Terkini Nasional

Antisipasi Badai La Nina 205 Bendungan, Begini Penjelasan Kementrian PUPR

La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi. Badai La Nina diprediksi akan terjadi pada akhir tahun 2021.

Editor: Shity Nurjanah
Istimewa/Internet
Ilustrasi - Antisipasi Badai La Nina 205 Bendungan, Begini Penjelasan Kementrian PUPR 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Antisipasi Badai La Nina 205 Bendungan, Begini Penjelasan Kementrian PUPR

La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi.

La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.

Dan badai La Nina diprediksi akan terjadi pada akhir tahun 2021.

Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketika terjadinya fenomena ini, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah melakukan sejumlah upaya antispasi dan mitigasi bencana dalam menghadapi terjadinya Badai La Nina pada akhir tahun 2021.  

Hal tersebut sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut badai La Nina diprediksi terjadi di akhir tahun 2021 dan mengancam terjadinya bencana banjir.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Kementerian PUPR telah lama bekerja sama dengan BMKG dalam memanfaatkan data meteorologi, klimatologi dan geofisika.

Data tersebut digunakan untuk melakukan prediksi banjir, pemutakhiran peta kejadian banjir dan peta prakiraan potensi banjir.

“Data-data tersebut sangat penting bagi kami dalam proses pembangunan infrastruktur dan operasi pemeliharaannya,” kata Basuki dalam keterangannya, Jumat (29/10/2021). 

Basuki menjelaskan Kementerian PUPR telah menyiapkan sejumlah mitigasi bencana alam yang disebabkan oleh badai La Nina.

Pertama, mengaktifkan Satgas Penanggulangan Bencana Pusat dan di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk melakukan monitoring terhadap semua infrastruktur yang ada di Indonesia agar dapat diketahui volume banjir yang bisa ditampung.

Kedua melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) siaga bencana. Meliputi, pengosongan tampungan dengan membuka seluruh pintu pengeluaran di 205 bendungan dengan volume tampungan sebesar 4,7 miliar meter kubik.

Kemudian membuka pintu pengeluaran pada 12 kolam retensi dengan volume tampungan 6,8 juta meter kubik dan bendung gerak dengan volume tampungan 65,8 juta meter kubik serta mengempiskan 12 bendung karet dengan volume tampungan 7,3 juta meter kubik.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved