Breaking News:

Masalah Stunting di Sitaro Jadi Perhatian Khusus Pemerintah

Upaya demi upaya dilakukan pemerintah daerah sehingga di tahun 2018, angka stunting mengalami penurunan menjadi 19,45 persen

Istimewa.
Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Masalah pertumbuhan pada anak akibat minimnya asupan gizi atau yang lebih dikenal dengan istilah stunting mendapatkan perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

Berbagai upaya pun terus dilakukan dari tahun ke Tahuna sebagai bentuk penanganan terhadap persoalan kesehatan ini. Berdasarkan pemantauan status gizi di tahun 2016, prevelensi stunting di Kabupaten Sitaro sebesar 24,6 persen dinilai dari balita pendek.

Perubahan penilaian stunting pun mengalami perubahan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yakni balita pendek dan sangat pendek. Kondisi ini membuat angka stunting di Sitaro meningkat pada tahun 2017 menjadi 30,4 persen.

Upaya demi upaya dilakukan pemerintah daerah sehingga di tahun 2018, angka stunting mengalami penurunan menjadi 19,45 persen. Selanjutnya, data riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa di tahun 2019, prevelensi sunting kembali menurun ke angka 9,9 persen. Untuk tahun 2021, prevelensi stunting di Sitaro berada pada angka 1,99 persen.

Sedangkan untuk tahun 2021 sampai dengan bulan Maret ada di angka 0,86 persen. Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian mengatakan, intervensi terhadap 13 Puskesmas di Sitaro serta ditunjang dengan alokasi DAK non fisik BOK sebesar Rp 256.953.582 serta pengalokasian Dana Desa dan Kelurahan sebesar Rp 1,8 miliar menjadi salah satu cara pemerintah daerah dalam pencegahan stunting.

"Langkah ini terus berlanjut di tahun 2021 dan 2022 nanti dengan alokasi anggaran yang lebih besar, yakni BOK sebesar Rp 426.417.300 serta DAU Dinas Kesehatan mencapai Rp 107.073.000," kata bupati, Jumat (4/6/2021).

Adapun aksi penurunan stunting dilakukan dengan beberapa cara seperti pemeriksaan bayi dan balita ke rumah-rumah, pemberian makanan pendamping ASI dan susu pada balita susu kurang, pemberian susu untuk semua ibu hamil KEK, posyandu balita di seluruh kelurahan dan kampung hingga kunjungan rumah-rumah untuk pemeriksaan ibu hamil.

"Kami juga rutin melakukan sosialisasi stunting di semua kelurahan dan desa serta pemberian tablet FE pada remaja putri," ujar Sasingen.

Untuk lebih mengoptimalkan upaya pencegahan stunting, pemerintah daerah juga menyiapkan program inovatif seperti Magasing (Mari Cegah Stunting Sejak Dini), One-One Solution dengan cara pendampingan ibu hamil hingga Taman Gizi dan Master Mama. "Kami juga menjalin kontrak dengan tenaga kesehatan dengan dana desa," kunci bupati. (*)

Penulis: Octavian Hermanses
Editor: Charles Komaling
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved