Opini

MERITOKRASI VS MONEY POLITIC

Sistem meritokrasi yang seharusnya dijadikan pedoman, nampaknya tidak mendapat tempat terhormat dalam cara kita membangun sistem yang demokratis

Editor: David_Kusuma
Dokumentasi Pribadi Adi Tucunan
Adi Tucunan (Pengamat Sosial Kemasyarakatan) 

Penulis: Adi Tucunan (Pengamat Sosial Kemasyarakatan)

Suksesi Rektor Unsrat telah melewati tahap penetapan 3 calon rektor Unsrat yang terpilih, dengan perolehan suara yang terlihat cukup mencolok perbedaannya. Saya mencoba menulis tulisan ini masih dalam suasana batin yang gelisah melihat rumah sendiri mulai diruntuhkan oleh cara-cara yang menurut saya kurang bermartabat dengan adanya isu money politic yang beredar.

Money politic telah merusak sendi-sendi kita berdemokrasi. Indonesia adalah negara besar yang hampir di semua sistem Trias Politica yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif telah mengalami dakadensi moral yang cukup parah karena money politic yang dijadikan sebagai senjata untuk mendapat maupun melanggengkan kekuasaan.

Sistem meritokrasi yang seharusnya dijadikan pedoman, nampaknya tidak mendapat tempat terhormat dalam cara kita membangun sistem yang demokratis. Memilih berdasarkan kompetensi dan prestasi serta kinerja sebagai bagian dari sistem meritokrasi, hari-hari ini mulai tergeser dengan sistem oligarki yang dikembangkan oleh kalangan yang memainkan politik praktis.

Mereka merasa bahwa merekalah yang memiliki negeri ini, sehingga semuanya harus dikendalikan termasuk dalam institusi pendidikan.

Unsrat yang dibangun selama beberapa tahun terakhir sudah berkembang dengan caranya sendiri dan upaya keras, tidak boleh dihancurkan oleh orang luar yang akan mengendalikan permainan politik praktis di kampus tercinta. Sebagai kalangan intelektual, kita semua harus terpanggil untuk memproteksi moralitas yang ada di perguruan tinggi sekelas Unsrat, agar masih terjaga marwahnya dan dipercayai publik sebagai bagian dari pelayanan kita ke masyarakat.

Kita tidak boleh ‘melacurkan diri’ hanya dengan tumpukan uang bagian dari money politic sehingga menjual harga diri Unsrat di masa depan. Cara-cara yang digunakan dengan menyabotase suara anggota pemilih, untuk berpaling dari hati nurani, adalah cara-cara kaum ‘uneducated’ bukan mereka yang ‘educated’.

Saya tidak dalam posisi sebagai partisan membela kalangan tertentu, tapi saya harus menyuarakan suara kebenaran untuk melindungi tempat terhormat rumah kita bernama Unsrat. Ini bukan tentang siapa yang akan menjadi Rektor, tapi ini tentang proses kita mendapatkan orang terbaik dan layak, bukan dengan cara-cara yang mendegradasi moral kita.

Bagi saya, secemerlang apapun karir akademis seseorang, jika dia menukar self-esteem dengan setumpukan uang dan transaksi jabatan yang diharamkan dalam cara kita mengelola good governance; maka dia sudah kehilangan rasa hormat; sebesar apapun pengaruhnya di dunia pendidikan.

Di tengah-tengah Pemerintah kita yang berupaya membangun good governance di semua sektor pembangunan, termasuk dunia pendidikan. Sudah seharusnya kita membantu pemerintah untuk mengatasi masalah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sangat disayangkan, kalau mereka yang bergelar akademis tinggi tapi tidak menghormati political will yang baik dari pemerintah, untuk mengoreksi segala yang sudah rusak dari negeri ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved