Gempa Bumi
Gempa Guncang Jawa Tengah Rabu (27/10/21), Berpusat di Darat, Warganet: Jantungku Berdebar
Info BMKG gempa bumi Rabu 27 Oktober 2021 di wilayah Jawa Tengah. Berpusat di darat 12 km dari utara Ambarawa.
Penulis: Frandi Piring | Editor: Frandi Piring
TRIBUNMANADO.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) melaporkan info gempa bumi Rabu 27 Oktober 2021 di wilayah Jawa Tengah.
Gempa kembali terjadi di Jawa Tengah, berpusat di darat 12 km dari utara Ambarawa.
Guncangan gempa berkekuatan megnitudo 2.5 pada pukul 04:20 WIB.
Kedalaman gempa 5 km, dirasakan dengan skala MMI II di Ambarawa.
Berikut laporan resmi BMKG dalam unggahan akun twitter @infobmkg:
"#Gempa Mag:2.5, 27-Okt-21 04:20:09 WIB, Lok:7.20 LS, 110.41 BT
(Pusat gempa berada di darat 12 km utara Ambarawa), Kedlmn:5 Km Dirasakan (MMI) II Ambarawa #BMKG"
Unggahan BMKG tersebut menuai respons sejumlah warganet.
"Notifikasi mu yg tak kutunggu sekalinya nongol buat jantungku berdebar ((" tulis @Aerlina104
"Semoga Allah SWT menjauhkan malapetaka gempa bumi dari penduduk pulau Jawa dan rakyat Indonesia ,aminn." balas @WPBatok53.
Gempa juga terjadi di wilayah Bengkulu pada pukul 00:25 WIB.
Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 4.4 dan berpusat di laut, 68 kilometer dari Barat Daya Bengkulu Utara.
MMI gempa dirasakan skala III. Kedalaman gempa 25 kilometer dari permukaan laut.
"#Gempa Mag:4.4, 27-Okt-21 00:25:39 WIB, Lok:3.44 LS, 101.58 BT (Pusat gempa berada di laut 68 km BaratDaya Bengkulu Utara),
Kedlmn:25 Km Dirasakan (MMI) II-III Kabupaten Bengkulu Utara #BMKG" tulis BMKG dalam akun twitter @infobmkg.
Penjelasan soal Skala MMI
Perlu diketahui, MMI adalah singkatan dari Modified Mercalli Intensity. Di laman bmkg.go.id, Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902.
Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut
dan juga dengan melihat serta membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut.
Oleh itu skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain.
Oleh karena itu, saat ini penggunaan Skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi.
Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian.
I MMI: Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang.
II MMI: Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
III MMI: Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.
IV MMI: Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.
V MMI: Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
VI MMI: Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.
VII MMI: Tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.
VIII MMI: Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.
IX MMI: Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.
X MMI: Bangunan dari kayu yang kuat rusak,rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.
XI MMI: Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.
XII MMI: Hancur sama sekali, Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.
(TribunManado.co.id-Fra)