Opini

UNSRAT DAN TANTANGAN HARI INI

Dalam waktu yang tidak lama lagi Unsrat akan memilih Rektor baru untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari rektor lama

Editor: David_Kusuma
Dokumentasi Pribadi Adi Tucunan
Adi Tucunan (Pengamat Sosial Kemasyarakatan) 

Penulis:

Adi Tucunan (Pengamat Sosial Kemasyarakatan)

DALAM waktu yang tidak lama lagi Unsrat akan memilih Rektor baru untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari rektor lama. Kita berharap suksesi rektor ini tidak dicemari dengan politik praktis dan transaksional lagi, apalagi Unsrat adalah lembaga terhormat tempat orang-orang berpendidikan tinggi yang mampu membedakan yang benar dan salah dengan kapasitas berpikirnya yang secara filosofis bisa mengoreksi tindakan yang salah bukan menjadi bagian dari kekeliruan itu sendiri. Isu yang berkembang saat ini, di mana mereka yang diberikan mandat untuk memilih rektor terlibat dalam ‘money politic’; seharusnya diakhiri dengan para senator bisa mengembalikan moralitas ke tempat yang setinggi-tingginya, agar citra mereka juga terpulihkan.

Tidak boleh dibiarkan nurani dikhianati hanya karena setumpukan rupiah dan janji mendapat posisi jabatan. Konflik kepentingan yang terlalu kuat akan menenggelamkan moralitas dan etika yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap civitas akademika di Unsrat. Kita tidak boleh lagi membiarkan oligarki berkuasa di kampus, di mana permainan bidak yang dimainkan oleh oknum pemerintah daerah yang ingin mengintervensi kalangan cendekia harus segera diakhiri, jika itu masih memungkinkan untuk diperjuangkan.

Unsrat harus bersiap menghadapi tantangan yang jauh lebih sulit di masa depan dan akan memasuki era metaverse, kita sudah harus melihat jauh ke depan, bukan terjebak dengan pragmatisme sempit memperkaya diri sendiri dan mencari jabatan yang tidak amanah.

Hari ini tantangan Unsrat adalah mengalahkan dan berkompetisi dengan dirinya sendiri dan dengan membangun budaya unggul dari semua aspek, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, yang lebih utama adalah moralitas. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa moralitas, akan membawa lebih banyak kehancuran akhlak bagi kita semua.

Kita tidak hanya mengejar pencapaian atau prestasi di atas kertas, dengan membanggakan semua yang dicapai dari aspek akreditasi dan semua ranking yang diperoleh; tapi kita perlu membangun tradisi berpikir yang baik dan bertindak dengan benar. Era digital ada banyak kemudahan sekaligus kesulitan yang kita hadapi, oleh karena itu kita harus membangun budaya dan etos kerja yang kuat, bukan situasional dan kontemporer saja.

Oleh karenanya, warisan yang ada tidak boleh dihancurkan oleh orang luar yang masuk ke Unsrat untuk mempengaruhi independensi para ilmuwan di kampus, mereka tidak berhak mendestruksi nilai dan filosofi Sam Ratulangi Si tou timou tumou tou, karena warisan ini bersifat kekal dalam pandangan futuristik karena kita ingin mencapai kesejahteraan bagi masyarakat Sulut secara keseluruhan dan civitas akademika secara khusus. Kita harus menolak segala bentuk transaksional yang bersifat merugikan bagi Unsrat sendiri dan juga publik karena Unsrat adalah organisasi publik yang tidak boleh dikotori dengan politik praktis. Perilaku machiavellisme tidak boleh hidup di kampus Unsrat dan di mana saja, karena mereka menggunakan segala cara untuk memanipulasi orang demi tujuan mereka yang jahat.

Sebagai orang yang dibesarkan oleh Unsrat, saya menolak semua intervensi politik pemerintah dan pengusaha, yang memiliki tujuan tidak baik di Unsrat dengan mengirimkan badut-badut politik yang akan dikendalikan seperti pion, karena mereka punya kepentingan besar mencari keuntungan di Unsrat.

Mereka tidak membayar anggota senat dengan uang secara gratis. Politik transaksional selalu ada harga yang harus dibayar mahal, yaitu menjual harga diri dan kompetensi serta moral dan ditukar dengan Rupiah dan jabatan. Kalau hal ini terjadi, masa depan Unsrat juga akan dipertaruhkan karena semua kepentingan besar di sektor pembangunan infrastruktur yang melibatkan proyek dan modal besar, akan bermain di sana; oleh karena itu, kita tidak boleh dipimpin oleh pemimpin yang legitimasinya bermasalah karena dikendalikan oleh oligarki kekuasaan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved