Breaking News:

Berita Tomohon

Bendi, Transportasi Tradisional yang Masih Eksis di Kota Bunga Tomohon

Salah seorang kusir Bendi Nel Wenur (72) mengakui meski terjadi penurunan akibat pandemi, namun peminat bendi masih cukup banyak.

Penulis: Hesly Marentek | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Hesly Marentek
Para kusir bendi yang mangkal di depan Menara Alfa Omega. 

Pekerjaan sebagai kusir Bendi sudah digeluti Nel sejak 30 tahun lalu.

Namun untuk saat ini ia mengaku hanya 3 kali dalam sepekan untuk cari penumpang.

"Kalau sekarang tiap pekan hanya tiga kali turun cari penumpang. Itu pun hanya setengah hari. Kalau keluar sore, berarti jam 7 malam sudah masuk," akunya.

Tarif bendi sendiri untuk jarak dekat Rp 5 ribu. Namun kalau sudah sedikit jauh atau rute sulit seperti ada tanjakan, penumpang harus membayar biaya lebih.

"Kalau memang sedikit jauh atau ada tanjakan tentu ada biaya tambahan," tukasnya.

Sama halnya Herry Ratulangie kusir asal Matani II  Kecamatan Tomohon Tengah.

Ia mengaku sudah sejak tahun 1976 menggeluti profesi sebagai kusir bendi.

"Sudah sejak tahun 1976 jadi kusir," akuhnya.

Namun untuk saat ini, dia mengaku turun mencari penumpang sudah tak rutin.

"Kalau mancari cuma tiga jam. Itupun tak setiap hari," tukasnya. (hem)

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved