KKB Papua
Cerita Guru Junaedi, Sembunyi di Semak-semak, Saksikan Rekan Dibunuh KKB Papua: Yonatan Kasian Kena
Junaedi menceritakan detik-detik dirinya lolos dari rentetan tembakan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB). "saya masih bisa lolos" ungkap Junaedi.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kesaksian salah satu guru di SMP Negeri 1 Beoga diserang KKB Papua di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak.
SMP Negeri 1 Beoga diketahui dibakar anggota KKB Papua setelah menembak mati guru Oktovianus Rayo (40).
Pengakuan Junaedi deteik-detik dirinya dikejar hingga sembunyi di semak-semak untuk selamatkan diri dari serangan KKB Papua.
Namun nahas, rekannya bernama Yonatan tewas dibunuh KKB Papua.
Walau kehilangan teman dekatnya, Junaedi Arung Sulele masih bisa selamat dari kejaran KKB Papua dan melanjutkan hidup.
(Foto: Guru Junaedi Arung Sulele yang selamat dari kejaran KKB Papua. Saksikan rekannya ditembak KKB Papua./Antara Foto/Evarianus Supar.)
Sosok pria yang bekerja sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua ini tak menyangka masih diberi kesempatan untuk hidup setelah berhasil sembunyi dari penembakan KKB.
Bahkan, Junaedi harus bersembunyi di balik semak-semak demi menyelamatkan diri dari aksi brutal KKB Papua selama dua jam lamanya.
Guru Junaedi menceritakan detik-detik dirinya lolos dari rentetan tembakan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Junedi mengaku, peristiwa itu terjadi saat dirinya dan mendiang Yonatan Renden (28), pulang dari mengambil terpal untuk jenazah Oktovianus Rayo (40),
salah satu guru yang tewas ditembak KKB pada Kamis (8/4/2021) di Kampung Julugoma.
"Setelah kami pulang, ternyata di depan rumah kami dapat tembakan. Ini (Yonatan) kasian kena. Puji Tuhan saya masih bisa lolos. Saya lari ke sebelah kanan, dan korban ini ke sebelah kiri," ujar Junedi
Saat itu, kata Junedi, dirinya tak melihat siapa pelaku penembakan.
Junaedi hanya berpikir untuk menyelamatkan diri.
Lalu ia berlari dan bersembunyi di sebuah rumah.
Merasa tidak aman, Junaedi keluar lalu lari lagi.
Junaedi pun memilih bersembunyi di semak-semak di dekat rumah penduduk selama 2 jam.
Beberapa saat berselang, Junaedi memberanikan diri setelah mendengar suara aparat keamanan.
Junaedi menjelaskan, saat itu, petugas hendak mengevakuasi jenazah rekannya, Yonatan.
"Karena saya dengar suara pakai bahasa umum (bahasa Indonesia), saya buang suara, dan keluar dari semak-semak, dan kemudian ke Koramil," kata Junedi, dikutip dari Kompas.com dengan judul "Detik-detik Guru Junedi Lolos dari Aksi Penembakan KKB di Papua, Sembunyi 2 Jam dan Dikira Diculik "
(Foto: Potret SMP Negeri 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua yang dibakar KKB Papua./Kompas.com/Istimewa)
Guru Junaedi juga membantah soal dugaan dirinya telah diculik KKB.
Ia menerangkan, warga tak melihat keberadaan dirinya dan menduga telah dibawa KKB.
"Waktu petugas jemput korban ini tidak temukan saya. Akhirnya mereka dobrak pintu, dia cari saya tidak ada. Makanya anggota diatas sana pikir saya diculik, padahal saya menyelamatkan diri," tutur Junedi.
Junaedi juga menceritakan, Yonatan dan dirinya telah lama tinggal bersama.
Rencananya jenazah Yonatan akan dipulangkan ke kampung halamannya di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, untuk dimakamkan, pada Minggu (11/4/2021).
"Informasi dari keluarga mau dibawa ke Toraja untuk dimakamkan," ujar Junedi.
Serangan sebelumnya KKB Papua, penyanderaan penumpang Susi Air.
Kejadian menegangkan terjadi saat pilot dan penumpang Susi Air disandra Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Kejadian penyanderaan ini terjadi di Kabupaten Puncak, Papua, Jumat (12/3/2021) pagi.
Dalam aksi ini pilot dan penumpang selamat setelah terjadi negosiasi penumpang dan perwakilan KKB.
"Front bersenjata OPM (KKB) kembali melakukan teror dengan menyandera pesawat PT Asi Pudjiastuti Aviation (Pilatus PC-6 S1-9364 PK BVY) di Lapangan Terbang Wangbe,
Distrik Wangbe Kabupaten Puncak, Papua," ujar Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel CZI IGN Suriastawa, melalui rilis, Sabtu (13/3/2021).
Suriastawa menjelaskan, pesawat yang dipiloti Captain Ian John Terrence Hellyer warga negara Selandia Baru, dengan membawa tiga orang penumpang, Ricky Dolame, Arikala Dolame, dan Arike Wandikbo.
Sekitar pukul 06.20 WIT, 30 anggota KKB mendatangi Lapangan Terbang Wangbe dengan membawa dua puncuk senjata api laras panjang.
"Menurut pilot, dua di antara puluhan (anggota) KKB membawa senjata laras panjang. Beruntung selama disandera dua jam, pilot dan tiga penumpang tidak mengalami tindak kekerasan.
Walaupun merasa khawatir akan keselamatannya karena sempat ditodong senjata," kata Suriastawa.
Dari keterangan pilot, anggota KKB yang melakukan penyanderaan tersebut sempat mengancam agar pesawat maskapai Susi Air dilarang membawa penumpang aparat TNI-Polri.
Selain itu, KKB juga menyampaikan kekecewaannya dengan kepala kampung karena tidak memberikan dana desa.
Penyanderaan berakhir setelah negosiasi antara penumpang dengan pihak KKB.
Kemudian sekitar pukul 08.36 WIT pesawat Susi Air PK BVY take off menuju Terminal UPBU Bandara Moses Kilangin Timika dan mendarat dengan aman.
"Meskipun tidak terjadi korban, namun kejadian ini menunjukkan aksi teror KSB di wilayah Papua, termasuk teror terhadap aktivitas penerbangan sipil. Dan kami selalu berkoordinasi erat dengan pihak Kepolisian," kata Suriastawa.
Lapangan Terbang Wangbe di Kabupaten Puncak berjarak 43 km dari Sinak atau 48 km dari Sugapa, dan belum terdapat jaringan telepon serta internet. (Kontributor Kompas TV Timika, Irsul Panca Aditra)
(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunmataram.com dengan judul Detik-detik Guru Junaedi Selamat dari Kebrutalan KKB Papua, 2 Jam Sembunyi, Saksikan Teman Dihabisi, https://mataram.tribunnews.com/2021/04/11/detik-detik-guru-junaedi-selamat-dari-kebrutalan-kkb-papua-2-jam-sembunyi-saksikan-teman-dihabisi?page=all&_ga=2.179791271.288256735.1618093256-amp-ir4xX5N78gTSbBIRXhtO0Q.