Breaking News:

Opini

Hari Asyura, Bergembira atau Bersedih

Ada dua sunnah Nabi di hari Asyura. Bersuka cita dengan melakukan puasa di tanggal 9-10 Muharram. Bersedih karena keluarga Nabi saw dibantai di Padan

Dokumen Tribun Manado
Dr Muhammad Tahir Alibe, Dosen IAIN Manado dan Anggota Komisi Dakwah MUI Sulawesi Utara 

Oleh: Dr Muhammad Tahir Alibe
Dosen IAIN Manado - Pengurus MUI Sulawesi Utara

HARI Asyura atau 10 Muharram dijalani dengan dua hal yang berbeda.

Pertama, umumnya umat Islam melakukan puasa pada 9 dan 10 Muharram.

Hal itu didasarkan pada hadis Nabi saw. Lewat Hadis diketahui bahwa pada hari Asyura terjadi tragedi-tragedi.

Nabi Ibrahim as selamat dari api pembakaran Namrud. Nabi Musa as selamat dari kejaran Fir'aun.

Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara. Nabi Yunus selamat dari perut Ikan. Nabi Nuh as serta tragedi lainnya.

Oleh karena itu, umat Islam merayakannya sebagai hari bersyukur atas keselamatan dan kemenangan para Nabi as.

Kedua, sebagian umat Islam pada hari Asyura menjalani bukan dengan berpuasa sebagai bentuk rasa syukur, tetapi menjalani dengan tangisan.

Tangisan itu sebagai bentuk rasa sedih atas dibantainya keluarga Nabi saw secara kejam, keji dan penuh kezhaliman.

Imam Husain beserta keluarganya dan sahabatnya yang berjumlah 75 orang saja.

Berhadapan dengan pasukan Yazid bin Muawiyah dengan jumlah 4 ribu orang dibawa kepemimpinan Umar bin Sa'ad.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved