Minggu, 10 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado

7 Fakta Menarik Tentang Kota Manado

Manado memiliki pesona alam yang menarik. Serupa paket komplit restoran, kota ini menawarkan wisata bahari, gunung, budaya, religi, dan belanja.

Tayang:
Jumadi Mappanganro
Suasana malam hari di pusat belanja di kawasan Boulevard, Kota Manado, Sulut. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Tahu kan Kota Manado? Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini telah lama dikenal luas.

Tak hanya di Nusantara, tapi juga sudah dikenal hingga di luar negeri.

Tak heran kota dengan penduduk lebih 433.000 jiwa (BPS 2020) ini selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Termasuk turis asing.

Apalagi saat sebelum pandemi Covid-19.

Faktor penyebabnya banyak. Di antaranya karena Manado memiliki pesona alam yang begitu menarik.

Serupa paket komplit restoran, kota ini menawarkan wisata bahari, gunung, budaya, religi, hingga belanja.

Nah berikut 7 fakta menarik tentang Kota Manado yang memiliki 11 kecamatan serta 87 kelurahan dan desa.

1. Memiliki Panorama Bawah Laut Terindah

Wisatawan menikmati keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken dengan ber-snorkeling
Wisatawan menikmati keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken dengan ber-snorkeling (handover)

Banyak wisatawan, termasuk turis, sengaja datang ke Manado hanya karena ingin ke Pulau Bunaken.

Mereka tertarik menyaksikan panorama alam bawah laut di sekitar Pulau Bunaken.

Pulau Bunaken yang masuk wilayah administrasi Kota Manado merupakan satu dari 4 pulau di Taman Nasional Bunaken yang mendunia.

Taman ini memiliki panorama alam bawah laut yang sangat cantik.

Terumbu karang yang terjaga hingga berbagai jenis ikan cantik aneka warna bisa dengan mudah ditemukan di laut sekitar Pulau Bunaken.

Kecantikan karang hingga ikan-ikan bawah laut Pulau Bunaken terhampar luas memanjang di balik air laut yang biru.

Terumbung karang di pulau ini sangat unik karena berupa dinding atau tebing yang menjorok ke bagian bawah.

2. Kota Seribu Gereja

Turis Cina saat mengunjungi Gereja Sentrum Manado
Turis Cina saat mengunjungi Gereja Sentrum Manado (Paschalis Serty/tribun manado)

Jika menyusuri Kota Manado, maka Anda akan mudah menjumpai gereja.

Rumah ibadah umat Kristiani ini tersebar hampir di seluruh sudut kota.

Saking banyaknya, Manado pun dijuluki sebagai Kota Seribu Gereja.

Setiap gereja yang ada di Kota Manado bahkan memiliki ciri khas bangunannya masing-masing.

Kota Manado bahkan banyak dianggap sebagai Rio de Jainero-nya Indonesia karena punya banyak gereja seperti di kota di Brasil tersebut.

Salah satu gereja terkenal di kota ini adalah Gereja Sentrum Manado. Inilah gereja tertua di Kota Manado.

Awalnya gereja ini bernama Gereja Besar (Oude Kerk) Manado.

Berdiri bersamaan dengan dibangunnya Benteng Nieuw Amsterdam di Manado pada tahun 1677.

Arsitektur Gereja Sentrum Manado berbentuk khas gereja-gereja Protestan di negeri Belanda.

Pada perang dunia II, gereja ini hancur dibom.

Pada 1952, gereja yang merupakan artefak budaya ini dibangun kembali dan ditahbiskan pada 10 Oktober 1952.

Pada 1995, Ratu Beatrix dari Belanda dan suaminya, Pangeran Claus Van Amsberg, pernah mengunjungi gereja ini.

Walau dijuluki Kota Seribu Gereja, rumah-rumah ibadah agama lain seperti masjid dan klenteng juga banyak berdiri di kota ini. Penduduk kota ini sangat toleran.

3. Kaya Kuliner dan Suka Pedas 

Tinutuan adalah makanan khas populer Kota Manado. Orang luar Sulut lebih mengenalnya dengan sebutan bubur Manado.
Tinutuan adalah makanan khas populer Kota Manado. Orang luar Sulut lebih mengenalnya dengan sebutan bubur Manado. (Jumadi Mappanganro)

Manado juga dikenal kaya dengan kuliner khasnya. Umumnya pedas-pedas.

Warga kota ini umumnya suka makanan pedas. Apa saja makannya, selalu saja dicampur sambal pedas.

Karena itu, belum afdol rasanya jika datang ke Kota Manado ini tanpa mencicipi kuliner khasnya.

Paling terkenal adalah Tinutuan. Orang luar Sulawesi Utara lebih mengenalnya dengan nama Bubur Manado.

Tinutuan merupakan makanan yang dibuat dari campuran berbagai sayuran hijau, dimasak dengan bubur beras dan labu kuning. Sangat cocok disantap sebagai sarapan.

Sentra kuliner tinutuan di Manado ada di Jalan Wakeke.

Di jalan ini, berjejer penjual tinutuan. Mulai yang sederhana sampai yang tempatnya mewah.

Selain tinutuan, makanan khas Manado lainnya adalah Cakalang Fufu dan Dabu-dabu yakni sambal yang diolah dari cabe. Rasanya sangat pedas.

Ada juga sambal roa yang dibuat dari cabe yang dicampur dengan ikan roa (sejenis ikan terbang) yang ditumbuk halus.

Di Manado ada pisang goreng yang sangat khas. Namanya pisang goreng goroho. Pisang ini digoreng hingga garing justru saat belum masak.

Ada juga Es Brenebon yang diolah dari brenebon (kacang merah) dan Klapertaart yang terbuat dari bahan dasar kelapa, tepung, susu, telur dan mentega.

Klapertaart sangat cocok disantap dalam kondisi masih dingin.

4. Cantik dan Cerdas

Nagita Slavina.
Nagita Slavina. (YouTube TS Media)

Manado juga dikenal dengan wanita cantik. Juga pintar dan berprestasi.

Tak sedikit artis cantik yang kini berkiprah di Jakarta berasal atau berdarah Manado.

Di antaranya Nagita Slavina, Jessica Milla, Ranti Maria, Amanda Manopo, Velove Vexia, Kezia Karamoy, Indah Kalalo, hingga Stevani Nepa.

Artis berdarah Manado lainnya adalah Julie Estelle, Cathy Sharon, Naysila Mirdad, Nana Mirdad, Adelia Lontoh, Audy Item, Cathy Lengkong, hingga Christy Jusung.

5. Suka Menyanyi

Mikha Tambayong
Mikha Tambayong (Instagram@miktambayong)

Bagi orang Manado, menyanyi adalah hobi yang tidak bisa tergantikan.

Apa saja acara yang digelar di kota ini, termasuk acara resmi, selalu diisi dengan acara menyanyi.

Mungkin karena itu, tak sedikit penyanyi atau musisi Indonesia terkenal saat ini berdarah Manado.

Di antaranya finalis Indonesian Idol Dearly Dave Sompi, gitaris Jopie Reinhard Item, Audy Item, dan Mikha Tambayong.

Ada juga Gideon Tengker, ayah Nagita Slavina alias Gigi. Ia merupakan gitaris ternama di era 80-an dan melejit lewat band blues bernama Drakhma.

6. Nama Panjang

Julyeta Paulina Amelia Runtuwene, mantan Rektor Universitas Negeri Manado
Julyeta Paulina Amelia Runtuwene, mantan Rektor Universitas Negeri Manado (fernado lumowa/tribun manado)

Nama-nama orang Manado umumnya panjang. Terdiri atas tiga hingga empat kata.

Umumnya nama-nama mereka mengikutsertakan nama keluarga atau marga.

Nama marga biasa juga disebut fam yang menunjukkan pengaruh dari bahasa Belanda, familienaam yang berarti ‘nama keluarga’.

Marga Minahasa diambil dari nama keluarga yang digunakan oleh kepala rumah tangga (orang tua lelaki).

Dengan demikian umumnya nama anak dari sebuah keluarga akan ditambahkan nama keluarga sang ayah di belakangnya.

Misal nama Godbless Sofcar Vicky Lumentut. Disingkat GSVL.

Biasa juga ditulis Vicky Lumentut. Dia adalah Wali Kota Manado periode 2010-2015 dan 2016-2021,

Sedangkan istri GSVL bernama lengkap, Julyeta Paulina Amelia Runtuwene. Biasa disingkat JPAR.

Dia adalah guru besar sekaligus mantan Rektor Universitas Negeri Manado (Unima).

Ada juga Richard Henry Martin Sualang. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Unsrat ini kini menjabat Wakil Wali Kota Manado periode 2021-2026.

Ada juga Rio Alexander Jeremia Dondokambey, Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Provinsi Sulut Periode 2020-2025.

Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu tahu kan?

Lelaki yang akrab ditulis Arnold Mononutu adalah Pahlawan asal Manado. Ia rektor pertama Unhas sekaligus mantan Menteri Penerangan RI era Orde Lama.

7. Dipimpin Wali Kota Beragama Konghucu

Wali Kota Manado Andrei Angouw
Wali Kota Manado Andrei Angouw (Jumadi Mappanganro)

Sejak 10 Mei 2021, Wali Kota Manado kini dijabat Andrei Angouw (50).

Suami Irene Golda Pinontoan ini tercatat sebagai kepala daerah beragama Konghucu pertama di Indonesia.

Pada Pilkada Manado 2020, Andrei Angouw yang berpasangan dengan Richard Henry Martin Sualang ini unggul dengan 88.303 suara atau 36,7 persen.

Andrei dan Richard sesama politisi PDIP.

Sebelumnya, Andrei Angouw juga tercatat sebagai Ketua DPRD Sulut pertama yang beragama Konghucu.

Fakta ini dianggap menarik karena warga Kota Manado didominasi pemeluk agama Kristen.

Sedangkan pemeluk agama Konghucu termasuk minoritas di Manado.

Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa warga Kota Manado sangat toleran. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved