Pondok Pesantren Manado

Mengenal Pondok Pesantren LPI PKP Manado, Monumental MTQ Nasional ke-10 tahun 1977

Dari Bandara Internasional Sam Ratulangi pesantren ini berjarak 11,3 km, atau 21 menit perjalanan dengan berkendara.

Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Rizali Posumah
Masjid Pesantren LPI PKP Manado. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Pondok Pesantren Karya Pembangunan (PKP) berlokasi di Jalan Arie Lasut, Kombos, Singkil Dua, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Pesantren ini berjarak 3,8 km dari pusat kota, sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan.

Dari Bandara Internasional Sam Ratulangi, berjarak 11,3 km, atau 21 menit perjalanan dengan berkendara.

Sejarah berdirinya pesantren ini tak lepas dari penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Ke-10 di Sulut

Dikisahkan, selepas MTQ Menteri Agama Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali meminta Gubernur Sulut Hein Victor Worang untuk membuat monumen. 

Monumen dibuat sebagai pengingat bahwa di Sulut pernah diadakan MTQ Nasional ke-10.

Selanjutnya, disepakatilah pendirian Pesantren LPI PKP di Kombos dan Islamic Center di area Masjid Raya Ahmad Yani di Lawangirung, Manado.

Menurut penuturan Ustaz Muhammad Syarif Azhar Lc, Pengasuh Pesantren LPI PKP Manado, lokasi berdirinya Pesantren LPI PKP Manado sendiri dulunya adalah tempat menginap para peserta MTQ.

Halaman depan Pesantren LPI PKP Manado.
Halaman depan Pesantren LPI PKP Manado. (tribunmanado.co.id/Rizali Posumah)

16 Januari 1978 LPI PKP Manado diresmikan, sekaligus dilaksanakan kegiatan program pendidikan untuk tahun ajaran 1978/1979 dengan jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP).

Tujuan didirikannya pesantren LPI PKP Manado agar dapat menjadi kader pembangunan bangsa yang bertakwa, cakap, dinamis dan terampil sesuai cita-cita pembangunan nasional.

Para santri Madrasah Diniyah nampak ceria bermain setelah mengikuti pelajaran.
Para santri Madrasah Diniyah nampak ceria bermain setelah mengikuti pelajaran. (tribunmanado.co.id/Rizali Posumah)

Sofyan A. P. Kau dalam buku berjudul Catatan Pinggir Seorang Santri: 70 Tahun Drs. K.H Rizali M. Noor mengungkap angkatan pertama santri LPI PKP adalah utusan dari berbagai daerah yang ada di Sulawesi Utara, seperti Bitung, Gorontalo, Manado, Tondano, Sangihe. Mereka ada 24 orang.

Pengajar pertama di LPI PKP ada 4 orang. Selain Kyai Haji (KH) Rizali M Noor sebagai pengasuh pesantren, ada juga Ustaz Abdullah Kuiliem, Ustaz Syamsudin Rauf dan Ustaz Tamruddin.

LPI PKP Manado pada perkembangan selanjutnya bernaung dalam Yayasan Karya Islamiyah (YKI), dengan para pendiri yakni: Tuan Kamis Haji Moehammad Yoesoef Oentowirjo, Drs. H. Abdullah Mokoginta, Drs. Ahmad Arbi, Drs. Abdul A.J. Paransa, SH, A.K. Badjeber, SH, Drs. Jainudin Ahmad dan Drs. Sukardi Yoesoef Oentowirjo yang selanjutnya digantikan oleh Drs. H. Abdullah Mokoginta, kemudian digantikan oleh Kolonel Purnawirawan Rauf Moo. Dan sebagai Kepala Unit Pendidikan Formal Bapak H.A.K. Badjeber, SH.

Asrama utama santri LPI PKP Manado.
Asrama utama santri LPI PKP Manado. (TRIBUN MANADO/DEWANGGA ARDHIANANTA)

Selama berdirinya LPI-PKP ini, eksistensinya sudah sangat dirasakan dalam masyarakat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Tribun Shopping

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved