Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Nasional

Masih Ingat Wiranto? Ajudan Soeharto yang Pernah jadi Kasad TNI, Pernah Ditusuk Orang Tak Dikenal

Seusai menjabat sebagai Pangkostrad, Wiranto menempati jabatan sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

Editor: Rhendi Umar
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Wiranto saat pelantikan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/12/2019). Presiden resmi melantik sembilan orang Wantimpres periode 2019-2024. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Masih ingat dengan Wiranto?

Dia adalah mantan ajudan Presiden Soeharto (1987-1991).

Wiranto juga pernah ditunjuk sebagai Pangdam Jaya.

Lalu, ia pernah menempati jabatan sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat ( Pangkostrad).

Seusai menjabat sebagai Pangkostrad, Wiranto menempati jabatan sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

Wiranto
Wiranto (Istimewa Via WartaKotaLive.com)

Lepas dari jabatannya sebagai Kasad, Wiranto ditunjuk Soeharto menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Maret 1998.

Wiranto pernah ditusuk oleh orang tak dikenal di Lapangan Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pelaku berinisial SA (51) dan FA merupakan pasangan suami istri.

Pelaku SA menusuk Wiranto menggunakan senjata tajam di bagian perut.

Wiranto pun terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

Kehidupan Wiranto

Wiranto dilahirkan di Yogyakarta pada 4 April 1957 dari pasangan suami istri RS Wirowijoto dan Suwarsih.

Wiranto merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara.

Ketika bayi, Wiranto harus pindah bersama keluarganya ke Surakarta karena agresi militer Belanda yang menyerang Yogyakarta.

Wiranto menikah seorang perempuan bernama Rugiya Usman.

Pernikahan tersebut, Wiranto dikaruniai tiga orang anak yaitu Amalia Santi, Ika Mayasari, dan Zainal Nur Rizky.

Namun putra ketiga Wiranto ini meninggal dunia ketika tengah menuntut ilmu di Afrika Selatan karena sakit pada tahun 2013.

Riwayat Pendidikan

Lulus dari SMA Negeri 4 Surakarta, Wiranto melanjutkan pendidikannya di sekolah militer, yaitu Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang sampai tahun 1968.

Lulus dari AMN, Wiranto fokus dengan kariernya di dunia militer.

Baru setelah menjelang penghujung kariernya di militer, pada tahun 1995 Wiranto melanjutkan pendidikannya di Universitas Terbuka mengambil Jurusan Administrasi Negara.

Setahun berikutnya, pada 1996, Wiranto pindah ke Perguruan Tinggi Ilmu Hukum Militer dan berhasil mendapat gelar sarjananya.

Wiranto kembali melanjutkan studinya dengan mengambil program magiste di STIE IPWIJA mengambil jurusan manajemen.

Wiranto pun berhasil meraih gelar magisternya tersebut pada tahun 2006.

Wiranto kembali melanjutkan kuliahnya dengan mengambil program doktoral bidang Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang selesai pada tahun 2013. (2)

Wiranto juga berkarier di dunia bisnis. Salah satu bisnis yang ia jalani adalah ketika ia menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Ujung Genteng Indonesia (UGI) yang bergerak di bidang properti pada tahun 2004.

Riwayat Karier

Wiranto mulai merintis kariernya di bidang militer setelah ia lulus dari AMN pada tahun 1968 di Korps Kecabangan Infanteri.

Kariernya perlahan terus merangkak, mulai naik pada tahun 1983 sebagai Karoteknik Ditbang Pussentif.

Setahun berikutnya Wiranto diangkat menjadi Kadep Milnik Pussentif, lalu menjadi kasbrigif-9 Kostrad, Maasops Kas Kostrad, serta Asops Kasdivif-2 Kostrad pada tahun 1988.

Namanya mulai diperhitungkan ketika Wiranto dipilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1989 sampai 1993.

Kariernya terus naik ketika ia didapuk sebagai Kasdam Jaya pada tahun 1993 sampai 1994 sebelum akhirnya diangkat sebagai Pandam Jaya dari tahun 1994 sampai 1996.

Pada tahun 1996, Wiranto diangkat menjadi Pangkostrad sampai 1997 dan kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sejak 1997 sampai 1998.

Soeharto dan <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/wiranto' title='Wiranto'>Wiranto</a>
Soeharto dan Wiranto (istimewa)

Puncak kariernya dimiliter adalah ketika Wiranto diangkat menjadi Panglima ABRI oleh Presiden Soeharto pada tahun 1998 dan menjabat sampai tahun 1999.

Pasca gulingnya Presiden Soeharto, Wiranto kemudian diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan Kabinet Reformasi dan menjabat sejak 1998 sampai 1999.

Di era Presiden Abdurrahman Wahid, namanya kembali mengisi kursi kabinet. Wiranto ditunjuk kembali oleh Presiden Abdurrahman Wahid untuk menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

Namun di tengah masa jabatannya, Wiranto kemudian dinonaktifkan karena kasus pelanggaran HAM di Timor Timur pada tahun 1999 yang melibatkan dirinya.

Wiranto bersama lima perwira lain didakwa oleh pengadilan PBB terlibat dalam kekerasan yang menyebabkan 1.500 warga Timor Timur itu tewas.

Namun pengadilan HAM Indonesia menolak keputusan tersebut dan melakukan penyelidikan terhadap perwira dan aparat yang diduga terlibat.

Penolakan tersebut dianggap sebuah pelecehan dan membuat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat marah, akhirnya Wiranto beserta temannya dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat. (4)

Meski begitu, Wiranto tetap berkarier di dunia politik.

Pada tahun 2004, Wiranto bahkan maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Salahudin Wahid setelah memenangkan konvensi capres yang digelar oleh Partai Golkar.

Namun dalam pemilu ini Wiranto kalah dan harus mengakui keunggulan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang kemudian menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.

Wiranto tidak putus asa, setelah mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada tahun 2006, ia kembali maju dalam Pemilu 2009 mewakili Jusuf Kalla.

Lagi-lagi harapannya kandas, lagi-lagi Wiranto kembali harus mengakui kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono yang dalam Pemilu 2009 berpasangan dengan Boediono.

Wiranto kemudian fokus untuk membesarkan partai politik bentukannya.

Pada tahun 2013, Wiranto kembali mendeklarasikan diri sebagai calon presiden berpasangan dengan pemilik MNC Grup, Harry Tanoe Soedibjo.

Namun keduanya gagal maju dan harus berpisah karena suara yang diraih oleh Partai Hanura tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan presiden.

Sedangkan partai lain tidak ada yang memberikan dukungan kepada pasangan tersebut.

Akhirnya Wiranto merapat ke kubu Joko Widodo untuk melawan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014.

Joko Widodo kemudian mengangkat Wiranto sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dalam reshuffle kabinet yang dilakukan Jokowi.

Wiranto menggantikan posisi Luhut Binsar Panjaitan yang kemudian diangkat oleh Joko Widodo sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman.

Karya dan Penghargaan

Bersaksi di Tengah Badai Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta. ISBN 979-96845-I-X

Meluruskan Jalan Demokrasi Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta.

Meretas Jalan Baru Ekonomi Indonesia Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta.

Penghargaan

Bintang Mahaputera Adipradana

Bintang Yudha Dharma Utama

Bintang Veteran Timtim

Bintang Kartika Paksi Pratama

Bintang Kartika Paksi Eka Nararya

Bintang Yudha Dharma Pratama

Bintang Yudha Nararya

Bintang Dharma

Satya Lencana Penegak G.30.S./PKI

Satya Lencana Operasi Seroja

Satya Lencana Dwidya Sistha

Satya Lencana Prajurit Setia 24 Tahun

Medali Wira Karya

Wira Karya Kencana

Bintang Pingat Jasa Cemerlang oleh Pemerintah Singapura (saat menjabat KSAD)

Penghargaan dari Perintah Spanyol, Austria, Belanda, dan Malaysia

Darjah Paduka Keberanian Laila Terbilang dari Pemerintah Brunei Darussalam (saat menjabat Pangab/Menhankam)

Gelar Tan Sri dari Pemerintah Singapura

Gelar Kanjeng Pangeran (KP) dari Keraton Kasunanan Surakarta (2003) (*)

SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUNMANADO OFFICIAL:

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved