Opini

DEMOCRACY HACKED (Pembajakan Demokrasi)

Momen demokrasi yang mewarnai salah satu even di gereja terbesar di Indonesia yaitu GMIM beberapa hari terakhir menjadi fokus seluruh umat Kristen

Editor: David_Kusuma
ISTIMEWA
Adi Tucunan 

Penulis : Adi Tucunan (Pengamat Sosial)

TRIBUNMANADO - Momen demokrasi yang mewarnai salah satu even di gereja terbesar di Indonesia yaitu GMIM beberapa hari terakhir menjadi fokus seluruh umat Kristen di tanah Minahasa, bukan saja karena sukses terpilihnya figur-figur yang menduduki posisi penting dalam jabatan strategis gereja, tapi lebih kepada ada banyak intrik politik yang memainkan peran siginifikan di sana.

Bagaimana politik secara khusus politik praktis berperan dalam gereja? Kedekatan pemimpin gereja dan Pemimpin politik di pemerintahan adalah sebuah konspirasi yang tidak bisa dibendung; sudah bukan rahasia lagi even ini dapat dijadikan abuse of power dalam sebuah permainan tingkat tinggi yang dilakukan oleh kalangan elit di pemerintahan dan gereja.

Dalam sebuah buku berjudul Democracy Hacked yang ditulis oleh Martin Moore di tahun 2018, disebutkan bahwa demokrasi sedang dipermainkan, dan elit memainkan uang dan dunia digital dieksploitasi sedemikian rupa; dan ini dianggap sebagai upaya mendegradasi demokrasi kita.

Bagaimana tidak? Seharusnya demokrasi dijalankan dengan cara yang bermartabat yaitu sesuai maknanya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat; saat ini dimanipulasi sedemikian rupa dengan menggunakan otoritas kekuasaan untuk memanipulasi suara rakyat. Pemimpin dipilih hanya secara formalitas karena pemilih diarahkan untuk memilih orang tertentu yang sudah dikehendaki, karena memang ada kedekatan baik itu dari aspek kekeluargaan, kedekatan personal dan sebagainya.

Pesta demokrasi dalam lingkup gerejawi, dijadikan momen permainan politik praktis yang kental; artinya gereja bisa dikatakan terkontaminasi dengan pragmatisme yang sempit dalam memilih pemimpinnya. Apa bahayanya bagi gereja? Gereja yang dimpimpin oleh mereka yang hanya menjalankan organisasi bukan secara teologis tapi organisasi dunia, akan terjadi pembusukan moral dari dalam gereja itu sendiri.

Tidak heran dalam kepemipinan sebelumnya, ada banyak persoalan gereja yang tidak bisa ditangani mulai dari konflik internal sesama hamba Tuhan, kualitas pendidikan yang kurang baik, pertikaian sesama saudara, kesewenangan dalam mengambil alih pelayanan kesehatan, gereja menjalankan bisnis dan lebih sering memikirkan sentralisasi keuangan dan banyak masalah lainnya. Kegagalan pemimpin gereja yang seolah ditutupi dan tidak ada pertobatan dalam gereja akan melahirkan pendangkalan iman pemimpin dan jemaat bukannya pertumbuhan.

Banyak figur di Pemerintahan yang terpilih menjadi Pelayan khusus karena conflict of interest yang terlalu kuat; gereja menunggangi pemerintah dan sebaliknya juga pemerintah menunggangi gereja. Ini bukan hal sepele dan dianggap biasa saja. Karena jika pelayanan khusus dalam menjalankan pemerintahan dia melakukan tindakan yang jahat di mata Tuhan seperti korupsi, gereja akan disoroti dan menjadi batu sandungan bagi Tuhannya.

Mengapa demokrasi dibajak dengan permainan kekuasaan yang tinggi, tapi terlihat tidak elegan? Karena seharusnya model pemilihan diserahkan kepada logika dan nurani setiap pemilih sebagai hak konstitusional warga gereja untuk memilih pemimpinnya, tapi di sana ada game yang dimainkan dengan pola membajak suara dalam kampanye terselubung, bukan atas dasar kompetensi tapi personalitas.

Saya berpikir bahwa wibawa gereja sudah mulai runtuh karena warisan kepemimpinan yang kacau dan tidak mau melakukan reformasi. Mereka yang melawan otoritas akan disingkirkan dengan cara-cara yang tidak wajar, dan barangkali saja jemaat sudah mulai muak dengan cara-cara seperti ini tapi tidak berdaya melakukan koreksi, sedangkan banyak hamba Tuhan tidak lagi menjadi hamba Tuhan tapi hamba bagi dirinya sendiri dan manusia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved