Breaking News:

Final Liga Champions

Manchester City vs Chelsea di Final Liga Champions, Pentas Sastera Bola

Tulisan Willy Kumurur, penikmat bola. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kini tinggal di Bogor. 

handover
dr Willy Kumurur 

Pentas Sastera Bola

Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kini tinggal di Bogor. 

SANG WAKTU adalah sekuens linier yang didefinisikan oleh masa kini; dalam pemahaman linier ini, masa depan belum terjadi, sedangkan masa lalu bukan lagi bagian dari masa kini.

Jika waktu dipecah-pecah menjadi beberapa satuan regular -detik, menit, jam- maka inilah pemahaman fundamental dari waktu.

Demikian ujar filsuf Inggeris, Simon Critchley, tatkala memulai uraiannya tentang apakah sepakbola dapat memicu perjalanan waktu.

Lanjut Critchley, tatkala kita menonton permainan sepakbola, waktu dapat terasa bertambah cepat atau malah berjalan lambat, seakan-akan intensitas waktu dapat bergeser.

Kita tak mengalami waktu sebagai sebuah kontinum, melainkan rangkaian intensitas yang berubah-ubah bentuk dan berkembang.

Terkadang ada periode penuh kebosanan total, namun terkadang ada momen waktu seolah berjalan lebih cepat.

Anehnya, di dalam sepakbola, waktu menunjukkan bentuknya yang berbeda, yaitu: cair.

Keluarga Critchley semuanya berasal dari Liverpool dan karena itu ia adalah penggemar berat klub Liverpool.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved