Berita Internasional

Pemerintah Paksa Pesawat Mendarat Bilang Ada Bom, Ternyata Tangkap Tokoh Oposisi

Belarus menangkap Roman Protasevich, jurnalis bersama pacarnya dalam “pembajakan” dramatis pesawat Ryanair

Editor: Aldi Ponge
AP PHOTO/MINDAUGAS KULBIS
Pesawat Ryanair dengan nomor registrasi SP-RSM yang membawa aktivis oposisi Belarus, Roman Protasevich, dengan rute Athena ke Vilnius di Lituania, dipaksa mendarat di Minsk, ibu kota Belarus, pada Minggu (23/5/2021). Perintah pendaratan paksa ini dikeluarkan secara personal oleh Presiden Alexander Lukashenko, dengan memerintahkan jet tempur MiG-29 untuk mengawal pesawat Ryanair. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah Belarus memaksa mendarat Pesawat Ryanair menuju Lituania.

Mereka berdalih mendapat ancaman bom, sehingga harus mengalihkan paksa penerbangan Yunani ke Lituania pada Minggu (23/5/2021).

Tenyata rezim Presiden Belarus Alexander Lukashenko bertujuan menangkap kritikus terkemuka.

Amerika dan Eropa mengecam ulah rezin Alexander Lukashenko.

Belarus menangkap Roman Protasevich, jurnalis bersama pacarnya dalam “pembajakan” dramatis pesawat Ryanair

Roman Protasevich mantan editor mereka dan aktivis oposisi yang diasingkan, telah ditahan di bandara Minsk.

Protasevich ditahan setelah penerbangannya dengan pesawat Ryanair menuju Lituania dipaksa melakukan pendaratan darurat.

Nexta Live dan Nexta adalah suara terkemuka dari oposisi Belarus, dan membantu memobilisasi pengunjuk rasa di demo Belarus untuk menentang hasil pemilu tahun lalu yang kembali dimenangi Alexander Lukashenko.

Kantor berita TASS mengutip layanan pers bandara Minsk mengatakan, Protasevich sedang dalam perjalanan dari Athena ke Vilnius di Lituania, dan melakukan pendaratan darurat karena ada ancaman teror bom.

"Pesawat sudah diperiksa, tidak ada bom yang ditemukan dan semua penumpang diperiksa lagi," kata Nexta dikutip Kompas.com dari AFP.

"Di antara mereka adalah... jurnalis Nexta Roman Protasevich. Di ditahan."

Nexta menambahkan bahwa Protasevich mengaku diikuti sebelum naik pesawat.

Tahun lalu Protasevich yang berusia 26 tahun dan pendiri Nexta, Stepan Putilo (22), dimasukkan ke daftar individu yang terlibat aktivitas teroris oleh Belarus.

Keduanya tinggal di Polandia, dan dituduh menyebabkan kerusuhan massal. Pelanggaran itu dapat menyebabkan hukuman penjara hingga 15 tahun.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved