Berita Sulut

Hasil Uji WGA Varian Delta Kini Menyebar di Sulut, Pengamat Epidemiologi: Cara Melawannya dengan 6M

Penularan covid-19 varian Delta kini telah menyebar di provinsi Sulawesi Utara.

Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Chintya Rantung
Tangkapan Layar Zoom/Tribun Manado/Finneke Wolajan
dr Jonesius Manoppo, Epidemiolog dan Dosen Kesehatan dari IKM Universitas Negeri Manado 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Penularan covid-19 varian Delta kini telah menyebar di Sulawesi Utara.

Dari hasil pengujian keseluruhan Genom atau Whole Genom Sequence (WGS) virus Corona, di Sulut ditemukan 7 Kasus Varian Delta.

Pasalnya, varian ini terbukti memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dan masiv dari varian covid-19 sebelumnya.

Melihat hal ini, Pengamat Epidemiologi Jonesius Manoppo mengatakan, walaupun terbilang memakan waktu yang lama, tapi apa yang dikhawatirkan sementara berlangsung sudah bisa dibuktikan.

"Hasil ini sudah dipublikasikan akhir bulan juli, berarti sampel yang dikirimkan untuk dilakukan WGS sudah diambil sebelumnya, dan sejak itu penularan sudah sementara berlangsung hingga saat ini," kata Manoppo kepada Tribun Manado.

Meskipun terbukti lebih mudah menyebar dan ganas dari varian sebelumnya, cara untuk melawannya tetaplah sama, yaitu protokol kesehatan yang ketat.

"Apa yang telah dilakukan saat ini sudah merupakan antisipasi meluasnya penularan Covid-19, termasuk varian delta," ujar Manoppo.

Menurutnya, 6M yang digalakan pemerintah saat ini dianggap ampuh untuk mencegah penularan covid-19 khususnya varian Delta, apabila dilakukan dengan disiplin.

Untuk saat ini, usaha yang harus terus dilakukan oleh satgas yaitu 3T terutama tracking dan kuota testing.

"Targetnya ialah terkendalinya penularan, memang mustahil untuk membuat angka penularan menjadi nol, tapi setidaknya kita bisa mengurangi beban layanan kesehatan saat ini," terang Manoppo.

Terkait usaha ini, lanjut Dosen Epidemiologi dari Unima ini, memang membutuhkan tenaga kesehatan yang tidak sedikit, SDM yang ada saat ini tidak adekuat untuk melakukan semua kegiatan secara ideal dengan cepat.

"Kenaikan kasus dalam 6 pekan terakhir sudah cukup menguras tenaga kesehatan, tidak sedikit yang terpapar dan memburuk meski sudah dinyatakan selesai isolasi tetap perlu untuk pemulihan, sementara yang lain tugasnya semakin bertambah seiring bertambahnya kasus, sebaiknya pemerintah juga memperhatikan kelancaran pemberian insentif, agar mereka bisa memenuhi kebutuhan ekstra untuk meningkatkan kekebalan tubuh," papar Manoppo.

Apabila mengamati status saat ini, jumlah konfirmasi positif terus naik, belum termasuk yang tidak memeriksakan diri, sedangkan vaksinasi sedikit tertahan karena stok vaksin yang ada masih sedikit, satu-satunya yang terlihat turun saat ini ialah penggunaan masker, yaitu turun ke dagu.

"Fenomena yang ada saat ini, ada banyak orang yang seharusnya menjalankan isolasi mandiri karena tidak bergejala atau gejala ringan tapi tidak melakukannya malahan beraktifitas seperti biasa, padahal perilaku ini sangat menyuburkan penularan, mereka inilah yang disebut dengan "hidden carrier"," tutup Manoppo. (Mjr)

Baca juga: 56.755 Warga Minahasa Tenggara Belum Terima Vaksin

Baca juga: Perbedaan Sinusitis dan Covid-19, Keduanya Memiliki Gejala Sakit Tenggorokan dan Hilang Penciuman

Baca juga: Warga MItra Mengaku Sangat Terdampak Penutupan Tempat Wisata

 

 

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved