Breaking News:

Apa Itu

Apa Itu Cultural Appropriation? Ramai Dikaitkan dengan Nagita Slavina yang Jadi Ikon PON XX Papua

Cultural appropriation menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah Nagita Slavina disebutkan ditunjuk sebagai Duta Pon XX Papua.

Rans Entertainment
Foto pemotretan Nagita Slavina didapuk sebagai Duta PON XX Papua 

Drajat mengatakan, hak kekayaan budaya penting diajarkan dan dikenalkan pada masyarakat luas.

"Hak kekayaan budaya ada pada komunitas tertentu. Ini yang harus disuaran. Kebetulan belum ada perlindungannya," ujar dia.

Menurutnya, penting untuk mengajarkan budaya dan turunannya.

Misalnya di sekolah, mengingat generasi muda memiliki kecendrungan memiliki kreasi yang lebih otonom.

"Ketika kemudian muncul budaya postmodern yang lebih cenderung untuk otonomi kreasi ada pada individu, dan itu memanfaatkan budaya-budaya lokal yang kuno, itu harus diingatkan akan hak kekayaan budaya," jelas Drajat.

Hal ini sebagai langkah, agar konteks dan makna budaya tidak hilang.

Sementara itu, mengutip pemberitaan Kompas.com, Kamis (3/6/2021), istilah cultural appropriation secara resmi pertama kali masuk dalam Kamus Oxford pada 2017.

Frasa ini dideskripsikan sebagai "the unacknowledged or inappropriate adoption of the customs, practices, ideas, etc. of one people or society by members of another and typically more dominant people or society.”

Penjelasan ini bisa diartikan sebagai adopsi yang tidak diakui atau tidak pantas atas kebiasaan, praktik, ide, dan lain-lain dari satu orang atau masyarakat oleh anggota orang lain dan biasanya orang atau masyarakat yang lebih dominan.

Secara sederhana, praktik ini terjadi ketika seseorang mengadopsi sesuatu dari budaya yang bukan miliknya sendiri termasuk gaya rambut, pakaian, dan cara bicara.

Contohnya ketika penyanyi Justin Bieber dituding melakukan cultural appropriation ketika memakai gaya rambut dreadlocks yang identik dengan budaya orang kulit hitam.

Tudingan ini bagi sebagian orang dinilai tak berdasar.

Pasalnya, era globalisasi memungkin pertukaran dan pengaruh budaya tradisional dalam bentuk-bentuk popular.

Akibatnya, ini dianggap bisa membatasi kebebasan berekspresi seseorang dan menjadi belenggu.

Misalnya ketika orang tidak lagi bebas memilih kostum Halloween karena khawatir melakukan apropiasi budaya ini.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Nagita Slavina, Ikon PON XX Papua, dan Mengenal Apa Itu Cultural Appropriation...

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved