Breaking News:

Berita Minut

Kisah Penjual Kue Tradisional di Airmadidi Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

Kue menopang ekonomi warga Airmadidi, bahkan di masa Pandemi Covid-19, meski sempat terdampak, namun masih bertahan dan kini bangkit lagi

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Arthur Rompis
Kios Julien, Penjual Kue Tradisional di Airmadidi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Kue tradisional telah menjadi ikon Airmadidi, ibukota Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Kue tradisional banyak diproduksi di Airmadidi, bahkan juga memiliki banyak kue khas yang tidak ada di tempat lainnya.

Kue menopang ekonomi warga Airmadidi, bahkan di masa Pandemi Covid-19, meski sempat terdampak, namun masih bertahan dan kini bangkit lagi.

Para ibu-ibu membuat kue, menjualnya langsung atau membawanya ke kios. Mikro ekonomi terangkat, yang mendorong pula sektor makro.

Lokasi penjualan kue berada di Kelurahan Airmadidi, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minut, Provinsi Sulut, letaknya di pinggir jalan Manado - Bitung.

Di sana berjejer sejumlah kios yang menjajakan kue tradisional, salah satu kios adalah milik Julien.

Kios tersebut menjual berbagai jenis kue, sebagian besar tradisional. Namun ada pula yang modern.

"Kami jual kolombeng bakar, kopi-kopi, koyabu, dodol, apang, nasi jaha, bagea, lalampa dan lainnya," kata Julien Selasa (11/10/2021).

Baca juga: Atlet Paralayang Sulut, Reza Tampenawas Raih Perunggu Ketepatan Mendarat PON XX Papua

Ungkap dia, kue yang paling diminati adalah kopi-kopi dan dodol. Kedua kue itu asli Airmadidi.
"Tak ada di tempat lain. Jadi banyak dicari-cari," katanya.

Menurutnya, dodol Airmadidi beda dengan dodol biasa, ciri khasnya pada adonan serta penggunaan kenari. Ungkap dia, kue ada yang diproduksi sendiri. Ada pula yang diproduksi warga.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved