Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Guru di Pedalaman Papua

Asa Refol Malimpu, Guru yang Mengabdi di Pedalaman Papua, 'Anak-anak Papua Juga Punya Mimpi'

"Delapan tahun lalu ketika saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan zona aman. Meninggalkan kehidupan di kota yang serba ada"

Editor: Finneke Wolajan
Istimewa
Refol Malimpu guru yang mengabdi di pedalaman Papua 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Asa seorang Refol Malimpu, SPd Gr, untuk Papua yang lebih baik.

Refol Malimpu adalah soerang Guru di Pedalaman Papua

Ia rela mengubur dalam-dalam mimpinya untuk melanjutkan studi pascasarjananya di Perancis.

Papua menjadi pilihan hidup Alumnus Pendidikan Profesi Guru ( PPG ) Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal ( SM3T ) angkatan 3 LPTK Universitas Negeri Manado ini untuk mengabdikan diri.

Kini Refol Malimpu telah membangun Taman Baca untuk anak-anak di Distrik Kembu Kabupaten Tolikara Papua

Berikut surat pembaca yang dikirimkan Refol Malimpu kepada tribunmanado.co.di Senin (24/1/2022):

Refol Mengubur Mimpi S2 di Perancis, Alumnus <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/ppg' title='PPG'>PPG</a> <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/sm3t' title='SM3T'>SM3T</a> Unima Ini Memilih Mengabdi di Pedalaman <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/papua' title='Papua'>Papua</a>
Refol Malimpu dan anak-anak didiknya (Istimewa)

Baca juga: Refol Mengubur Mimpi S2 di Perancis, Alumnus PPG SM3T Unima Ini Memilih Mengabdi di Pedalaman Papua

Baca juga: Kisah Guru di Pedalaman Papua, Terpencil Bukan Berarti tak Berkembang

Saya tidak pernah melupakan alasan saya untuk berada di pedalaman Papua.

Selama delapan tahun saya senang menghabiskan waktu menghitung-hitung berapa banyak hal-hal baik yang dapat saya lakukan untuk anak-anak pedalaman.

Saya tidak pernah merasa keren atau bahkan hebat.

Saya hanya punya sedikit keberanian untuk memilih jalan yang sunyi dan mengabdi di pedalaman.

Beberapa kali saat saya makan bersama anak-anak didik saya, saya senang melihat betapa lahapnya mereka makan.

Saya tahu bagi mereka makan nasi dengan sepotong ikan atau sebutir telur ayam merupakan hal yang mewah bagi mereka.

Di waktu yang bersamaan saya bermain dengan imajinasi.

Membayangkan bagaimana anak-anak ini di dua puluh tahun kelak.

Distrik Kembu walau sudah ada jalan tembus dari kota, walau pesawat sering keluar masuk, walau rumah mulai ramai, sejatinya Kembu masih tetap menjadi distrik yang merana.

Hanyalah kampung kecil di pulau yang sangat besar.

Kisah <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/guru-di-pedalaman-papua' title='Guru di Pedalaman Papua'>Guru di Pedalaman Papua</a>, Terpencil Bukan Berarti tak Berkembang
Refol Malimpu dan anak-anak didiknya (Istimewa)

Siapa yang pernah dengar Kembu? Ada berapa banyak orang di luar sana yang membicarakan tentang Kembu?

Delapan tahun lalu ketika saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan zona aman.

Meninggalkan kehidupan di kota yang serba ada.

Saya merasa seperti anak kecil yang berlarian sendiri keluar rumah dan berada di tengah jalan yang ramai.

Mendengar teriakan orang-orang yang menyuruh pulang.

Walau saat itu kecemasan menyelimuti, tetap hati saya penasaran dengan kehidupan yang ada di seberang sana.

Di tanah Papua.

Kini, setelah bertahun-tahun berada disini saya merasa lega karena menyadari bahwa saya dapat bermanfaat bagi orang-orang disini terlebih anak-anak.

Walau sering  ketidakadilan saya alami, saya tidak membiarkan pikiran negatif mengendalikan semangat saya.

Setiap hari senin sampai jumat saya mengajar di sekolah.


Refol Malimpu dan anak-anak didiknya (Istimewa)

Sore harinya saya sempatkan waktu untuk membimbing anak-anak di taman baca yang saya dirikan.

Hari sabtu saya mengunjungi lansia.

Berbagi berkat jasmani dan rohani bersama mereka.

Biasanya dalam kunjungan saya ke rumah-rumah lansia, saya manfaatkan juga untuk belajar bahasa daerah.

Dan hari minggu saya ikut melayani di gereja.

Ratusan bahkan ribuan anak-anak yang ada di pedalaman ini yang perlu dibimbing dan didampingi.

Jika anak-anak di luar sana punya mimpi, anak-anak pedalaman Papua juga punya mimpi.

Semua orang pasti setuju bahwa pendidikan adalah cara bagi anak-anak untuk meraih mimpi dan mendapatkan hidup yang lebih baik.

Sayangnya di pedalaman keinginan anak-anak untuk belajar di sekolah tidak selalu dapat diwujudkan.

Masih banyak orang tua yang belum sadar betapa pentingnya menyekolakan anak-anak.

Belum lagi kita menghadapi ketimpangan antara keinginan untuk belajar dan kurangnya materi dan fasilitas pembelajaran.

Dalam menghadapi kondisi di mana orang tua masih belum sepenuhnya sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka, tidak jarang saya haris  berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk bicara dengan mereka.

Ada beberapa kasus di mana anak-anak harus membantu orangtua di kebun agar bisa makan.

Kalau seperti ini, saya akan menawarkan untuk tetap ke sekolah dan makan di rumah saya.

Nanti sepulang sekolah baru bantu orang tua.

Sejak tahun 2017, untuk menjawab kekurangan fasilitas pembelajaran di sekolah, saya mendirikan sebuah taman baca.

Lewat taman baca saya aktif mengkampanyekan kebutuhan fasilitas belajar.

Saya bersyukur sejak saat itu ada orang-orang yang terus setia mendukung kegiatan-kegiatan saya disini.

Sejak saya putuskan untuk mengabdi di pedalaman, tak sedikitpun saya sia-siakan waktu untuk melakukan hal-hal baik untuk kemaslahatan masyarakat di sini.

Saya merasa senang, sebagai orang dari luar Papua yang berada di kampung kecil ini untuk alasan yang positif. (*)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved