Hardiknas 2021
Perjalanan Hidup Seorang Jurnalis yang Akhirnya Dijuluki Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hadjar Dewantara salah satu pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia, maka dari itu Hari Pendidikan Nasional
Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei.
Disingkat dengan Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional diperingati bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara salah satu pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia, maka dari itu Hari Pendidikan Nasional bertepatan dengan kelahirannya.

Lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda, Ki Hadjar Dewantara dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.
Kenapa tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)?
Hal ini tak lepas dari jasa-jasanya sebagai pelopor kebangkitan pendidikan di Indonesia.
Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Pada Hari Pendidikan Nasional ini, mari lebih mengenal kiprahnya sebagai pelopor pendidikan.
• Fakta-fakta Ki Hadjar Dewantara: Bukan Nama Asli hingga Menteri Pendidikan di Kabinet Pertama RI
Mengetahui seputar Ki Hajar Dewantara tentu menarik.
Tak hanya karena jasa beliau dalam dunia pendidikan, tapi sepak terjangnya dalam membantu kemerdekaan RI juga tidak bisa disepelekan sampai dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia.
Terlebih latar belakang kehidupan yang dimilikinya, menjadikan perjuangannya di bidang pendidikan menjadi menarik untuk dilihat.
Berikut adalah ulasan profil Ki Hajar Dewantara yang bisa Anda simak.
Perjalanan Hidup Bapak Pendidikan Indonesia
Lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, tentu ia memiliki previlese sebagai keturunan bangsawan.
Meski demikian, justru hal ini yang membuat perspektifnya pada dunia pendidikan yang dibuat penjajah Belanda saat itu menjadi menarik.
Dahulu hanya anak pejabat, keturunan Belanda, dan keturunan Cina aja yang boleh bersekolah.
![]()
Ia menentang keputusan Belanda ini dengan berbagai protes dan aksi damai, untuk meminta hak pendidikan agar bisa diakses oleh masyarakat luas.
Akibat pandangan dan pendapatnya ini, ia kemudian diasingkan.
Meski demikian ketika pulang dari pengasingan justru ia mendirikan Taman Siswa, cikal bakal sekolah yang bisa diakses oleh masyarakat luas.
Jika melihat riwayat pendidikannya, dapat dikatakan Ki Hajar Dewantara mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
• Kisah Ki Hadjar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Nasional, Titip Wasiat Tak Mau Namanya Diabadikan
Menamatkan sekolah dasar di ELS yang merupakan sekolah dasar Eropa Belanda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA.
Sayangnya pendidikan di sekolah dokter ini tidak diselesaikan karena mengalami sakit.
Ia kemudian melanjutkan hidupnya dengan menjadi wartawan di beberapa surat kabar kala itu.
Dikenal dengan tulisannya yang kritis, tajam, sefta anti kolonial, namanya lekas melambung dan mendapatkan perhatian banyak orang.
Tak heran dalam waktu singkat, kemudian ia berhabung di Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai sebagai seksi propaganda.
Setelah serangkaian aktivitas sosial dan politik dijalani kemudian Ki Hajar Dewantara diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pendidikan.
Ia memegang jabatan ini hanya selama beberapa bulan, sebelum digantikan oleh Todung Sultan Gunung Mulya.
fakta seputar Ki Hadjar Dewantara, dari nama asli hingga semboyannya yang terkenal sampai saat ini.
1. Bukan Nama Asli
Sebenarnya, Ki Hadjar Dewantara bukanlah nama aslinya.
Bapak Pendidikan Nasional ini bernama lengkap Raden mas Soewardi Soerjaningrat.
Ia lahir di Pakualaman pada 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959.
Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922.
Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.
2. Seorang Jurnalis
Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang penulis, wartawan muda, dan tokoh yang aktif di organisasi pemuda pada masa kolonial Belanda.
Tulisan-tulisannya terkenal keras dan mengandung kritikan-kritikan pedas yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda atas tindakan yang sewenang-wenang kepada orang-orang pribumi.
Ia sempat bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.
• DAFTAR Ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2021, Cocok Dibagikan di Media Sosial
3. Pendiri Taman Siswa
Ki Hadjar Dewantara sempat diasingkan di Belanda bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Ketiga tokoh yang dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai itu diasingkan karena protes dan tulisan pedas terhadap pemerintahan Hindia Belanda.
Pada masa pengasingan di Belanda, banyak pengaruh yang mendasarinya mengembangkan sistem pendidikan.
Ki Hadjar kembali ke Indonesia pada bulan September 1919 dan segera bergabung ke sekolah binaan saudaranya.
Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.
Pada tahun ini pula ia mengganti namanya dari Soewardi menjadi Ki Hadjar Dewantara.
Gelar Raden Mas pada nama aslinya ia lepas agar bisa bebas dekat dengan rakyat baik fisik maupun jiwa.
4. Semboyan Terkenal
![]()
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya hingga kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia.
Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi 'ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani'.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira bunyinya adalah 'di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan'.
Kalimat terakhir, 'tut wuri handayani' menjadi slogan di logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia hingga kini.
• Sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia & Penulis Handal, Aktif Organisasi Sospol
5. Diangkat jadi Menteri Pendidikan
Pada kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pertama.
Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada.
Ki Hadjar juga dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959).
Pada Surat Keputusan itu juga, hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul 5 Fakta Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dengan Semboyan Tut Wuri Handayani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ki-hadjar-dewantara-salah-satu-pahlawan-nasional.jpg)