Breaking News:

Berita Politik

Sulut 'Perang Baliho' Capres, Pengamat Politik Sulut: Contohi Jokowi

Bagi Ferry Daud Liando dosen ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) sosialisasi melalui baliho itu tidak menjamin elektabilitas para calon.

Penulis: Fistel Mukuan | Editor: Rizali Posumah
ryo noor/tribun manado
Baliho Puan Maharani tampil dengan konten tentang perang melawan Covid 19. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Pemilihan Umum (Pemilu) presiden dan wakil presiden Republik Indonesia akan berlangsung tahun 2024.

Namun, para Calon Presiden (Capres) kian gencar perang baliho.

Partai-partai mulai gencarkan sosialisasi kandidat Capres.

Di Sulawesi Utara (Sulut) sendiri perang baliho mulai memanas, ada baliho ketua umum partai Golkar Airlangga Hartarto, Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  periode 2019–2024 dan ketua umum partai Gerindra Prabowo Subianto.

Selain perang baliho, banyak juga diekspos di media sosial tiga kandidat ini sebagai Capres 2024.

Namun bagi Ferry Daud Liando dosen ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) sosialisasi melalui baliho itu tidak menjamin elektabilitas para calon.

"Baliho itu hanya sebagai upaya untuk mendorong agar seseorang dikenal publik," kata pengamat politik ini.

Lebih lanjut disampaikan Liando, dalam hal prilaku pemilih, orang yang dikenal belum tentu populer dan orang yang populer belum tentu elektabilitasnya bagus.

Karena bagi Liando, saat ini untuk mempopulerkan diri sangatlah mudah. Hanya dengan menjadi orang yang kontroversial maka dengan gampang namanya melejit.

"Namun meski namanya melejit belum tentu yang bersangkutan di terima publik. Oleh karena itu bagaimana menghubungkan antara popularitas dan elektabilitas, maka hal yang harus dilakukan oleh elit-elit politik adalah gerakan politik menyentuh tanah," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved