Breaking News:

RHK Senin 4 Oktober 2021

BACAAN ALKITAB Keluaran 18:15-16 - Tanggungjawab Musa Dalam Kehambaan

Tugas dan tanggungjawab Musa sangat besar, berat dan pelik. Tidak sesederhana yang dibayangkan.

Editor: Aswin_Lumintang
NET
Ilustrasi Nabi Musa membawa Bani Israil keluar dari kezaliman Fir'aun 

Keluaran 18:15-16
TRIBUNMANADO.O.D - Tugas dan tanggungjawab Musa sangat besar, berat dan pelik. Tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak berarti karena dia bisa berbicara langsung dengan Tuhan, maka semuanya lancar-lancar dan gampang-gampang saja. Ternyata hidup bersama Tuhan, kita tidak bebas dari tugas dan tanggungjawab.

Selain sebagai pemimpin perang, pemimpin umat dan nabi, Musa juga adalah seorang hakim dan pemimpin tertinggi bagi bangsanya Israel, di bawah pemerintahan Allah (Theokrasi). Di satu sisi dia harus memimpin perang saat genting, di sisi lain dia harus menjadi penyambung lidah Allah dan mewakili umat-Nya untuk berbicara kepada Allah, serta hakim untuk mengadili bangsa yang besar itu.

Ilustrasi Nabi Musa
Ilustrasi Nabi Musa (Kolase Tribun Manado/Foto: Istimewa)

Musa adalah pemimpin yang sangat bertanggungjawab dan berintegritas. Namun dia juga pemimpin yang rendah hati yang memiliki semangat dan tanggungjawab pengabdian dan pelayanan yang sangat baik. Tak ada satupun tugas dan tanggungjawabnya yang tidak dikerjakannya dengan baik.

Dia harus mengadili perkara semua orang secara adil dan bijaksana, tetapi dia juga harus memberitahukan ketetapan-ketetapan Tuhan bagi bangsa Israel.

Inilah jawaban Musa, ketika dia ditanya Yitro mertuanya tentang cara kerjanya yang cenderung melelahkan, makan waktu banyak, buang banyak tenaga dan relatif lebih royal (mahal). Musa tidak ada pilihan. Dia harus melakukan semuanya sendiri, tanpa kenal lelah. Namun, puji Tuhan semuanya berjalan lancar meski sangat melelahkan. Tapi demi cintanya akan Tuhan, maka dia melakukan semua tugasnya dengan segala baik.

Demikian firman Tuhan hari ini.
  Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah.
   Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah." (ay 15, 16)_

Penjelasan Musa yang polos kepada Rehuel atau Yitro mertuanya itu, membuktikan dia sebagai pemimpin yang bersih dan berhati tulus. Dia pemimpin yang bertanggungjawab, tegas tapi punya hati sebagai hamba. Dia siap dan rela berkorban demi tugas, pengabdian dan pelayanan dalam semua kapasitas yang Tuhan percayakan kepadanya.
Musa tetaplah Musa. Figurnya tegas, kuat dan luar biasa, tapi memiliki hati sebagai hamba.

Dia berbicara apa adanya ketika menjelaskan tentang pekerjaan yang dia lakukan, tanpa diplomasi apapun kepada sang mertua.

Inilah teladan Musa yang hendak menjadi pelajaran bagi kita sebagai pemimpin di zaman now. Dia pemimpin besar, tetapi memiliki hati sebagai hamba. Dia pemimpin perang yang kuat, tapi polos, lugu dan tulus dalam berbicara. Dia pemimpin kharismatik, namun rela berkorban untuk orang-orang kecil sekalipun. Tapi dia sangat tegas dan keras untuk urusan melawan Allah. Siapa yang melawan perintah atau firman Tuhan, dia tidak segan-segan bertindak.

Sahabat Kristus, masing-masing kita memiliki talenta dalam hal kepemimpinan. Tidak ada yang sempurna. Semua punya kelemahan dan kekurangan. Kita tentu tidak bisa disamakan dengan Musa. Kita juga tidak mungkin menjadi Musa. Tapi setidaknya dalam hal kebaikan dan kerendahan hati serta ketulusan, bisa menjadi teladan untuk kita adopsi dalam kehidupan kita setiap hari.

Karena kita juga adalah pemimpin. Sehingga sikap dan prilaku kepemimpinan kita hendaklah menjadi berkat bagi sesama. Apapun kita, sesederhana apapun kita menurut pandangan kita, dan sehina apapun kita dalam pandangan orang lain, sesungguhnya Tuhan memiliki rancangan yang indah dalam hidup kita. Hiduplah bukan menurut kata orang, tapi menurut kata firman.

Dalam segala kelemahan dan kekurangan kemanusiaan kita, berusahalah hidup baik. Sekalipun hidup kita jatuh bangun, percayalah Tuhan tidak akan membiarkan kita sendiri, asal kita pasrah penuh pada kehendak-Nya.
Seperti Musa yang polos, tulus namun tegas, marilah kita ikuti teladannya. Berusahalah dalam segala keberadaan kita untuk menjadi pemimpin berhati sebagai hamba yang terus setia melakukan kehendak Tuhan dan melayani Dia dalam segala hal. Tuhan Yesus beserta kita selamanya. Amin

DOA: Tuhan Yesus, kasihanilah dan mampukanlah kami melakukan segala tugas dan tanggungjawab kami dengan baik dan benar, agar hidup kami jadi berkat bagi sesama. Amin

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved