Breaking News:

Berita Minut

Mengintip Karapan Sapi di Minut, Taruhan Bisa Sampai Puluhan Juta, Pipi Joki Sering Dicium Turis

Seni tradisional Karapan Sapi di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) coba eksis di tengah PPKM level 4.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
Arthur Rompis/Tribunmanado
Karapan Sapi di kabupaten Minahasa utara 

Hal itu membuat ongkos perawatan sapi cukup tinggi. Danny salah satu peternak sapi mengatakan, sapi miliknya memang diproyeksikan untuk balalan.

"Dia saya beri vitamin, makanan yang baik serta dikasih latihan lari," kata dia. Demi menguatkan tubuh si sapi, Dani harus merogoh kocek jutaan rupiah.

Kemenangan sapi dalam lomba balap bisa mengangkat harga dirinya. "Ini masalah gengsi dan tradisi," kata dia.

Warga Desa Kolongan Denny Mokolensang menyatakan, balap sapi berasal dari tradisi agraris suku Tonsea, terutama yang berdomisili di Desa Kawangkoan dan sekitarnya.

"Sapi kan perlu untuk menggarap sawah, lama-kelamaan muncul minat warga untuk melombakan sapi-sapi tersebut," kata dia.

Adu sapi makin diminati hingga makin banyak warga yang memelihara sapi pacu. Hingga suatu ketika, kata dia, sapi tak lagi digunakan di ladang. "Banyak orang memelihara sapi hanya untuk dilombakan," bebernya.

Mengantisipasi ini, Denny yang merupakan tokoh masyarakat kerap memberi penyuluhan tentang manfaat memelihara sapi.

"Sapi itu banyak gunanya di kebun, bukan hanya untuk membajak, tapi juga mengangkut hasil pertanian," bebernya.

Saat ini, kata Denny, banyak perkumpulan sapi terbentuk. Mereka mengadakan arisan setiap bulan. Corneles salah satu pemilik sapi mengatakan, adu roda sapi memerlukan dua sapi serta seorang joki.

Joki itu menaiki sebuah roda dengan posisi berdiri. "Satu tangan joki memegang cambuk, satunya lagi memegang kekang," kata dia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved