Breaking News
Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gunung Semeru Erupsi

Cerita Wanita Hamil 9 Bulan Lari Selamatkan Diri Dikejar Awan Panas Erupsi Semeru, Begini Kondisinya

Wanita muda yang sedang hamil 9 bulan. Ia berlari sejauh belasan kilometer meski sudah hampir waktu melahirkan.

Editor: Frandi Piring
Tribun Jatim
Ayu Ningsih, Ibu Hamil 9 Bulan yang Lari Selamatkan Diri Dikejar Awan Panas Erupsi Semeru. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cerita wanita hamil 9 bulan saat menyelamatkan diri dari terjangan awan asap panas Gunung Semeru.

Diketahui erupsi Gunung Semeru kembali dirasakan warga Dusun Curah Kobokan dan Dusun Kajar Kuning, Desa Supiturang, Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Minggu (5/12/2021) sekira pukul 09.54 WIB.

Situasi mencekam membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri diri.

Termasuk wanita muda yang sedang hamil 9 bulan. Ia berlari meski sudah jelang persalinan.

Pagi itu, langit tiba-tiba mendung dan terlihat menutupi puncak Gunung Semeru.

Tak lama kemudian turun hujan abu dengan intensitas sedang pun turun.

Merasakan tanda erupsi itu, petugas gabungan di lapangan meminta warga untuk cepat meninggalkan dusun.

"Gunung Semeru erupsi kembali. Warga panik berlarian keluar rumah," kata, seorang warga Nijah (57).

Warga mayoritas menyelamatkan diri dengan kendaraannya masing-masing.

Mereka memacu kencang kendaraannya khawatir awan panas guguran kembali menyapu dusun.

Warga lain, ikut menumpang mobil evakuasi milik polisi, TNI, relawan dan ambulans puskesmas setempat.

Nijah bersama empat anggota keluarganya menumpang mobil ambulans.

Nijah dibawa ke tempat pengungsian Balai Desa Penanggal.

Turun dari mobil, tangis keluarga Nijah pecah.

Sebab, satu keluarganya, yakni Tomo (30) masih berada di hutan bambu setempat yang letaknya cukup terpencil.

"Satu keluarga kami masih berada di atas," ungkapnya sembari terisak.

Warga lain, Fauzi (43) merasakan hal serupa.

Dirinya panik ketika hujan abu turun.

Ia cepat-cepat berkemas dan menyelamatkan diri dengan kendaraannya.

"Gunung Semeru sempat erupsi lagi, warga panik berlarian menyelamatkan diri," katanya.

Saat menyelamatkan diri, beberapa warga tampak berlinang air mata.

Mereka mengingat kejadian erupsi Gunung Semeru, kemarin Sabtu (4/12/2021).

Mereka trauma karena sebagian keluarganya mengalami luka bakar dan meninggal dunia.

Selain itu, arus lalu lintas juga sempat tersendat akibat banyaknya kendaraan turun menuju pengungsian.

13 orang meninggal dunia

BNPB mencatat hingga Minggu (5/12/2021) pagi ada 13 orang meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru.

Hal tersebut dikatakan Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatin BNPB Abdul Muhari.

Dari 13 korban jiwa tersebut, baru dua jenazah yang berhasil diidentifikasi.

Mereka adalah Poniyem 50 tahun, dari Curah Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, dan Pawon Riyono.

"Jadi 13 orang korban ini merupakan update langsung dari lapangan dari Bapak Kepala BNPB," ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Beberapa korban alami luka bakar

Terdapat beberapa korban yang mengalami luka bakar di tubuhnya, akibat terkena lahar panas.

Para korban yakni sejumlah penambang pasir di Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.

Seusai Gunung Semeru erupsi, lahar panas pun menuju ke areal pertambangan, hingga membuat mereka terlambat menyelamatkan diri.

"Sementara belum terdeteksi ada berapa jumlah warga sini yang terluka. Tetapi ada tiga warga dengan kulit terkena lahar panas. Mereka sopir dari luar desa," ujar Sekretaris Desa Sumberwuluh, Samsul arifin.

Dikuti dari TribunJatim.com, Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah.

Sebab, abu vulkanik dari erupsi Gunung Semeru menutupi hampir semua dusun yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari jalur lahar panas.

"Sekarang warga ngungsi di balai desa, sedangkan yang kena luka bakar langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan," ujarnya.

Selain itu, dikabarkan pula di Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh dikabarkan banyak warga terisolasi.

Sebab, abu vulkanik telah hampir memadati dusun tersebut.

Kisah ibu hamil 9 bulan lari belsan kilometer

Kisah menakjubkan sekaligus mendebarkan yang dialami oleh Ayuningsih (23) warga Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Ayu yang tengah mengandung berhasil selamat dari sapuan awan panas guguran Gunung Semeru, Sabtu (4/12).

Ayu menceritakan ia lolos dari maut bukan karena dibonceng menggunakan motor sama suaminya Mohamad Nur Efendy (23).

Saking paniknya, Ayu menyelamatkan diri dengan cara berlari sembari dipapah.

Ia berlari belasan kilometer hingga sampai ke tempat aman.

"Usia kehamilan saya sembilan bulan. Saya tak memikirkan apa-apa, pokonya saya, anak yang dikandung, dan suami selamat," katanya, Senin (6/12).

Selama berlari ia merasakan nyeri pada perutnya.

Selain itu, kakinya sempat terinjak-injak warga lain saat berlari hingga lecet.

"Alhamdulilah tak ada masalah pada janin. Janin yang saya kandung sehat.

Saya langsung mendapat pemeriksaan kandungan dan penanganan di Puskesmas Penanggal usai lolos dari awan panas," ungkapnya.

Harta benda Ayu rusak tak bersisa dihempas awan panas.

Sedang, Ayu diperkirakan dalam waktu dekat akan melahirkan.

"Semoga ada yang membantu biaya persalinan. Karena tidak ada harta benda benda, termasuk uang yang bisa diselamatkan," harapnya.

Sementara, petugas piket Pos Kesehatan di Puskesmas Penanggal, Suwarno menyebut janin yang dikandung Ayu dalam kondisi sehat.

Setiap hari, kondisi kesehatan janin dan Ayu rutin dipantau bidan.

"Nanti, untuk persalinannya, dilakukan di RSUD Pasirian atau RSUD Haryoto Lumajang. Karena peralatannya lebih lengkap," pungkasnya.

Kisah yang sama juga diceritakan Ayuningsih (23) warga Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Ayu yang tengah mengandung berhasil selamat dari sapuan awan panas guguran Gunung Semeru, Sabtu (4/12).

Ayu menceritakan ia lolos dari maut bukan karena dibonceng menggunakan motor sama suaminya Mohamad Nur Efendy (23).

Saking paniknya, Ayu menyelamatkan diri dengan cara berlari sembari dipapah.

Ia berlari belasan kilometer hingga sampai ke tempat aman.

"Usia kehamilan saya sembilan bulan. Saya tak memikirkan apa-apa, pokonya saya, anak yang dikandung, dan suami selamat," katanya, Senin (6/12).

Selama berlari ia merasakan nyeri pada perutnya.

Selain itu, kakinya sempat terinjak-injak warga lain saat berlari hingga lecet.

"Alhamdulilah tak ada masalah pada janin. Janin yang saya kandung sehat. Saya langsung mendapat pemeriksaan kandungan dan penanganan di Puskesmas Penanggal usai lolos dari awan panas," ungkapnya.

Harta benda Ayu rusak tak bersisa dihempas awan panas.

Sedang, Ayu diperkirakan dalam waktu dekat akan melahirkan.

"Semoga ada yang membantu biaya persalinan. Karena tidak ada harta benda benda, termasuk uang yang bisa diselamatkan," harapnya.

Sementara, petugas piket Pos Kesehatan di Puskesmas Penanggal, Suwarno menyebut janin yang dikandung Ayu dalam kondisi sehat.

Setiap hari, kondisi kesehatan janin dan Ayu rutin dipantau bidan.

"Nanti, untuk persalinannya, dilakukan di RSUD Pasirian atau RSUD Haryoto Lumajang. Karena peralatannya lebih lengkap," pungkasnya. 

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Cerita Wanita Hamil 9 Bulan Lari Belasan Kilometer Dikejar Awan Panas Gunung Semeru, Kondisi Bayinya, https://makassar.tribunnews.com/2021/12/08/cerita-wanita-hamil-9-bulan-lari-belasan-kilometer-dikejar-awan-panas-gunung-semeru-kondisi-bayinya?page=all.

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved