Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

RHK Jumat 1 April 2022

BACAAN ALKITAB Markus 6:24-25 - Tabula Rasa

Bukan setengah kerajaan, bukan kekayaan, bukan kedudukan yang dipilih Salome, si penari anak Herodias, ketika ditanya Herodes hadiah apa

Editor: Aswin_Lumintang
Tribun Manado/Indra Sudrajat
Bacaan Alkitab 

  Markus 6:24-25
TRIBUNMANADO.CO.ID - Bukan setengah kerajaan, bukan kekayaan, bukan kedudukan yang dipilih Salome, si penari anak Herodias, ketika ditanya Herodes hadiah apa yang dia pilih karena telah memukau dan menyenangkan Herodes dan pembesar lainnya. Dia memilih kepala Yohanes pembaptis yang di penggal di atas talam.

Anak perempuan Filipus (bukan Stefanus) saudara Herodes itu, memilih kepala Yohanes sesuai dengan permintaan ibunya. Sebab ia sangat taat kepada ibunya, sehingga tidak memilih kekayaan dan kehormatan tapi kepala manusia. Begitu polosnya dan tanpa beban, si anak mengatakan bahwa dia memilih kepala Yohanes pembaptis.

Alkitab Versi King James Version
Alkitab Versi King James Version (Istimewa)

Salahkah si anak yang spontan menjawab sesuai permintaan yang melahirkan dan membesarkannya? Bisa yah, bisa tidak. Sebab sang anak justeru melakukan itu dalam ketaatan kepada orang tua. Dia hanya melakukan "kewajiban domestik" keluarga yang setia dan dengar-dengaran kepada ibunya.

Jadi sesungguhnya, kesalahan sepenuhnya ada pada sang ibu yang membuat skenario perangkap mematikan kepada Yohanes. Itulah siasat jahat "Pelakor' (perebut laki orang), yakni Herodias, ibu Salome.

Demikian firman Tuhan haru inj.
  "Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
  Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" (ay 24, 25)

Sesungguhnya apa yang dilakukan Salome itu seperti teori _Tabula Rasa_ (bahasa Latin yang dikemukakan oleh John Locke pada tahun 1690. Dalam bukunya berjudul _"An Essay Concerning Human Understanding."_

Teori Tabula Rasa (kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan. Masih kosong seperti kertas tanpa tulisan atau coretan apapun. Artinya seluruh sumber pengetahuan si anak, diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya. Jadi membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya.

Itulah peran domestik keluarga, dalam hal ini orangtua dan orang dewasa lainnya di rumah. Dalam kisah keji terhadap Yohanes Pembaptis, yang mengisi "kertas kosong" Salome adalah, ibunya Herodias.

Doktrin yang diitanamkan dan diajarkan oleh ibunya, terpatri dan tertanam dalam hati dan pikiran Salome. Sehingga membunuh orang baginya adalah hal wajar dan biasa saja, sebagai wujud loyalitas dan ketaatannya kepada "penulis" kehidupan kertas kosongnya itu.

Jadi, siapakah yang salah? Pantaskah kita menyalahkan si anak saja? Tentu tidak. Sang "penulis" dan "sutradaralah" yang paling bertanggungjawab, yakni Herodias. Sebab dia yang merancangkan semua itu termasuk yang membentuk kepribadian anaknya demikian.

Sahabat Kristus, di hidup kita dalam kekinian, terkadang kita sebagai orangtua salah dalam mendidik anak. Namun juga sering terjadi sebaliknya, orangtua sudah berusaha mengisi kertas kosong si anak, tapi karena ada "penulis" lain yang lebih dominan di luar rumah, maka si anak menerima juga "tulisan" dari luar sehingga memengaruhi kepribadiannya.

Maka adalah peran orangtua yang sangat penting dalam kehidupan keluarga untuk mengarahkan anak kita loyal dan taat kepada Tuhan, seperti orangtuanya. Artinya sebelum mendidik anak, pertama-tama kita harus mendidik diri kita sendiri.

Maksudnya, marilah kita mendidik dan mengisi kekosongan kehidupan anak dalam keteladanan, sesuai firman Tuhan. Jika hidup kita baik, pasti memengaruhi sikap, kepribadian dan prilaku hidup anak-anak atau orang-orang di sekitar kita. Sehingga tulisan kita kepada mereka, benar-benar membangun hidup mereka di dalam Tuhan.

Jadilah kita teladan dalam menulis kehidupan orang-orang di sekitar kita sebagai wujud tanggungjawab sosial tapi juga secara domestik dalam keluarga kita. Agar hidup kita terus jadi berkat bagi banyak orang. Amin

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami jadi teladan bagi banyak orang dalam kebaikan dan kasih agar jadi berkat bagi sesama. Amin

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved