Catatan Willy Kumurur

Final Liga Champions Liverpool vs Real Madrid, Artefak Jelajah Ruang dan Waktu

Penikmat bola. Dokter lulus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

handover
dr Willy Kumurur 

Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola. Dokter lulus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

SANG WAKTU adalah sekuens linier yang didefinisikan oleh masa kini: dalam pemahaman linier ini, masa depan belum terjadi. Sedangkan masa lalu bukan lagi bagian dari masa kini.

Jika waktu dipecah-pecah menjadi beberapa satuan regular -detik, menit, jam- maka inilah pemahaman fundamental dari waktu.

Demikian ujar filsuf Inggeris, Simon Critchley, tatkala memulai uraiannya tentang apakah sepakbola dapat memicu perjalanan waktu.

Lanjut Critchley, tatkala kita menonton permainan sepakbola, waktu dapat terasa bertambah cepat atau malah berjalan lambat, seakan-akan intensitas waktu dapat bergeser.

Kita tak mengalami waktu sebagai sebuah kontinum, melainkan rangkaian intensitas yang berubah-ubah bentuk dan berkembang.

Terkadang ada periode penuh kebosanan total, namun terkadang ada momen waktu seolah berjalan lebih cepat. Anehnya, di dalam sepakbola, waktu menunjukkan bentuknya yang berbeda yaitu: cair.

Keluarga Critchley semuanya berasal dari Liverpool dan karena itu ia adalah penggemar berat klub Liverpool.

Yang menarik adalah sebagai filsuf, ia menulis buku tentang bola, dan yang terbaru terbit akhir 2017 berjudul: What We Think About When We Think About Football.

Baca juga: Peluang Real Madrid Jadi Juara Liga Champions, Satu Nama Tak Boleh Dilupakan

Baca juga: Final Liga Champions, Wagub Sulut Steven Kandouw Jagokan The Reds: Saya Anfield Boys

Dalam bukunya itu, ia berusaha menjabarkan sebuah "puisi baru sepakbola", yaitu cara membincangkan sepakbola yang tidak lebay atau elitis, namun keluar dari perangkap bahasa klise dan retorikal.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved