Breaking News:

Berita Sulut

Kuota Solar untuk Sulut Direvisi, Pertamina Minta Aparat Perketat Pengawasan Distribusi

Fenomena antrean panjang truk dan mobil diesel di sejumlah SPBU beberapa waktu terakhir disebabkan adanya peningkatan konsumsi.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Rhendi Umar
TRIBUNMANADO/Fernando Lumowa
Pengisian solar subsidi di sebuah SPBU di Kota Manado, Kamis (21/10/2021). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Fenomena antrean panjang truk dan mobil diesel di sejumlah SPBU beberapa waktu terakhir disebabkan adanya peningkatan konsumsi.

Selain memang karena faktor perubahan kuota solar oleh BPH Migas.

Taufiq Kurniawan, Senior Supervisor Communication and Relation  PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menjelaskan, seiring turunnya level PPKM di Indonesia, konsumsi melonjak.

Taufiq bilang, pada saat penurunan level PPKM, terjadi lonjakan konsumsi di Sulut hingga 20 persen.

"Data realisasi September Oktober 2021, naik 20 persen dari konsumsi normal Januari - Februari 2019 sebelum pandemi," kata Taufiq kepada Tribunmanado.co.id, Kamis (19/10/2021).

Jika sebelum pandemi konsumsi rata-rata 1.100 Kiloliter (KL) pada saat ini mencapai 1.400 KL. Sementara, pada saat pengetatan pembatasan sosial (PPKM), konsumsi solar 800-900 KL saja.

Persoalan lainnya, kata Taufiq, kuota solar baru saja direvisi BPH Migas. Di mana, kuota triwulan IV berkurang 15 persen dari proyeksi semula.

Dasar pertimbangannya konsumsi pada masa PPKM. Kenyataan di lapangan, geliat ekonomi yang mulai naik memicu  permitaan solar.

Ia mengakui, hampir semua Pemda di Indonesia telah mengajukan penambahan kuota solar.

Pertamina sendiri telah mengusulkan opsi pembatasan kuota per kendaraan setiap kali mengisi di SPBU. Tujuannya, kuota solar bisa cukup untuk kebutuhan hingga akhir tahun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved