Sulut Maju

Olly Dondokambey Gaungkan 'Gerakan Mari Jo Bakobong', Nilai Tukar Petani Naik Konsisten

Foto dokumentasi Pemprov Sulut
Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid 19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid-19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah.

Belakangan, sektor pertanian dan perkebunan Sulut makin moncer, Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulut konsisten terus meningkat.

"Sumbangan terbesar untuk ekonomi Provinsi Sulut dari pertanian dan ini salah satu strategi kita. Kalau kita lebih cepat memutuskan mata rantai Covid-19 saya kira ekonomi akan lebih cepat tumbuh karena kegiatan perekonomian berjalan dengan baik," kata Gubernur.

Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid 19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah.
Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid 19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah. (Foto dokumentasi Pemprov Sulut)

Sebagai informasi, NTP ini merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani dan dinyatakan dalam persentase.

NTP salah satu indikator untuk melihat daya beli petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani, baik untuk proses produksi maupun konsumsi rumah tangga petani.

Hal itu sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal Agustus 2021 ini, menyatakan NTP di Sulut pada Juli 2021 sebesar 108,65 atau naik 0,52 persen.

Dibandingkan dengan bulan Juni berada di 108,09.

Adapun NTP Sulut pada Mei 2021 sebesar 105,54.

Kemudian NTP pada April berada di angka 103,47.

Hasil analisa BPS, kenaikan NTP disebabkan oleh kenaikan indeks yang diterima petani (It) lebih cepat dibanding kenaikan Indeks yang dibayar petani (Ib).

Sumbangsih Juli 2021 terbesar kenaikan It adalah kenaikan harga ikan nila tawar pada subsektor budidaya perikanan dan tanaman perkebunan rakyat khususnya komoditi cengkeh.

Gubernur Olly Dondokambey Canangkan Mari Jo Bakobong
Gubernur Olly Dondokambey Canangkan Mari Jo Bakobong (Istimewa)

Selain itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan, sebesar 0,72 persen.

Dari 108,71 di bulan Juni menjadi 109,49 di bulan Juli 2021.

Ekonomi Naik

Olly Dondokambey, Gubernur Sulut didampingi Wagub Steven Kandouw terus memimpin Sulawesi Utara di masa Pandemi Covid 19

Di dera Covid di awal 2020, Olly terus berupaya mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi disamping jor-joran melakukan penanganan terhadap pandemi

Langkah pemerintah membuahkan hasil, sempat terkontraksi, ekonomi Sulut membaik dari waktu ke waktu, terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut merilis men data ekonomi Sulut pada triwulan II-2021.

Ekonomi tumbuh 8,49 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pencapaian ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata ekonomi Indonesia triwulan II-2021 sebesar 7,07 persen (yoy).

Sebelumnya, ekonomi Sulut tumbuh 1,87 persen pada triwulan I-2021.

Sementara pada triwulan II-2020, ekonomi Sulut harus mengalami kontraksi hingga minus 3,84 persen.

Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid 19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah.
Gubernur Olly Dondokambey menggaungkan Gerakan Mari Jo Bakobong, apalagi di masa Pandemi Covid 19, sektor pertanian dan perkebunan paling bergairah. (Foto dokumentasi Pemprov Sulut)

Dari sisi produksi, hampir seluruh lapangan usaha di Sulut mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II-2021 dengan pertumbuhan paling signifikan dialami oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni sebesar 70,62 persen.

Adapun dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen pengeluaran pembentukan modal tetap bruto yakni sebesar 14,76 persen.

Struktur ekonomi Sulut triwulan II-2021 didominasi oleh lima lapangan usaha, berturut-turut yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan 20,87 persen; perdagangan besar-eceran, reparasi mobil-sepeda motor 13,26 persen; konstruksi 11,88 persen; industri pengolahan 9,97 persen; dan transportasi dan pergudangan 8,62 persen.

Kemudian dari sisi pengeluaran didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 41,77 persen, kemudian pembentukan modal tetap domestik bruto sebesar 33,87 persen, serta ekspor barang dan jasa sebesar 26,42 persen. (adv)