RHK Rabu 5 Mei 2021

RENUNGAN HARIAN KRISTEN 1 Raja-raja 10:4-7 - Tercengang dan Terkagum-kagum

Tercengang dan terkagum-kagum. Itulah kata-kata yang tepat menggambarkan suasana hati dan pikiran ratu negeri Syeba, ketika menyaksikan

Editor: Aswin_Lumintang
WWW.THOUGHTCO.COM
Renungan 

1 Raja-raja 10:4-7
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tercengang dan terkagum-kagum. Itulah kata-kata yang tepat menggambarkan suasana hati dan pikiran ratu negeri Syeba, ketika menyaksikan langsung "keajaiban" hikmat yang dimiliki raja Salomo. Langkah, tapi nyata. Itulah yang terjadi. Sulit baginya membayangkan ada sosok manusia seperti raja Salomo dengan hikmatnya yang luar biasa.

Dari cerita mulut ke mulut, dia telah mendengar hikmat, kemahsyuran dan kemakmuran serta kemuliaan yang dimiliki Salomo. Tapi, alangkah terkejutnya ia ketika berhadapan langsung dan menyaksikan kekayaan hikmat raja.

ilustrasi
ilustrasi ()

Ratu negeri Syeba membandingkan kabar yang dia dengar dengan kenyataannya jauh berbeda. Dia membayangkan Salomo adalah sosok raja berhikmat yang masih dalam batas tertentu sehingga dia ingin mengujinya. Tapi ketika dia bertemu, ratu mengatakan bahwa apa yang dia dengar belum mencapai setengah dibandingkan dengan kenyataan tentang Salomo.

Kenyataannya jauh melebihi dari apa yang dia dengar dan bayangkan. Itulah yang membuat ratu negeri Syeba tercengang, terkagum-kagum dan terheran-heran.

Demikian firman Tuhan hari ini.
  maka tercenganglah ratu itu. Dan ia berkata kepada raja: "Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar." (ay 5b, 6, 7)_

Tak percaya, tapi nyata. Sulit dipercaya dan ditakar nalar atau akal. Padahal ratu juga seorang yang intelek dan termahsyur. Tapi yang dia lihat sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Jauh melebihinya.
Sebab ternyata hikmat Salomo bukan hanya dalam hal berkata-kata. Bukan juga hanya pada masalah kebijaksanaan dalam mengambil keputusan krusial. Tapi hikmatnya paripurna.

Ratu negeri Syeba sangat kaget ketika melihat bagaimana rumah yang dibangun, cara hidup orang-orang di sekitar raja, cara para pelayan melayani, termasuk cara makan, cara duduk, cara berbicara, pakaian yang digunakan, dan terutama cara Salomo mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan Allah, sebagai Sang Sumber dan Pemilik hikmatnya.

Ratu sulit memahaminya dengan akal. Itu sangat luar biasa. Dia "terhipnotis" dengan apa yang dia saksikan atas karya kuasa dan kasih Allah bagi raja Salomo.

Salomo tidak egois. Hikmatnya bukan untuk dirinya sendiri. Juga bukan untuk kemegahan namanya saja. Tapi, juga untuk kemaslahatan, kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya.

Jadi Salomo membangun hikmatnya sebagai satu "ekosistem." Semua melaksanakan, merasakan dan menikmati hikmat itu. Dia membangun hubungan yang harmonis dalam kesejajaran dan kebersamaan yang bernilai etika dan moral. Begitulah dia membangun "ekosisten" hikmat yang dia peroleh dari Tuhan Allah. Hikmatnya dinikmati bersama, jadi berkat bersama dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk bagi pelayan-pelayannya.

Sahabat Kristus, jika kita telah mencari dan memiliki hikmat, maka janganlah "nikmati sendiri." Janganlah hikmat yang ada pada kita justeru membatasi hidup kita dengan orang lain. Itu namanya tidak berhikmat. Hikmat kita bukan untuk kita saja. Justeru hikmat itu ada agar orang di sekitar kita ikut menikmatinya.

Hikmat yang kita dapatkan dari Tuhan, haruslah menghasilkan buah yang mendatangkan berkat bagi sesama. Hikmat yang ada pada kita hendaklah membuat orang lebih banyak datang kepada Tuhan, bukan lari dari Tuhan.
Itulah yang Tuhan Yesus kehendaki kita perbuat sebagai pengikut dan murid-Nya. Hikmat yang hanya dinikmati diri sendiri adalah hikmat yang egois dan mati suri. Tapi jika hikmat kita membawa berkat bagi orang lain, maka kita telah menolong dan menyelamatkan sesama. Sehingga hidup kita menghasilkan buah, yakni buah berkat bagi orang lain dan buah kemuliaan bagi nama Tuhan.

Setiap keluarga dan umat Kristen hendaklah hidup berhikmat dan memancarkan hikmatnya untuk menghidupkan orang lain dan memuliakan Tuhan. Maka, ikuti dan lakukanlah semua firman Tuhan, sebab itulah hikmat yang sejati. Tuhan Yesus pasti memakai kita lebih heran lagi untuk hormat dan kemuliaan nama-Nya. Amin

DOA: Tuhan Yesus, mampukan kami membagi hikmat kepada orang lain untuk jadi berlat bagi sesama. Amin

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved