Opini

Sudut Pandang HAM Menyuburkan Terorisme?

Indonesia sebagai negara hukum berkewajiban untuk menghormati, menjunjung tinggi dan melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) yang dijamin oleh konstitusi

Editor: Chintya Rantung
Dokumentasi Pribadi
Ayi Satria, Mahasiswa Program Studi Pascasarjana Doktor STIK PTIK. 

Aksi teror Bom Bali saat itu begitu terasa bagi Negara Indonesia yang tentunya berdampak bagi sektor ekonomi yang menyebabkan turunnya minat melancong ke Indonesia (sektor bisnis pariwisata) akibat krisis kepercayaan dunia internasional.

Tidak hanya itu, di saat pemerintah sedang berusaha memperbaiki kerusakan akibat Bom Bali I tidak disangka mereka melancarkan serangan teror lagi yaitu Bom Bali II yang akhirnya membuat sektor bisnis pariwisata di Bali menjadi sepi dan kacau sekali.

Hal tersebut tentunya memicu kekhawatiran para turis dan wisatawan untuk datang kembali ke Bali.

Serangan teroris ini berlanjut terus hingga aksi Amaliyah yang terang-terangan menyerang pos polisi dikawasan MH Thamrin pada awal Januari 2016.

Kegiatan teroris yang berujung dengan kekerasan tidak terlepas dari radikalisme yaitu suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkir balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan, tampaknya tidak akan berakhir bahkan makin meningkat.

Hal ini terlihat dari penangkapan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia Ustadz Farid Ahmad Okbah pada Tanggal 16 November 2021 yang diduga berafiliasi dengan jaringan Jamaah Islamiyah dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Ia didakwa melanggar Pasal 15 jo Pasal 7 Undang-undang No.5 Tahun 2018 Tentang perubahan atas Undang-undang No. 15 Tahun 2003 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Dalam rangka menghadapi berbagai kasus terorisme di Indonesia, sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, misalnya melalui pencegahan (soft) dan penanggulangan (hard).

Namun karena aksi terorisme ini merupakan gerakan dalam bentuk jaringan kelompok yang mana gerakan terorisme bukan hanya gerakan lokal tapi sudah menjadi gerakan internasional yang mengglobal dengan cara-cara aksi-aksi terorisme yang canggih dengan menggunakan teknologi modern yang dilakukan dengan jaringan internasional yang rapih sebagai faktor teknis dan faktor psikologis dimana latar belakang gerakan teroris di Indonesia adalah ideologi Islam [3] maka membuat upaya pencegahan dan penanggulangan ini beberapa diantaranya masih menemukan hambatan.

Hal ini didukung oleh pemberlakuan syariat di bawah suatu “kekhalifahan” global.[4]

Aksi terorisme dan gerakan radikal lainnya, yang mendasari aksi-aksi kekerasan adalah pandangan tentang mati syahid dalam kerangka menegakkan ajaran Tuhan.

Isu terorisme banyak dikaitkan dengan gagasan ideologis dan teologis Wahabi dan Al Qaeda dengan berbagai aksi bom syahidnya.

Tindakan pengeboman diyakini sebagai tindakan syahid yang diganjar surga dan disambut malaikat dengan sejumlah bidadari.

Islam sebagai sistem yang sempurna dan eksklusif terletak dalam kenyataan bahwa Agama Islam sebagaimana dikatakan Bernard Lewis, mengatur seluruh aspek kehidupan seorang muslim.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved