Breaking News:

Tajuk Tamu

Menguatkan Kelas Menengah Muslim Manado: Refleksi Kritis Musda KAHMI Manado

Dari setiap perayaan dan pelaksanaan Musda KAHMI di seluruh Indonesia, biasanya diwarnai oleh adu strategi dan taktik.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Rizali Posumah
Istimewa.
Arhanuddin Salim, Alumni HMI, Dosen dan Ketua LP2M IAIN Manado. 

Oleh: Arhanuddin Salim, Alumni HMI, Dosen dan Ketua LP2M IAIN Manado.

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Daerah (MD) Korps Alumni HMI (KAHMI) Manado (11/06/2021) akan berlangsung  meriah.

Beberapa alumni dan eksponen HMI Manado dari berbagai kalangan (politisi, birokrat, agamawan, pebisnis, advokat, akademisi) dan lainnya diperkirakan akan turut meramaikan perebutan kursi Ketua Presidium nantinya.

Dari setiap perayaan dan pelaksanaan Musda KAHMI di seluruh Indonesia, biasanya diwarnai oleh adu strategi dan taktik untuk memenangkan kandidat calon Ketua Presidium.

Sudah jamak diketahui, bahwa terpilih menjadi Presidium KAHMI, artinya akumulasi profit dan proyek strategis, baik di dalam dan luar pemerintahan akan dengan sendirinya berdatangan.

Posisi dan nilai tawar HMI Connection, terutama di ruang-ruang riuh birokrasi pemerintahan, baik dari pusat sampai daerah adalah peluang emas untuk mendulang pundi-pundi capital.

Terlepas apakah itu legal atau non-legal, itu soal lain. Pertanyaannya, seberapa penting dan strategiskah Posisi KAHMI di Manado?

Apakah dalam landskap kebijakan Pemerintah Daerah Kota Manado, KAHMI punya peluang untuk berkontribusi?

Ataukah KAHMI Manado, hanya semacam stempel/labeling Pemerintah Daerah untuk mendukung program-programnya yang sejatinya tidak pro terhadap kepentingan masyarakat kecil?

Secara sederhana, pertanyaan ini bisa dijawab dengan tiga pendekatan utama, yakni pendekatan politik, kultural, dan keagamaan.

Pendekatan pertama, politik; hampir seluruh sektor-sektor strategis di negeri ini nyaris diisi oleh alumni-alumni HMI, meskipun tidak semuanya bergabung secara struktural dalam wadah organisasi KAHMI.

Tapi, kekutan ideologis dan emosional bagi alumni basic training (bastra/LK-1) sudah mandarah-daging, apalagi bagi sebagian aktivis HMI, yang memang mendaku darahnya bukan lagi darah merah, tapi darah Hijau Hitam.

Dipastikan konektivitas itu begitu cepat tersambung. Kemauan untuk saling melindungi dan menjaga nafas hijau hitam sampai akhir hayat, adalah doktrin hidden curriculum dalam setiap training-training dasar di HMI yang dijejalkan ke seluruh kader-kader, bahkan berlangsung sampai detik ini.

Etos perjuangan yang melekat dalam tafsir asaz, tujuan, dan independesi sebagai insan cita yang ada dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, yang diikat dengan semboyan Yakin Usaha Sampai (Yakusa) adalah kitab suci yang menyatukan seluruh nafas kader dan alumni HMI.

Problemnya, banyak pengurus KAHMI yang tidak tuntas ke HMI-annya, paling memilukan adalah mendaku diri sebagai alumni HMI, tapi tidak pernah ikut Bastra/LK atau jejang perkaderan di HMI.

Akhirnya cita-cita politik nilai dan moral HMI, sebagai pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur, menjadi hambar dan kehilangan orientasi.

Beberapa alumni HMI (ada yang bergabung di KAHMI, ada juga tidak) menjadi politisi, birokrat, akademisi, pebisnis dan yang lainnya, tidak mampu menjadi tauladan bagi ummat.

Ada juga alumni HMI yang bisa menjadi contoh dan panutan, tentu tidak bisa diabaikan juga. Banyak alumni HMI, terutama di Manado yang menjadi panutan ummat.

Professional di bidangnya masing-masing, yang paling penting, masih ingat untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk kepentingan membantu perkaderan yunior-yunior di komisariat dan cabang.

Lalu, di mana posisi strategis politik KAHMI di Manado? Posisi strategisnya adalah KAHMI harus menjadi wadah bagi alumni HMI Manado yang punya kecenderungan di wilayah politik electoral untuk menghubungkan dengan pemangku kepentingan (eksekutif, yudikatif, legislatif) untuk bisa berkontribusi, baik di dalam birokrasi pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

KAHMI harus menjadi penghubung, menjadi komunikan kreatif dan efektif, bagi partai-partai politik untuk kepentingan strategis alumni HMI Manado (yang punya kecenderunagn menjadi politisi) di masa depan.

Dengan demikian KAHMI betul-betul menjadi mediator dan Rumah Besar bagi Alumni HMI, bukan hanya sekedar tempat kongkow-kongkow, tanpa orientasi yang jelas, apalagi hanya dinikmati oleh persidium dan pengurus harian MD-KAHMI Manado nantinya.

Pendekatan kedua, secara kultural; KAHMI harus tetap membangun solidaritas Insan Cita, kepada kader-kader HMI yang masih berproses di Perguruan Tinggi masing-masing.

Sebab, masa depan KAHMI dan tentu masa depan Indonesia ada di pundak kader-kader HMI yang saat ini berjibaku di Komisariat, Cabang dan Pengurus Besar.

Para Presidium KAHMI harus memikirkan dan membuat formula yang tepat agar kader-kader di Kampus bisa dengan leluasa merekrut calon kader, agar mata air dan nafas insan akademis pencipta, pengabdi tetap mengalir dan melutup-letup sampai akhir zaman.

Selama ini, menurut amatan penulis, kader-kader hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat, palingan menjadi tim sukses kanda/yundanya sekali lima tahunan.

Proses dengan model seperti ini juga baik, tapi yakinlah ini bukan cita-cita Lafran Pane, Pendiri HMI. Kader dan Alumni HMI harus menjadi Pemimpin, harus menjadi Manusia Pencipta, mencipta tentu membutuhkan nalar kritis dan keratif.

Hal ini tentu dibutuhkan kemampuan dan kesadaran literasi tingkat tinggi, ini butuh proses, yah itulah sejatinya perkaderan di HMI. Tidak ada sesuatu yang instan, semua butuh usaha. Maka layak diyakini dan dan diimani, Yakin Usaha Sampai.

Pendekatan ketiga, pada aspek sosial-keagaaman; perlunya KAHMI kembali mecipta desain baru pola-pola hubungan keagamaan yang selama ini melekat di tengah-tengah ummat. Posisi Kota Manado sebagai Kota Multikultural, dengan varian agama, denominasi, dan mazhab keagamaan yang sangat plural menjadi modal kuat  di dalam membatu Pemerintah Daerah Kota Manado menguatkan aspek-aspek toleransi dan moderasi beragama.

Langkah-langkah preventif, menjaga agar harmoni kehidupan umat beragama tetap utuh dan rukun, harus senantiasa digalakkan.

KAHMI sebagai perwakilan dan perwajahan kultural Kelas Menagah Muslim tercerahkan di Kota Manado harus mampu menjadi mediator dan garda depan memabangun hubungan baik dengan komunitas Kelas Menengah Kristen, yang nota-bene banyak menduduki posisi strategis di Kota Manado.

Pertemuan dan perjumpaan lintas agama harus banyak diinisiasi oleh KAHMI Manado nantinya. Ruang-ruang dialog yang cenderung elitis-politis, perlu digeser ke ruang-ruang kultural-kekeluargaan, sebagai sesama Ciptaan Tuhan.

Saya kira inilah yang menjadi refleksi kritis, sekaligus menjadi catatan penting bagi siapa saja yang nantinya akan mengisi kursi Presidium dan Pengurus Harian MD-KAHMI Manado. Pada akhirnya saya mengucapkan selamat dan sukses atas pelaksanaan Musyawarah Daerah KAHMI Kota Manado. Yakusa. (ndo)

Peduli Akan Kondisi Purnawirawan, Kodam Merdeka Beri Bantuan Kepada Veteran di Sulut

Rita Tamuntuan Buka Koperasi Binaan PKK Sulut

Chord Gitar Lagu Tunggu Aku - Good Morning Everyone, Kunci Gitar dari C, Mudah Dimainkan

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved