Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel

Kabar Israel, Yerusalem Kembali Mencekam saat Ramadan, Penyebabnya Terungkap

Mengapa Israel meningkatkan keamanan pada bulan puasa umat Islam, dan apa penyebab Yerusalem mencekam saat Ramadan?

Tayang:
Editor: Frandi Piring
AFP
Kabar Israel, Yerusalem Kembali Mencekam saat Ramadan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seusai peristiwa tewasnya 11 orang dalam serentetan serangan yang beberapa di antaranya terkait dengan kelompok ISIS, Israel menempatkan pasukannya dalam siaga tinggi untuk Ramadan sejak akhir pekan lalu.

Lantas, mengapa Israel meningkatkan keamanan pada bulan puasa umat Islam, dan apa penyebab Yerusalem mencekam saat Ramadan?

Berikut penjelasannya yang dikutip dari AFP pada Rabu (6/4/2022).

1. Mengapa Yerusalem penting?

Setiap malam selama Ramadhan, ribuan umat Muslim berkumpul untuk shalat di masjid Al-Aqsa, Yerusalem timur.

Al-Aqsa--yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount--terletak di Kota Tua Yerusalem, terutama timur Palestina.

Situs tersuci ketiga dalam Islam itu adalah titik utama dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung lama dan sering menjadi tempat bentrokan.

Tahun lalu, demonstrasi malam di Yerusalem dan kompleks Al-Aqsa meningkat menjadi perang 11 hari antara Israel dan Hamas, gerakan yang menguasai Jalur Gaza.

Sementara itu, demonstrasi yang berujung kekerasan telah menyebabkan puluhan orang terluka selama Ramadhan tahun ini.

Pada Selasa (5/4/2022), Perdana Menteri Israel Naftali Bennett saat mengunjungi Tepi Barat mengatakan, Israel "mencegah lebih dari 15 serangan serius ...

melakukan 207 penangkapan, dan menginterogasi 400 tersangka yang berhubungan dengan ISIS."

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz melalui telepon mengatakan kepada Presiden Palestina Mahmud Abbas, "Ramadhan harus menjadi bulan damai dan tenang dan bukan periode yang ditandai dengan teror."

2. Apa yang menjadi kerugian Hamas?

Jumlah serangan roket dari Gaza menurun drastis sejak akhir perang tahun lalu.

Israel pekan lalu mengumumkan peningkatan izin kerja dari 12.000 menjadi 20.000, dengan harapan dapat menghidupkan kembali Gaza dan menghalangi Hamas dari konfrontasi lain.

Mereka juga memperluas zona penangkapan ikan yang diizinkan di daerah kantong itu.

"Kemampuan kami untuk menerapkan langkah-langkah ini sekarang terancam oleh terorisme, dan kami hanya akan menerapkannya jika situasi keamanan kembali stabil," kata Gantz.

Hamas memiliki banyak kerugian jika terjadi eskalasi, kata salah satu sumber keamanan Israel kepada AFP.

“Hamas menghadapi dilema yang cukup besar karena para pekerja datang ke Israel, zona penangkapan ikan diperluas, dan mereka menderita kerugian besar tahun lalu sehingga penduduk Gaza khawatir akan penderitaan lagi. Ini mungkin bertindak sebagai pencegahan."

"Saya tidak melihat keinginan Hamas untuk berkonfrontasi sekarang, tetapi PIJ adalah faktor yang tidak terduga," kata sumber itu, merujuk pada Jihad Islam, kelompok militan lain yang berbasis di Gaza.

"Saya lebih percaya diri dalam upaya Hamas untuk menghindari eskalasi daripada PIJ," tambah sumber itu.

3. Mengapa sorotan tertuju ke kelompok Jihad Islam?

Setelah serangan di dekat Tel Aviv, pasukan Israel melakukan operasi di dalam dan sekitar Jenin, kota di Tepi Barat utara tempat penyerang berasal.

Setidaknya tiga anggota Jihad Islam tewas dalam serangan itu.

Kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teror oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa serta memiliki ribuan pendukung di Gaza dan Tepi Barat.

Pejabat keamanan Israel menganggapnya dekat dengan Iran.

Jika Israel melakukan operasi baru, "itu dapat menyebabkan eskalasi militer, terutama dengan Jihad Islam", kata Mukhaimer Abu Saada profesor ilmu politik di Universitas Al-Azhar Gaza.

"Tapi saya yakin itu akan menjadi sedikit eskalasi karena Hamas tidak menginginkan konfrontasi baru," tambahnya.

4. Apa kaitannya dengan Yordania?

Dalam seminggu terakhir, Presiden Israel dan Menteri Pertahanan Israel mengunjungi Yordania untuk berbicara dengan Raja Abdullah II,

yang juga berbicara di telepon dengan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett.

Menjelang Ramadhan, Abdullah mengunjungi Ramallah pusat Otoritas Palestina untuk kali pertama dalam lima tahun guna melakukan pembicaraan dengan Abbas.

Yordania menduduki Yerusalem Timur sebelum direbut oleh Israel pada 1967, dan masih ditugasi mengelola situs-situs suci Muslim di Kota Tua seperti kompleks Al-Aqsa.

Namun, akses ke situs-situs tersebut dikendalikan oleh Israel. Pertukaran diplomatik baru-baru ini merupakan upaya

untuk menjamin kebebasan beribadah sekaligus mencegah situasi memanas seperti tahun lalu.
(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved