Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pembunuhan Marsela Sulu

Update: Hasil Otopsi Jasad Ferry Kalesaran Meninggal Bunuh Diri, Tersangka Pembunuhan MS (12)

Hasil otopsi jasad Ferry Kalesaran (50), warga Desa Koha Barat, Kecamatan Mandolang, Minahasa meninggal bunuh diri.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Frandi Piring
Kolase foto TribunManado.co.id/Isvara Savitri/Istimewa
Hasil otopsi jasad atau jenazah Ferry Kalesaran dinyatakan meninggal bunuh diri. Barang bukti di TKP. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Manado, Hasil otopsi jasad Ferry Kalesaran (50) dinyatakan meninggal karena bunuh diri.

Ferry Kalesaran menjadi tersangka pembunuhan Marsela Sulu (12) di Desa Koha, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).

Kabar terkini, Polisi memastikan Ferry Kalesaran (50), warga Desa Koha Barat, Kecamatan Mandolang, Minahasa meninggal bunuh diri.

Mayat Ferry ditemukan sudah membusuk di perkebunan Desa Koha, Jumat (21/05/2021) pagi.

Ferry Kalesaran menghilang sejak sepekan sebelumnya, tepatnya Jumat (21/05/2021).

Ia menghilang bersamaan dengan ditemukannya jasad Marsela Sulu (13) di dalam karung di perkebunan pala Desa Koha.

Penemuan <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/mayat' title='mayat'>mayat</a> diduga <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/ferry-kalesaran' title='Ferry Kalesaran'>Ferry Kalesaran</a>

(Foto: Penemuan mayat diduga Ferry Kalesaran (Istimewa)

Kabag Ops Polresta Manado, Kompol Thommy Aruan didampingi Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Taufik Arifin mengungkapkan, jasad FK sudah diotopsi.

"Berdasarkan otopsi dan identifikasi TKP, FK ini meninggal bunuh diri.

Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Hasil identifikasi TKP, korban gantung diri, lehernya terjerat tali.

Bukan dijerat atau dilakukan  orang lain," ujarnya.

Hasil otopsi juga mengungkap, Ferry sudah meninggal setidaknya tiga hari sebelum ditemukan

"Paling cepat tiga hari sebelum ditemukan. Bisa lebih dari itu," katanya.

Barang bukti di TKP

Lanjut Aruan yang juga didampingi Kapolsek Pineleng, Iptu M. Pasaribu,

sejumlah barang bukti di TKP juga memastikan mayat tersebut adalah jasad Ferry Kalesaran.

Di TKP ditemukan tas hitam merek Kalibre, satu ponsel, satu smartphone, sendal jepit hitam, kemeja kotak-kotak merah.

Barang bukti tali tambang yang digunakan <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/ferry-kalesaran' title='Ferry Kalesaran'>Ferry Kalesaran</a> (50) untuk gantung diri di Perkebunan Desa <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/koha' title='Koha'>Koha</a>, Minahasa.

(Foto: Barang bukti tali tambang yang digunakan Ferry Kalesaran (50) untuk gantung diri di Perkebunan Desa Koha, Minahasa. (Tribun Manado/Fernando Lumowa)

Lalu, rokok Gudang Garam dan tali tambang yang digunakan untuk gantung diri.

"Selain itu ada juga nota-nota belanja bahan bangunan atas nama yang bersangkutan (FK)," jelasnya.

Istri Tolak Jenazah Almarhum Ferry Kalesaran 

Tine, istri dari Ferry Kalesaran (FK), tidak mau menerima mayat yang diduga suaminya.

Mayat tersebut ditemukan di perkebunan Desa Koha 1, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulut, Jumat (28/5/2021) pagi.

Kondisi mayat menghitam.

Ferry Kalesaran diduga sebagai pelaku pembunuhan Marsela Sulu, bocah berusia 12 tahun asal Desa Koha, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Cerita yang beredar di masyarakat, ia diduga bunuh diri dengan menggantung diri di pohon.

"Saya sudah tak mau terima, mau dibuat apa kek, saya tak mau terima," kata dia.

Kata-kata itu diulangnya kepada Tribun Manado. Dengan tegas.

Menurut Tine, hubungan ia dan FK selama ini akur-akur saja.

Tak ada pertengkaran antara keduanya.

Tine mengatakan, ia dan FK sudah punya tiga cucu.

"Ada anak saya di sini dan lainnya di daerah lain," kata dia.

Amatan Tribun Manado, rumah FK dalam keadaan tertutup.

Tribun menjumpai Tine lewat bantuan tetangga.

Kepada Tribun, Tine hanya menyebut bahwa ia tak mau terima jenazah tersebut.
Selebihnya ia bungkam. 

Pengakuan Ayah Marsela Sulu, Edi Sulu Cegah Warga Bakar Rumah Ferry Kalesaran

Emosi ratusan warga Desa Koha, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, memuncak saat melihat tas berisi jenazah yang diduga Ferry Kalesaran (FK) digotong dari kawasan perkebunan menuju mobil polisi, Jumat (28/5/2021) siang. 

Warga berteriak, mencaci maki, jenazah yang diduga FK. 

FK diduga sebagai pelaku pembunuhan terhadap Marsela Sulu (12), warga Desa Koha yang jenazahnya ditemukan tewas dalam karung. 

"User pa dia. Bakar pa dia. Jang kubur sini," teriak warga. 

Emosi warga memuncak sejak hari pertama jenazah Marsela ditemukan. 

Saat itu sejumlah warga hendak membakar rumah FK. Ada yang sudah bawa bensin. 

Tapi Edi Sulu, ayah Marcela mencegah perbuatan itu. 

"Istri dan anaknya tak salah. Biarlah aparat hukum yang bertindak," kata dia. 

Lewat seorang warga, ia berpesan pada keluarga FK untuk mengungsi dulu guna mencegah emosi warga. 

Sebagai warga kristiani taat, Edi memilih berdoa. 

"Saya setiap malam berdoa agar Tuhan memberikan keadilan," ujar dia. 

Sebagai manusia biasa ia mengaku sulit mengampuni. 

Tapi pada malam sebelum jenazah anaknya ditemukan, Edi berdoa dan hatinya terasa lapang. 

"Saya memutuskan mengampuninya. Sebagai insan manusia saya juga punya dosa dan salah," beber dia. 

Saat evakuasi jenazah FK, ia memantau dari jauh. 

Sempat dilihatnya jenazah itu sekilas.

"Tapi saya mengambil jarak. Agar bisa terus menenangkan diri," katanya. 

Edi menuturkan, ia sangat ingin FK ditemukan. 

Sampai sampai ia enggan makan.

"Saya tak mau makan sebelum jenazah itu ditemukan," ujarnya. 

Ia mengucapkan terima kasih kepada aparat kepolisian, TNI, ormas, warga dan seluruh pihak yang 
sudah membantu proses pencarian.

Sebut dia, keluarga mendapatkan simpati dari banyak pihak. 

"Ada pelukis yang sumbangkan karyanya tentang anak saya. Lukisan itu saya pajang di dinding," ujar dia.

(Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa/Artur Rompis)

Berita Terkait Pembunuhan Marsela Sulu

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved