Breaking News:

Opini

Bisakah Teknologi Menggantikan Guru?

Jika nilai 100 saat ujian dijadikan prasyarat untuk menentukan apakah seorang murid bisa dikatakan sebagai penggemar mata pelajaran IPA

Editor: David_Kusuma
Dokumentasi Pribadi
Heinz P Wokas 

Oleh: Heinz P Wokas
Head of School Sekolah Dian Harapan Holland Village Manado

Jika nilai 100 saat ujian dijadikan prasyarat untuk menentukan apakah seorang murid bisa dikatakan sebagai penggemar mata pelajaran IPA, maka saya tidak akan masuk hitungan. Saat SD, saya senang belajar IPA. Tapi sekadar senang saja. Tidak lebih.

Namun, perasaan tersebut berubah sangat signifikan saat saya duduk di bangku SMP. Saat itu di akhir 1990. Sudah sekitar 30 tahun yang lalu. Tidak ada koneksi internet berkecepatan tinggi dan smartphone. Buku pelajaran saja masih sangat terbatas. Bersyukur jika 1 buku pelajaran bisa bergantian digunakan oleh 5 orang murid.

Pagi itu tidak seperti minggu sebelumnya. Pak John (bukan nama sebenarnya) tidak menuliskan apa-apa di papan tulis sebagai penanda kelas dimulai. Usia papan tulis di kelas kami sepertinya sudah melebihi usia kami. Biasanya jika tulisan Pak John tidak terlalu jelas, maka para murid akan bergantian bertanya untuk mengklarifikasi apa yang beliau tulis.

Alih-alih mengambil kapur putih dari kotak penyimpanan, Pak John mengambil sebuah lilin dan korek api.

Sambil menatap mata setiap murid di kelasnya, Pak John dengan wibawanya mampu menghipnotis kami sehingga kami semua duduk diam menanti apa yang akan beliau lakukan. Setelah semua mata tertuju padanya, ia mematik korek api dan mengarahkan ke ujung lilin yang sedang ia genggam.

Kami menanti dengan sigap apa yang akan beliau lakukan setelah itu. Tanpa memberi instruksi apa-apa, beliau kemudian meniup lilin tersebut. Tidak ada yang mengangkat tangan dan bertanya.

Kelas begitu hening. Saat kami sedang mengantisipasi apa yang hendak beliau lakukan selanjutnya, beliau menanyakan pertanyaan ini: “Kemana apinya?”

Apa yang dilakukan oleh Pak John kita kenal dengan istilah eksperimen. Lebih tepat eksperimen sederhana. Namun, ternyata eksperimen sederhana tersebut menjadi momen ajaib yang digunakan oleh Tuhan untuk membuka mata saya. Setelah momen ajaib tersebut, saya mulai terbiasa menanyakan hal-hal yang sebelumnya saya anggap sebagai hal-hal yang biasa saja.

Momen tersebut membuat hati saya berkobar-kobar. Rekan-rekan saya mulai bereaksi dengan membagikan pendapat mereka. Kelas yang sebelumnya hening sekarang dipenuhi dengan suara murid-murid yang saling menanyakan alasan atas jawaban yang mereka berikan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved