Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Papua

Jubir OPM Provokasi Warga Papua 'TNI-Polri Menipu Kamu akan Selamat', Dibalas Kapen Kogabwilhan

OPM seruhkan provokasi kepada warga Papua agar tak mempercayai aparat TNI-Polri. Sebut aparat telah menipu.

Editor: Frandi Piring
Youtube/tvOneNews
Jubir Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom. Terbaru OPM provokasi warga Papua bahwa telah ditipu TNI dan Polri. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - "Anda (masyarakat sipil) jangan dengar perintah TNI-Polri mengatakan 'Kami jamin masyarakat sipil' itu tidak ada jaminan, TNI-Polri tipu kamu," kata Sebby dalam sebuah keterangan video, Jumat (25/6/2021) malam.

Dikabarkan, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) meminta warga yang berada di daerah rawan kontak senjata KKB/OPM dan TNI-Polri agar tidak mempercayai aparat pemerintah Indonesia.

Jubir Organisasi Papua Merdeka (OPM) Sebby Sambom.
Jubir Organisasi Papua Merdeka (OPM) Sebby Sambom. ((Istimewa))

OPM mengklaim masyarakat Papua agar tak mempercayai TNI dan Polri dapat memberikan jaminan keselamatan diri di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan Juru Bicara OPM, Sebby Sambom.

Sebby mengatakan bahwa pihaknya sudah menabuh genderang perang kepada aparat.

Sehingga, masyarakat sipil yang masih berada di wilayah-wilayah tertentu akan menjadi korban.

"Anda (masyarakat sipil) jangan dengar perintah TNI-Polri mengatakan 'Kami jamin masyarakat sipil' itu tidak ada jaminan, TNI-Polri tipu kamu," kata Sebby dalam sebuah keterangan video, Jumat (25/6/2021) malam.

Sebby meminta agar masyarakat sipil dari setiap golongan meninggalkan wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona perang oleh OPM.

Dia menyebutkan, beberapa wilayah konflik seperti Intan Jaya, Puncak Jaya, Ndugama, Pegunungan Bintang hingga Yahukimo.

Sebby mengamini, OPM yang kini telah dicap sebagai organisasi teroris tidak bertanggungjawab apabila ada korban sipil yang meninggal.

"Tukang bangunan kah, tukang ojek kah, segala macam segera tinggalkan wilayah konflik perang.

Sebab nyawa anda kita tidak tanggung, kami sudah sampaikan.

Tapi kamu dengar TNI-Polri punya penipuan mengatakan bahwa kami jamin, itu mereka tipu," kata Sebby.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan ( Kapen Kogabwilhan ) III, Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa memberikan tanggapan terkait pernyataan dari OPM tersebut.

Kolonel Gusti Nyoman menyatakan bahwa seruan-seruan OPM tersebut tak lebih dari tipuan atau provokasi kepada warga Papua yang digencarkan oleh kelompok tersebut.

Ia menekankan bahwa di wilayah Papua tidak mengenal yang dinamakan konflik perang.

Satgas Nemangkawi yang merupakan gabungan TNI-Polri sedang berjaga di Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (29/4/2021).
Satgas Nemangkawi yang merupakan gabungan TNI-Polri sedang berjaga di Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (29/4/2021). (Tribunnews.com/Istimewa)

Menurutnya, setiap kejadian yang terjadi merupakan bagian dari gerakan teror OPM.

Terlebih, TNI mengklaim bahwa mereka sudah semakin terpojok saat ini.

"Biar saja dia (OPM) bicara semaunya. Sampai saat ini, tidak ada wilayah konflik perang,

yang ada gerakan teroris OPM yang saat ini semakin menyempit karena kemanapun bergerak selalu diburu aparat TNI-Polri," kata Gusti seperti dikutip CNN Indonesia, Jumat (25/6) malam.

Kolonel Gusti Nyoman menyatakan bahwa masyarakat Papua kini semakin memperlihatkan perlawanannya terhadap kelompok separatis bersenjata yang kini ditetapkan sebagai teroris oleh pemerintah.

Menurutnya, masyarakat kini tak dapat termakan dengan propaganda OPM yang selalu bertindak di luar hukum dan malah membunuh rakyat Papua itu sendiri.

"Hal ini menunjukkan betapa marahnya rakyat melihat kebrutalan dan tindakan semena-mena OPM," tandasnya.

KKB, sebelumnya diduga menggencarkan serangan dengan menembak lima tukang bangunan yang bertugas membangun jembatan Kali Kuk, Kampung Samboga, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo pada Kamis (24/6) lalu.

Di antara lima orang tersebut, empat dinyatakan meninggal dunia.

Salah satu korban tak sempat mendapat perawatan usai terluka akibat serpihan kaca mobil.

Dalam insiden tersebut, diketahui KKB yang berjumlah sekitar 30 orang menembak rombongan truk para pekerja.

Mereka disatroni menggunakan berbagai senjata.

Mulai dari senjata tajam, anak panah, kapal, parang, samurai, hingga senjata api laras panjang.

Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpun polisi,

terdapat empat pekerja lain yang disandera oleh KKB dan belum diketahui lokasinya hingga saat ini.

(*)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved