Soeharto

23 Tahun Lalu, Orde Baru Berakhir, Presiden Soeharto Mundur dari Jabatan

Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, setelah sebelumnya terpilih kembali untuk ketujuh kalinya. 

Penulis: Ventrico Nonutu | Editor: Ventrico Nonutu
Maya Vidon/Getty Images
Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bulan Mei menjadi peringatan atas sejumlah peristiwa yang pernah dialami bangsa Indonesia.

Aksi demo besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto untuk mundur.

Mundurnya Soeharto menandakan berahirnya era Orde Baru dan berganti menjadi era Reformasi.

Baca juga: Isi Surat Pemimpin Hamas pada Jokowi, Soal Konflik Israel Palestina, Minta Indonesia Lakukan Hal Ini

Baca juga: Ditandai 2 Peristiwa Penting, Ini Sejarah Singkat Hari Kebangkitan Nasional

Pada 23 tahun lalu, Presiden Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai presiden.

Soeharto membacakan pidato pengunduran diri pada tanggal 21 Mei 1998.


Foto: Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung MPR/DPR.

Hal tersebut juga menandai berakhirnya era Orde Baru setelah berkuasa selama 32 tahun. 

Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, setelah sebelumnya terpilih kembali untuk ketujuh kalinya. 

Mundurnya Soeharto merupakan puncak dari kerusuhan dan aksi protes di berbagai daerah dalam beberapa bulan terakhir ketika itu. 

Berikut isi pidato pengunduran diri Presiden Soeharto: 

Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998. 

Kabar mundurnya Soeharto saat itu disambut gembira oleh kerumunan massa yang telah menduduki Gedung DPR dan MPR. 

Harian Kompas, 22 Mei 1998, menggambarkan, para mahasiswa yang mengerumuni pesawat televisi di Lobi Lokawirasabha DPR berteriak dan bersuka cita begitu mendengar Presiden Soeharto mundur. 

Mereka berlarian ke tangga utama DPR sambil menyanyikan lagu Sorak-sorak Bergembira.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved