Breaking News:

Trilogi Pembangunan Jemaat

BACAAN ALKITAB: Amsal 4:1-17 - “Pendidikan Anak yang Berkarakter”

Pendidikan anak yang berkarakter merupakan usaha semua komponen bangsa mulai dari lingkungan keluarga, jemaat, pemerintah

Editor: Aswin_Lumintang
Istimewa
Renungan Harian Kristen 

MTPJ 18 – 24 Juli 2021
TEMA BULANAN : “Menerima dan Memberlakukan Keadilan Allah”
TEMA MINGGUAN: “Pendidikan Anak yang Berkarakter”
BACAAN ALKITAB: Amsal 4:1-17

Doa Kristen Sebelum Tidur Malam, Panjatkan Rasa Syukur Atas Pertolongan Tuhan Sepanjang Hari
Doa Kristen Sebelum Tidur Malam, Panjatkan Rasa Syukur Atas Pertolongan Tuhan Sepanjang Hari (Istimewa/Internet)

ALASAN PEMILIHAN TEMA
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pendidikan anak yang berkarakter merupakan usaha semua komponen bangsa mulai dari lingkungan keluarga, jemaat, pemerintah dan lembaga lainnya yang peduli dengan dunia pendidikan. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan karakter adalah sifat-sifat kejiwaaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain seperti tabiat dan watak (KBBI). Sasaran pendidikan ditujukan kepada anak tetapi juga kepada setiap orang percaya.

Memang masalah yang sering ditemui dewasa ini yaitu ada anak-anak yang masih dalam proses pendidikan dan pengajaran telah mengalami degradasi moral dan karakter seperti tidak lagi mau menerima didikan dan teguran dari orang tua atau guru. Mereka lebih suka main game, on line atau internet dari pada belajar keras dan datang untuh beribadah. Pengajaran hikmat dan pengetahuan harus diajarkan kepada anak-anak dan jemaat supaya mereka takut akan Tuhan dan boleh menjadi anak-anak yang berkarakter yang baik. Dengan alasan tersebut di atas maka tema minggu ini adalah “Pendidikan Anak yang Berkarakter”.
PEMBAHASAN TEMATIS:
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Kitab Amsal yang ditulis oleh Salomo sekitar tahun 970-700 SM dengan tujuan memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan dan kejujuran yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan dan pribahasa atau Amsal. Kecintaan Salomo terhadap hikmat, kebijaksanaan dan pengetahuan merupakan suatu pendidikan yang berkarakter terhadap anak dan umat seperti yang tergambar dalam Amsal 4:1-17. Bentuk sastra hikmat dalam perikop ini adalah instruksi atau perintah secara moral dan etika dalam memberi pengajaran terhadap karakter anak-anak. Pengajaran tentang hikmat meru-pakan suatu yang sangat berharga untuk diajarkan seorang ayah kepada anak-anaknya.
Hikmat Salomo dituangkan dalam bentuk pengajaran seperti: “Dengarlah, hai anak-anak didikan seorang ayah”. Orang tua khususnya seorang ayah tidak boleh mengabaikan didikan yang telah memberikan ilmu yang baik kepada anak untuk membangun karakternya. Petunjuk seorang ayah sangat dibutukan untuk menjadi pegangang hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ada penganjaran yang sangat tegas bahwa “janganlah meninggalkan hikmat, maka ia akan memelihara kamu”. Orang tua tentu sangat tahu kebutuhan anak-anak dan tidak boleh mengabaikan hikmat dan didikan yang sangat berharga dari orang tua. Dalam ayat 3-4, mengungkapkan bahwa: otoritas seorang ayah nampak dalam mendidik anak-anaknya yang digambarkan masih lemah atau belum menerima pengajaran “Karena ketika aku masih tinggal dalam rumah ayahku sebagai anak, lemah dan anak satu-satunya bagi ibuku (ayat 3)”. Pengajaran ayah dan ibunya menjadi dasar dan sumber kehidupan anak yang akan membawanya kepada kesejahteraan, spiritual dan material. Jadi, tanpa pengajaran maka anak itu tidak akan dapat bertumbuh dan memiliki hidup yang baik.
Pendidikan dan pengajaran selanjutnya adalah anak yang telah menerima didikan orang tua harus memegang perkataan dan petunjuk untuk dipatuhi. Hikmat yang diajarkan tidak boleh menyimpang dari perkataan mulut yang benar. Pengamsal mau mengatakan bahwa hikmat dan didikan itu harus dihargai dan dikasihi sehingga anak tersebut akan terjaga dengan baik. Betapa penting mengajarkan kepada anak-anak untuk mencintai hikmat secara pribadi. (ayat 4-5)
Anak yang mencintai hikmat hendaknya dijunjung dan ditinggikan supaya anak yang menerima didikan akan menjadi terhormat. Dan yang lebih menarik lagi bahwa hikmat dan didikan itu bagaikan mengenakan karangan bunga yang indah yang akan dikaruniakan kepadanya. Bahkan ketika anak mau mendengar perkataan orang tua akan mendapat berkat seperti tahun hidupnya menjadi banyak atau umur panjang. Dalam pendidikan anak yang berkarakter pengamsal mengajarkan tentang jalan yang lurus yaitu takut akan Tuhan sehingga langkah-langkah hidupnya tidak akan terhambat dan tidak tersandung. (Ayat 6-12).
Selanjutnya pengamsal mengingatkan supaya anak dan umat Tuhan tidak boleh menempuh jalan orang fasik dan mengikuti jalan orang jahat. Biasanya hidup orang fasik adalah orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan buruk kelakuannya. Istilah “jahat” (ra) dan kefasikan (rasya) dikenakan kepada orang yang melakukan kejahatan. Mereka merasa tak tenang, mereka tak akan tidur, kalau sehari saja tidak melakukan kejahatan tersebut. Mereka bahkan merasa menderita seperti orang kelaparan, jika tidak melakukan kejahatan dan penin-dasan. Hal ini tidak boleh diikuti oleh anak yang mendengarkan didikan dari orang tua khususnya seorang ayah. (Ayat 16-17).
n Makna dan Implikasi Firman
 Pendidikan karakter sangat penting dalam upaya pengem-bangan sikap, perilaku dan kebiasaan, baik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Peran orang tua dan pendidik (guru) sangat menentukan bagi generasi produktif, berinovasi dan berkreasi dalam mengoptimalkan misi Kerajaan Allah.
 Pendidikan Agama Kristen (PAK) perlu kena sasaran, supaya moralitas dan etika peserta didik (murid) bertumbuh atas dasar iman Kristen dalam persekutuan gereja untuk meng-hasilkan orang-orang muda yang tahu sopan santun serta berkepribadian dan bermartabat di tengah-tengah perkem-bangan dunia global, iklim post modern, dan Four Point Zero (digitalisasi) dan pengembangan industrialisasi yang begitu pesat dan terstruktur.
 Pengajaran yang dilakukan secara berkesinambungan kepada anak-anak, supaya melekat pada pribadi mereka. Tanggung jawab orang tua bagi anak-anaknya, memberi teladan yang baik guna pengembangan karakteristik sang anak, termasuk mentalitas dan kepribadiannya. Jelasnya, anak-anak yang berkarakter baik, tidak akan terpengaruh dengan berbagai kejahatan yang merajalela dalam lingkungan sosial kemasya-rakatan saat ini.
 Nasihat hikmat, kebijaksanaan, pengetahuan dirumuskan untuk mengungkapkan perasaan kita agar takut akan Tuhan yang menjiwai seluruh pendidikan yang ditempuh. Terutama dalam melaksanakan perintah Tuhan dalam hidup anak-anak kita, termasuk siswa/pelajar sebagaimana ia adalah orang yang diajarkan. Hal ini merupakan sikap hormat dan tunduk kepada kuasa Tuhan.
 Semua orang menghendaki dirinya menjadi bijaksana dan keturunannya menjadi arif, bertekun dan berkomitmen men-dapatkan pendidikan formal dan informal yang bermanfaat bagi masa depannya. Peran orang tua dan pendidik (guru) sangat menentukan dalam pengembangan lembaga pendi-dikan formal dan non formal, sehingga menghasilkan generasi yang produktif, inovatif, dan berkarakter.
 Orang muda pada masa kini seperti orang muda Israel dulu haruslah mendengar dan mentaati didikan yang bersumber dari Firman Tuhan. Mendengar dan mentaati didikan ayah dan ibunya yang juga memiliki wibawa ilahi seperti hikmat. Melalui pengajaran guru dan orang tua, orang muda pada masa kini, haruslah mencintai hikmat atau “Firman Tuhan” karena, hikmat dan Firman Tuhan itu akan memelihara dan memberikan kehidupan terhormat dan berkelimpahan.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved