Bolmong
Desa Mopuya, Surga Toleransi dan Lambang Kemakmuran Dalam Kebhinekaan
Mopuya adalah daerah transmigrasi. Perpindahan transmigran dari Jawa dan Bali berlangsung pada tahun 1972 hingga 1975
Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID – Lantunan azan menggema, lonceng gereja berbunyi dan bau dupa tercium di lokasi yang sama. Sebuah desa di pedalaman, rumah ibadah tiga agama berdiri berdampingan. Namanya Desa Mopuya, Kecamatan Dumoga Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Desa ini dikenal surga toleransi dan lambang kemakmuran dalam kebhinekaan.
Suatu waktu khotbah Pendeta B Wahani seketika terhenti ketika azan salat isya berkumandang dari Masjid Al Muhajirin. Toa masjid senyap, baru Wahani melanjutkan ibadah yang malam itu berlangsung di gereja. Wahani sudah terbiasa mendengar azan di dalam gereja.
Wahani ingat betul pertama kali melayani di GMIBM Imanuel Mopuya. Suara azan tak lantas membuatnya menjeda ibadah, namun sebuah bisikan mengubah dirinya. “Jemaat bilang kalau boleh pas adzan ibadah dijeda dulu,” kenangnya.

Muhammad Nuri, Imam Masjid Al Muhajirin begitu semringah berkisah tentang bagaiamana jemaahnya hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Hindu. "Kami tak saling ganggu. Tak ada kendala sama sekali," ucapnya. Salat di masjid, ibadah di gereja, dan sembahyang di pura tak jarang terjadi bersamaan dan itu tak jadi soal. "Tak masalah, itu sudah biasa dan kami saling mengerti," ujarnya. Toleransi ini kemudian memotivasi Nuri dan jemaahnya untuk lebih bertaqwa. "Lebih dekat dengan Tuhan, untuk kebaikan bersama," ucapnya. Nuri pun selalu menyelipkan pesan menjaga kerukunan, sebagai warisa pada generasi selanjutnya.
Pada hari raya keagamaan, setiap agama saling menjaga dan memeriahkan. I Ketut Kolak, pemuka agama Hindu mengatakan tradisi ini sudah seusia Desa Mopuya dan terus terpelihara lintas generasi, bahkan sudah ada rasa seperti keluarga. Warga Hindu menurutnya terpengaruh secara positif dengan tradisi berkunjung Natal dan Idul Fitri. Ia sendiri beberapa hari setelah Nyepi, akan menyediakan jamuan bagi umat Kristen dan Muslim.
Mopuya merupakan daerah eks transmigrasi. Perpindahan transmigran dari Jawa dan Bali berlangsung pada tahun 1972 hingga 1975. Saat itu sebuah gudang logistik menjadi tempat ibadah semua agama, yang saat itu saling bergantian. Pada tahun 1973, mulailah dibangun tempat ibadah. Jadilah enam rumah ibadah yakni Masjid Al Muhajirin, GMIM Immanuel Mopuya, Pura Puseh. Serta Gereja KGPM Sidang Kalvari Mopuya, Gereja Katolik Santo Yusuf Mopuya, dan Gereja Pantekosta yang letaknya tak sedekat tiga rumah ibadah tersebut.
Di tengah kehidupan yang toleran, dataran Dumoga di mana Desa Mopuya berdiri, dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. Daerah ini menjadi lumbung berasnya Sulawesi Utara. Kandungan perut bumi Dumoga pun tersohor karena kaya mineral berharga. Sebanyak 56 persen total produksi beras di Sulawesi Utara ada di Bolaang Mongondow dan Desa Mopuya adalah lumbung beras.

Sebagian besar penduduk Mopuya adalah petani. Mopuya pun melejit menjadi lambang kemakmuran petani. Patung petani yang berada tepat di tengah-tengah desa, menandai kemakmuran tersebut. Meski hanya kampung, Mopuya berperan seperti kota kecil, lengkap dengan pasar dan kantor kecamatan. Rumah warga umumnya besar dan permanen, memiliki taman dan garasi mobil.
Masyarakat yang kini tinggal di Mopuya tak hanya dari suku Jawa dan Bali, melainkan Minahasa, Sanger, dan Mongondow. Desa Mopuya terus menggaungkan pesan damai bagi setiap orang yang melihatnya, yakni pesan damai dari Mopuya untuk Indonesia. (*)