Tukul Arwana
Tukul Arwana Menangis Ingin Kembali Tampil di TV, Manajer Haruskan Istirahat 6 Bulan Setelah Sembuh
Tukul Arwana diketahui sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasinal (RS PON), Cawang, Jakarta Timur.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tukul Arwana semakin membaik dari hari ke hari.
Presenter One Man Show tersebut diketahui sempat sedih karena tak bisa bekerja.
Ia sedih karena harus absen dari dunia entertainment akibat sakit yang dialaminya.
Kini Tukul Arwana sangat rindu akan pekerjaannya itu.
Kesedihan Tukul terlihat kala ia menonton tayangan saat dirinya membawakan program acara.
"Iya, jadi benar-benar saat dikasih videonya awal-awal pas di programnya beliau, beliau menangis."
"Beliau sedih," kata manajer Tukul Arwana, Rizki Kimon, saat ditemui di Kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (26/10/2021).
Kendati demikian, Tukul tak larut dalam kesedihan. Bahkan, komedian 58 tahun ini tertawa saat ditunjukan tayangan dirinya ketika menjadi pembawa acara.
"Kalau sekarang malah dia pengin nonton."
"Malah ketawa-ketawa kalau saya kasih video pas dia jadi host," ujar Kimon.
Disinggung soal Tukul Arwana kembali bekerja, Rizki Kimon mengaku suami almarhumah Susianti ini akan beristirahat selama enam bulan untuk memulihkan kondisinya.
"Oh iya untuk job offair, on air sudah pasti mungkin sampai beliau recovery."
"Sampai enam bulan ke depan kita akan off dulu. Sampai benar-benar mas Tukul sembuh total," ungkap Rizki Kimon.
Sebelumnya, Tukul Arwana dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasinal (RS PON), Cawang, Jakarta Timur.
Tukul dioperasi karena mengalami pendarahan di otak pada 22 September 2021.
Setelah operasi, dokter mengatakan terdapat pendarahan otak dan kemungkinan karena hipertensi.
Kini, kondisi Tukul Arwana kian membaik, dan pada 16 Oktober Tukul sudah kembali ke rumahnya.
Dengan catatan, Tukul harus rutin untuk cek up atau menjalani sejumlah terapi.
Proses Penyembuhan Pendarahan Otak
Kondisi kesehatan komedian Tukul Arwana pasca mengalami pendarahan otak berangsur pulih. Tukul bahkan sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), setelah menjalani perawatan sejak 22 september 2021.
Seperti telah diberitakan Kompas.com sebelumnya, dokter RS PON mengatakan, pendarahan otak yang dialami Tukul kemungkinan disebabkan karena hipertensi yang tidak terkontrol.
Asisten Tukul Rizki Kimon mengatakan, meski sudah diperbolehkan pulang ke rumah, Tukul masih belum begitu lancar berkomunikasi. Ia masih menggunakan bahasa isyarat sebagai pengganti lisannya.
Selain itu, Tukul juga masih sering merasa tubuhnya lemas dan kaku.
Terkait pendarahan otak, dr. Subrady Leo Soetjipto Soepodo, Sp.BS, Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Pasar Kemis mengatakan, waktu atau durasi kesembuhan seseorang pasca pendarahan otak bervariasi, tergantung dari jumlah jaringan otak yang dapat diselamatkan.
Untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang mengalami pendarahan otak, dokter harus mengontrol kembali tekanan darah dan menyelamatkan organ yang ada di dalam tubuh pasien.
“Kami harus memastikan pendarahan yang terjadi pada pasien dapat berhenti atau membeku, agar tidak terjadi pendarahan besar,” ujar dr. Subrady.
Lebih lanjut ia mengatakan, proses penyembuhan pendarahan otak bersifat bertahap dan tahapan penyembuhan antar pasien biasanya berbeda-beda, tergantung dari organ tubuh yang mengalami gagal fungsi dan kondisi pasien.
Hal tersebut sama seperti proses terjadinya pendarahan otak yang tidak terjadi secara tiba-tiba, kecuali pada seseorang yang mengalami kecelakaan.
Proses terjadinya pendarahan otak juga bervariasi. Ada yang hitungan hari, bulan, atau tahun. Ini tergantung gejala yang dirasakan dan apakah orang tersebut mengabaikannya atau tidak.
“Semakin cepat seseorang mengenali gejala, maka pendarahan pada otak akan semakin mudah diminimalisir.”
Rehabilitasi pasca pendarahan otak
Untuk memaksimalkan proses penyembuhan, menurut dr. Subrady, pasien pendarahan otak yang telah selesai dirawat di rumah sakit harus tetap melakukan rehabilitasi.
Rehabilitasi dilakukan untuk pemulihan kemampuan mengunyah, menelan, berjalan, berbicara, dan berbagai tahapan rehabilitasi lainnya.
“Bahkan, agar seseorang dapat kembali bekerja, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter okupasi untuk mengetahui tahapan pemulihan yang tepat, agar dapat kembali bekerja,” jelasnya.
Dr. Subrady mengingatkan, pendarahan otak dapat terjadi karena adanya faktor risiko penyakit seperti darah tinggi, obesitas, kolesterol, diabetes melitus, asam urat, dan stroke yang tidak dikontrol secara rutin.
Sebelum terlambat, setiap orang sebenarnya dapat melakukan screening awal potensi penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan pendarahan otak, yaitu dengan mengecek tekanan darah melalui alat pengukur tekanan darah sesaat setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas.
“Bangun tidur sebelum beraktivitas adalah waktu yang paling tepat untuk menunjukkan tekanan darah dibandingkan setelah beraktivitas,” pungkasnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tukul Arwana Sedih, Sampai Menangis Kangen Tampil di TV
Penulis: Mohammad Alivio Mubarak Junior/Anita K Wardhani