istri saya yang juga buta, kami berhenti sekolah dan menikah.

Untuk menopang hidup saya bekerja di sini, diajak seorang teman," katanya.

Dalam sehari, ia bisa meraup uang hingga 100 ribu rupiah.

Dekat hari raya, pendapatan bisa berlipat.

"Bisa hingga 200 ribu, dekat hari raya biasanya orang jadi suka beramal," katanya.

Duka yang ia alami selama menekuni pekerjaan itu tak terbilang.

"Namun sukanya juga banyak, pernah ada orang baik yang memberi saya uang satu juta rupiah," beber dia.

dalam keadaan buta, kerap dijadikan sasaran bully, namun ia tak pernah menyesali hidup.

Hidupnya selalu dipenuhi rasa syukur.

"Saya Kristen, tiap hari saya berdoa agar Tuhan menjaga saya, sebelum bekerja saya berdoa, selesai bekerja saya juga berdoa," kata dia.

Dan kebaikan Tuhan pun dikecapnya. Seorang anaknya baru baru ini lulus TNI.

"Ia sekarang lagi pendidikan di Cimahi, saya mengongkosinya dari pekerjaan ini, anak kedua dan ketiga saya masih sekolah," kata dia

Bercerita tentang keberhasilan anaknya, sikap skeptisnya muncul lagi.

"Kalau kamu tak percayaboleh lihat di rumah," kata dia kepada Tribun.

 Tribun mengaku mempercayai cerita Iskandar. (Art)

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved