Nasional
Berjemur di Atap Rumah, Seorang Mahasiswa Tewas dalam Hitungan Menit, Sempat Kejang-kejang
Dedi mengatakan, kejadian terjadi saat FA berjemur di atap rumah pada Kamis (30/9/2021), pukul 09.00 WIB.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Nasib nahas seorang mahasiswa berinisial FA (21) tewas ketika sedang berjemur di atap rumahnya di Dusun Parumasan, Desa Paseh Kaler, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
FA meregang nyawa dalam hitungan menit setelah dirinya tersengat aliran listrik.
Pada pukul 09.00 WIB, FA diketahui berjemur di atap rumah.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Sumedang AKP Dedi Juhana membenarkan peristiwa nahas yang menimpa korban.
Dedi mengatakan, kejadian terjadi saat FA berjemur di atap rumah pada Kamis (30/9/2021), pukul 09.00 WIB.
"Informasi yang kami himpun dari saksi-saksi, korban tersengat aliran listrik pada saat berjemur di atap rumahnya," ujar Dedi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis malam.
Dedi menuturkan, saat pertama kali ditemukan, korban masih hidup, dengan kondisi tubuh kejang-kejang.
Melihat itu, saksi dan warga lainnya langsung membawa korban ke Puskesmas Paseh.
Akan tetapi, setibanya di Puskesmas, nyawa korban tak terselamatkan.
"Saat diperiksa petugas medis di Puskesmas, korban sudah meninggal dunia," tutur Dedi.
Dedi menyebutkan, hampir sekujur tubuh korban dalam kondisi hangus.
"Melihat kondisi ini, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan menerima kejadian ini sebagai musibah yang diterima dengan lapang dada," kata Dedi.
Pria Tersengat Listrik di Plafon Rumah
Pria berinisial DGD (50) meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di Red Zone IGD RSUD dr Iskak Tulungagung.
Nyawa DGD tak tertolong setelah dilarikan ke rumah sakit.
Warga Jalan I Gusti Ngurah Rai Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung ini sebelumnya ditemukan tak berdaya di atas plafon rumah Suharso (65), Rabu (29/9/2021) sore.
DGD diduga tersengat listrik saat memperbaiki instalasi kabel listrik di rumah Suharso di Perumahan Bangau Putih Blok B14 Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.
Pengakuan dari seorang warga, BB, saat DGD bekerja, tuan rumah pergi bekerja tanpa ditunggui.
Tetangga sekitar curiga, karena selama lebih dari satu jam tidak ada suara sama sekali dari rumah Suharso.
“Sebelumnya terdengar suara orang bekerja. Setelah itu kok sepi, lebih dari satu jam tidak ada suaranya lagi,”ungkap BB.
Tetangga kemudian menghubungi Suharso dan melaporkan kondisi ini.
Suharso kemudian pulang dan memeriksa ke dalam rumah.
Saat itu tubuh korban telungkup di atas tembok pembatas antar ruangan.
Sementara tangannya terjuntai lewat plafon yang jebol.
Ketua RT setempat sempat mematikan aliran listrik sebelum mengevakuasi korban.
Saat dievakuasi warga bersama polisi dan petugas medis, DGD masih hidup.
“Masih ada denyut nadinya dan masih bernafas. Tapi dia sudah lemas dan tak sadarkan diri,” sambung BB.
DGD lalu dievakuasi dengan ambulans menuju ke RSUD dr Iskak Tulungagung.
Ia sempat mendapat pertolongan medis di Red Zone IGD RSUD dr Iskak Tulungagung.
Namun tidak lama kemudian korban meninggal dunia.
“Benar, korban meninggal dunia. Dugaan kami karena kesetrum,” ujar Kapolsek Kedungwaru, AKP Siswanto saat dikonfirmasi.
Jenazah DGD dibawa ke Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKF) RSUD dr Iskak untuk divisum.
Dari tanda-tanda fisik ada sejumlah luka yang identik akibat menyentuh benda bertegangan tinggi.
Luka itu ada di telapak kaki kanan dan tangan kiri.
(KOMPAS.COM/SURYA.CO.ID)
Tautan: