Kabar Israel
Penyebab Israel Khawatir Ebrahim Raisi Terpilih Jadi Presiden Iran
Ebrahim Raisi memang sudah diprediksi menang karena mendapat dukungan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID - Ulama garis keras Ebrahim Raisi terpilih sebagai presiden Iran.
Pria berusia 60 tahun ini menggantikan Hassan Rouhani setelah mendulang suara 17,8 juta atau 61,95 persen suara pemilih.
Ebrahim Raisi memang sudah diprediksi menang karena mendapat dukungan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Ebrahim Raisi mengalahkan tiga calon presiden lainnya yakni mantan kepala bank sentral, Abdolnaser Hemmati, Mohsen Rezaei dan Amir Hossein Ghazizadeh Hashemi, anggota parlemen lama dari Mashhad.
Raisi akan dilantik sebagai Presiden Iran pada Agustus mendatang.
Presiden Iran Hassan Rouhani memberi selamat kepada presiden pilihan rakyat, tanpa menyebutkan nama.
Raisi menemui Presiden Iran Hassan Rouhani dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf setelah menang telak.
Terpilihnya Ebrahim Raisi menimbulkan kekhawatiran bagi musuh bebuyutannya yakni Israel.
Israel menyebut Ebrahim Raisi sebagi tukang jagal.
Ebrahim Raisi adalah hakim terkenal di Iran dan memiliki pandangan ultrakonservatif.
Ia merupakan salah satu sosok di Iran yang yang terkena sanksi Amerika Serikat, dan berhubungan dengan eksekusi tahanan politik.
Menilik hal itu, Israel menganggap Raisi sebagai presiden Iran yang paling ekstrem.
“Ia adalah figur ekstrem, berkomitmen dalam memajukan program nuklir militer Iran,” cuit Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Lior Haiat di Twitter seperti dikutip BBC.
Hubungan Iran dengan Israel memang semakin panas setahun terakhir.
Masalah kedua negara sangat kompleks, namun salah satu sumber ketegangan mereka adalah aktivitas nuklir Iran.
Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan salah satu ahli nukir terbaiknya, Mohsen Fakhrizadeh pada tahun lalu.
Selain itu, Iran juga menduduh Israel melakukan serangan kepada fasilitas pengayaan uranium mereka untuk nuklir, April lalu.
Iran sendiri menegaskan bahwa pengembangan nuklir yang mereka lakukan bertujuan untuk perdamaian.
Tetapi Israel tak percaya mengenai hal itu, dan meyakini negara Asia Barat itu tengah membangun senjata nuklir.
Pada kesempatan itu, Lior Haiat juga menyebut Raisi sebagai jagal dari Teheran.
Hal itu terkait eksekusi massal yang menimpa ratusan tahanan politik pada 1988.
Raisi merupakan satu dari empat hakim, yang kemudian dikenal sebagai Komite Kematian, dan menurut Amnesti Internasional telah menghukum mati sekitar 5.000 pria dan wanita.
Namun, dalam cuitannya, Haiat mengatakan lebih dari 30.000 orang terbunuh saat itu.
Jumlah tersebut merujuk dari yang dikeluarkan oleh Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Iran.
Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir
DIlansri Kompas.com melalu artikel berjudul Iran Punya Presiden Baru, PM Israel: Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir , Perdana Menteri baru Israel Naftali Bennett pada Minggu (20/6/2021) menyebut terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai presiden Iran, sebagai panggilan bangkit bagi pihak-pihak terkait untuk membicarakan lagi kesepakatan nuklir dengan Teheran.
Raisi terpilih dengan hampir 62 persen suara dalam pilpres Iran pada Jumat (18/6/2021), dan akan menggantikan presiden moderat Hassan Rouhani pada Agustus.
Rouhani adalah salah satu sosok di balik kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia.
"Terpilihnya Raisi, menurut saya, adalah kans terakhir bagi kekuatan dunia untuk bangkit sebelum kembali ke perjanjian nuklir, dan untuk memahami dengan siapa mereka berurusan," kata Bennett dalam sambutannya dalam pertemuan kabinet pada Minggu, dikutip dari AFP.
Kesepakatan 2015 diterima Iran dengan batasan pengembangan nuklirnya untuk mendapat imbalan pelonggaran sanksi.
Akan tetapi mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara sepihak menarik diri tiga tahun kemudian dan menambah sanksi. Iran akhirnya menarik diri dari komitmen nuklirnya.
Penerus Trump, Joe Biden, telah mengisyaratkan kesiapannya untuk kembali ke kesepakatan itu.
Negara-negara lainnya termasuk China, Rusia, Inggris, Perancis, dan Jerman, belum lama ini di Wina telah menegosiasikan kembalinya perjanjian nuklir.
Sementara itu Israel dan Iran adalah musuh bebuyutan. Israel selalu menentang perjanjian nuklir, yang dikatakan dapat membuat Iran mengembangkan senjata nuklir.
Pergantian PM Israel pekan lalu setelah tergulingnya Benjamin Netanyahu, juga tidak mengubah pandangan mereka tentang masalah ini.
Dalam reaksi awal terhadap kemenangan Raisi, Kementerian Luar Negeri Israel pada Sabtu malam (19/6/2021) berkata, masyarakat dunia harus waspada karena komitmen presiden baru Iran itu terhadap program nuklir militer yang berkembang pesat.
Ia juga menggambarkan Raisi sebagai presiden paling ekstremis Iran hingga saat ini.
Namun Iran selalu membantah mereka membuat senjata nuklir.
Sosok Ebrahim Raisi
Melansir Alarabiya, Ebrahim Raisi as-Sadati itu lahir di di Kota Masyhad, Provinsi Razavi Khorasan pada 14 Desember 1960.
Ayahnya merupakan seorang pemuka agama dan meninggal saat Ebrahim berusia lima tahun.
Tak lama sebelum Revolusi 1979, Ebrahim mengenyam pendidikan agama di Kota Qom.
Saat berusia 15 tahun, ia telah berguru ke sejumlah ulama terkenal, seperti Ali Meshkini, Hossein Nouri Hamdani, dan Abul Qasim Khazali.
Kariernya dimulai sejak usia 20 tahun saat ia menjadi Jaksa di Kota Karaj pada 1980.
Ia ditugaskan ke beberapa ke kota, termasuk Kota Hamdan (1982) dan Teheran (1984) hingga 1990-an.
Ebrahim Raisi adalah seorang hakim sekaligus ulama Syiah garis keras yang berusia 60 tahun.
Dia dijatuhi sanksi oleh Amerika atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Ulama ultrakonservatif ini mendukung dihidupkannya kembali kesepakatan nuklir.
Raisi menjadi Jaksa Agung Iran pada 2014.
Setelah kematian Imam Reza Vaezi Tabsi, Khamenei mengangkatnya sebagai kepala salah satu pusat agama dan ekonomi terpenting yang memiliki miliaran dana abadi.
Raisi juga diangkat sebagai kepala kehakiman pada 2019, dua tahun setelah kalah telak dari Hassan Rouhani dalam Pemilu
Raisi dipandang sebagai kandidat terpilih dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan memberikan dorongan besar untuk peluangnya.
Dia adalah seorang ulama ultrakonservatif, meskipun dia tidak memiliki status ayatollah, peringkat tertinggi untuk ulama Syiah.
Dia mengklaim garis keturunan yang ditelusuri kembali ke nabi Muhammad, yang memungkinkan dia untuk memakai sorban hitam.
Raisi adalah seorang hakim di pengadilan revolusioner Teheran, yang sedang menjalani pembersihan lawan-lawan Republik Islam, yang mengambil alih kekuasaan dalam revolusi 1979 di negara itu.
Bagi banyak orang Iran, Raisi dikaitkan dengan serangkaian pengadilan dan eksekusi politik berdarah pada 1988 di sekitar akhir perang Iran-Irak.
Kelompok hak asasi manusia mengatakan Raisi terlibat dalam kematian ribuan orang. Bagi beberapa pemilih konservatif, sejarah ini menambah pengaruh politiknya.
Anggota "Komite Kematian"
Dilansir Kompas.com dalam artikel berjudul Profil Ebrahim Raisi, Kandidat Unggul Presiden Iran dan Algojo Massal 1988 menyebutkan Ebrahim ditunjuk sebagai anggota "Komite Kematian", sebuah komite yang dibentuk untuk menentukan nasib ribuan tahanan politik pada 1988 saat usia belum genap 30 tahun.
Ribuan tahanan politik itu pun dijatuhi hukuman mati. Ini merupakan salah satu pelanggaran hak asasi manusia paling serius dalam sejarah Iran.
Iran tidak pernah mengakui eksekusi massal itu, sementara Raisi tidak pernah membahas tuduhan tentang perannya di dalamnya.
Amnesty International juga mengatakan bahwa sebagai kepala kehakiman, Raisi mengawasi impunitas bagi pejabat dan pasukan keamanan yang dituduh membunuh pengunjuk rasa selama kerusuhan pada 2019.
Dia telah muncul sebagai yang terdepan setelah lawan-lawan utama didiskualifikasi, oleh otoritas lapangan yang terbatas pada kandidat garis keras.
Raisi memiliki hubungan dekat dengan Pengawal Revolusi Iran dan hubungan selama puluhan tahun dengan Khamenei.
Dia dikenal karena perannya dalam komisi 1988, yang menghukum mati ribuan tahanan politik.
Tahanan politik Iran yang diinterogasi, disiksa dan dihukum mati oleh Ebrahim Raisi telah menceritakan pengalaman mengerikan mereka, ketika Iran bersiap untuk menjadikannya presiden negara berikutnya.
Farideh Goudarzi, yang dipenjara karena menjadi bagian dari kelompok politik terlarang, mengatakan Raisi menyaksikan penjaga menjatuhkan bayinya ke lantai.
Itu dilakukan sebagai bagian dari satu interogasi brutal, setelah Goudarzi disiksa saat hamil dan dipaksa melahirkan di penjara.
Mahmoud Royaee, tahanan politik lainnya mengatakan Raisi pernah menjatuhkan hukuman mati kepada seorang narapidana yang berada di tengah serangan epilepsi.
Kematian pria itu hanyalah salah satu dari banyak yang terjadi dalam lima bulan berdarah di musim panas 1988.
Sementara jumlah pasti orang mati tidak diketahui, diperkirakan bahwa setidaknya beberapa ribu dan mungkin lebih dari 30.000 orang dihukum mati, digantung oleh derek konstruksi dalam 10 kelompok.
Raisi dikenal sebagai "algojo" atas eksekusi tersebut karena keterlibatannya dalam "Komisi Kematian 1988."
Baik Goudarzi dan Royaee mengatakan penunjukan Raisi dimaksudkan untuk mengirim pesan ke penduduk Iran.
Yakni bahwa perbedaan pendapat tidak akan lagi ditoleransi, menyusul serangkaian protes besar dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika sanksi lama dan baru dari AS menghantam Iran, perdagangan mengering dan perusahaan asing angkat kaki.
Kelesuan ekonomi yang mendalam yang telah memicu peningkatan inflasi, kehilangan pekerjaan, dan krisis yang diperdalam oleh pandemi Covid-19.
Ekonomi yang menukik tajam dan harga yang melonjak memicu serangan berulang dari kerusuhan sosial, yang dipadamkan oleh pasukan keamanan.
“Raisi dibawa ke tampuk kekuasaan untuk membantai orang-orang ini,” kata Goudarzi melansir Daily Mail. Menurut pendapat saya Raisi adalah pembunuh anak-anak Iran, dia adalah seorang kriminal.
“Jadi pesan untuk orang-orang di negara saya adalah penahanan, penyiksaan, dan eksekusi. Pesan untuk seluruh dunia adalah penyebaran dan ekspor terorisme. Tidak ada pesan lain.”
Sementara itu Royaee berkata: “Dia (Raisi) tidak memiliki rasa kemanusiaan, dia sangat kejam terhadap para tahanan. Kebencian yang dipenuhinya terhadap para tahanan - saya telah melihat sangat sedikit orang seperti itu.”
"Ini tidak dapat ditoleransi bagi saya, bagi keluarga para korban dan bagi bangsa Iran untuk membayangkan orang seperti itu menjadi presiden. Tempatnya di pengadilan, di kursi terdakwa." (aldi Ponge/tribunmanado.kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/presiden-iran-terpilih-di-pemilu-iran-2021-237443.jpg)