Breaking News:

Kisah Bendera Merah Putih Pertama Kali Berkibar di Pulau Siau

Setelah mendengar informasi tersebut, ia langsung kembali Manado lewat jalur darat dan menggunakan perahu ke Siau,

Penulis: Octavian Hermanses | Editor: Charles Komaling
tribunmanado.co.id/Octavian Hermanses
Monumen Peristiwa Merah Putih di Kampung Peling Kecamatan Siau Barat. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Di Pulau Siau Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di Kampung Peling Kecamatan Siau Barat terdapat salah satu titik bersejarah dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Monumen Peritiswa Merah Putih, tempat dijadikannya lokasi pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya pada tanggal 1 Januari 1946. Konon  pengibaran bendera Merah Putih di lokasi tersebut menjadi yang pertama kali di Pulau Siau dan kedua di Indonesia pasca diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Peristiwa bersejarah itu digagas oleh Laurens Mocodompis Kansil bersama keenam saudarannya, masing-masing Robert Kansil, Olden Kansil, Erens Kansil, Aldofina Kansil, Rachel Kansil, Albert Kansil. Hal ini diungkapkan Beatrix Kansil, anak dari salah satu pejuang kemerdekaan tersebut.

Menurutnya, awal mula peristiwa di Kampung Peling itu terjadi ketika Laurens Mocodompis Kansil memperoleh informasi melalui radio yang menyebut Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.

"Saat itu, Papa Akang (Laurens Mocodompis Kansil) berada di Makassar. Setelah mendengar informasi tersebut, ia langsung kembali Manado lewat jalur darat dan menggunakan perahu ke Siau," terang Beatrix.

Untuk tiba di Pulau Siau, Laurens Mocodomois Kansil menempuh waktu perjalanan lebih dari tiga bulan. Selama dalam perjalanan, ia kerap menyampaikan informasi tentang kemerdekaan Republik Indonesia kepada banyak orang yang dijumpainnya.

"Dalam perjalannya, mereka sempat dikejar oleh pasukan penjajah dan ditembaki. Beruntung atas semangat perjuangan dan tuntunan Tuhan, mereka bisa tiba dengan selamat di Siau," lanjut Beatrix.

Sebelum mengibarkan bendera, Laurens Mocodompis Kansil bersama saudara-saudaranya sempat dilarang oleh orangtua mereka.

"Opa bilang, sedangkan membuat lubang jarum saja kalian tidak bisa, bagaiman cara kalian melawan penjajah yang bersejatakan lengkap. Lalu tante saya, Adolfina Kansil mengambil sebilah parang dan menancapkannya ke meja dan mengatakan dengan ini akan kami lawan penjajah," kata Beatrix menirukan kata-kata ayahnya saat menceritakan sejarah tersebut.

Pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya lalu dilaksanakan, tepatnya pukul 12.00 Wita, tanggal 1 Januari 1946. Meski beberapa jam setelah momentum bersejarah itu, Laurens Mocodopis Kansil akhirnya diciduk pihak Belanda dan dipenjarakan selama tiga bulan dan diwarnai siksaan.

Monumen berukuran 12×10 meter dibangun Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe (sebelum Sitaro berotonom) dan diresmikan Bupati Winsulangi Salindeho pada tanggal 14 September 2005. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved