Breaking News:

Vonnie Panambunan Tersangka

Vonnie Panambunan Ditetapkan Tersangka, Ini Kronologi Lengkap Kasus Pemecah Ombak

awalnya terdakwa Steven pernah diajak bersama terdakwa Rosa bertemu Bupati VAP melaporkan kondisi Desa Likupang II yang sering terkena banjir rob

TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Tanggul pemecah ombak Likupang 

4 Orang Telah Diputus Bersalah Hakim

Seperti diketahui pada 2 Juli 2018, Kejati Sulut menetapkan sidang agenda putusan terhadap ketiga terdakwa kasus pemecah

ombak yaitu Steven Solang (44) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) divonis 3,6 tahun penjara, denda Rp 50 juta dan subsidair satu bulan kurungan.

Terdakwa Rosa Tindajoh (54) yang menjabat kala itu, Kepala BPBD Kabupaten Minahasa Utara tahun 2016 divonis 3,6 tahun penjara, denda Rp 50 juta, subsidair satu bulan kurungan.

Sedangkan Robby Moukar (47), Direktur Manguni Makasiouw Minahasa sebagai pelaksana proyek divonis 2,6 tahun penjara, denda Rp 50 juta, subsidair satu bulan penjara.

Robby juga dikenai uang pengganti Rp 87 juta, dan bila hingga batas waktu yang ditetapkan uang pengganti

tersebut tidak bisa dipenuhi terdakwa Robby, ditambah dua bulan kurungan.

Selain itu ada mantan salah satu direktur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Junjungan Tambunan

divonis penjara 1 tahun 6 bulan dengan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan.

Nama Bupati Minut dan Mantan Kapolresta Manado Disebut Dalam Persidangan

Nama Bupati Minahasa Utara Vonni Anneke Panambunan disebut berkali-kali dalam dakwaan

yang dibacakan dalam sidang perdana korupsi pemecah ombak Likupang Minahasa Utara.

Bukan hanya bahkan mantan Kapolresta Manado, Kombes Pol Ryo Permana ikut disebut dalam sidang dakwaan kali ini.

Dalam sidang perdana ini, dihadirkan tiga terdakwa yakni Rosa Marina Tidajoh selaku Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Utara,

Steven Hendrik Solang Pejabat Pembuat Komitmen, dan Robby Maukar selaku kontraktor.

"Bahwa Vonnie Anneke Panambunan selaku Bupati Minahasa Utara menerbitkan surat keputusan Bupati Minut

nomor 68 tahun 2016 tanggal 18 Februari 2016 bahwa Kabupaten Minahasa Utara Siaga Darurat Bencana

Padahal menurut BMKG Kabupaten Minut tidak berpotensi bencana," ujar Jaksa Penuntut Umum Bobby Ruswin.

Selain itu, Vonnie Anneke Panambunan juga membuat dan menandatangani surat permohonan

bantuan Dana Siap Pakai (DSP) siaga bencana banjir dan longsor kepada Badan Penanggulangan Bencana Nasional.

Dalam sidang pertama ini diketahui bahwa Mantan Kapolresta Manado Ryo Permana

yang bertindak sebagai pelaksana kegiatan dilapangan sudah melakukan pekerjaan proyek sebesar 40 persen.

"Hal ini tentu saja bertentangan dengan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010

tentang pengadaan/jasa pemerintah pasal 87 ayat 3 bahwa penyedia barang dan jasa dilarang mengalihkan

pelaksanaan pekerjaan utama berdasarkan kontrak dengan melakukan sub kontrak dengan pihak lain," beber Bobby.

Usai persidangan, anggota JPU lainnya Pingkan Gerungan mengatakan bahwa pada sidang selanjutnya akan dihadirkan beberapa saksi.

"Kemungkinan Bupati dan Ryo Permana akan kami panggil juga," ujar Pingkan.

Adik VAP Juga Jadi Tersangka

Pasalnya setelah ditetapkannya adik bupati Minahasa Utara Alexander Panambunan sebagai tersangka baru dalam kasus korupsi pemecah ombak tahun 2016,

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut kembali melakukan penggeledahan di Kantor bupati Minut tepatnya di Bagian Hukum

Terpantau Rabu (27/1/2021) pada 16.44 Wita di tengah guyuran hujan deras,

petugas kejaksaan nampak melakukan pemeriksaan sekaligus menyita sejumlah dokumen yang diisi dalam map besar

Usai melakukan pengambilan dokumen, nampak petugas bergegas kembali ke mobil,

saat coba dikonfirmasi Tribun Manado, mereka lebih memilih bungkam

"No comment ya, nanti saja soalnya tunggu informasi dari Kejati," singkatnya sembari berlalu menggunakan mobil

Sementara Kabag Hukum Dolly Kenap, SH yang mengantar kepergian tim kejaksaan tinggi enggan berkomentar lebih

Sembari tertawa ia mengatakan dirinya belum bisa memberikan keterangan.

"Nanti ya saya tak bisa berkomentar," tandasnya.

Kejaksaan Tinggi ( Kejati) Sulawesi Utara belum berhenti mengungkap dugaan kasus Korupsi Proyek Pemecah Ombak/Penimbunan Pantai Desa Likupang

pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara Tahun Anggaran 2016.

Korps Adhiyaksa meringkus satu orang tersangka yang diduga ikut terlibat dalam kasus korupsi ini.

Dia adalah AMP alias Alexander yang adalah adik dari Bupati Minahasa Utara Vonnie Aneke Panambunan.

Penahanan terhadap AMP berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor Print-01/P.1/Fd.1/01/2021 tanggal 21 Januari 2021

yang ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara A. Dita Prawitaningsih, S.H., MH.

"Tersangka dilakukan penahanan di Rutan Polresta Manado selama 20 hari sejak tanggal 21 Januari 2021 s/d 09 Februari 2021," ujar Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Sulut, Theo Rumampuk SH MH.

Tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 3 jo. Pasal 15 jo.

Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

sebagaimana telah diubah dan ditambahkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.

Diketahui pada tahun 2017 AMP pernah dipanggil oleh Kejati Sulut untuk diperiksa dalam kasus ini.

Sayangnya AMP mangkir dalam pemeriksaan tersebut dengan alasan sakit.

Bukti surat sakit tersebut dibawa langsung kuasa hukumnya Stevi Da Costa.

"Kami hanya bawa surat pemberitahuan, klien kami sakit," kata Da Costa kepada Tribun Manado beberapa waktu yang lalu.

Menurut Da Costa, kliennya sebenarnya kooperatif, andai saja dalam keadaan sehat maka akan memenuhi panggilan.

"Sudah dua kali dipanggil kami akan berusaha setelah sehat tanpa panggilan, siap datang untuk klarifikasi," katanya.

Sebagaimana dalam dakwaan, kasus yang berawal Februari 2016 hingga Desember 2016,

awalnya terdakwa Steven pernah diajak bersama terdakwa Rosa bertemu Bupati VAP,

melaporkan kondisi Desa Likupang II yang sering terkena banjir rob,

dan oleh karenanya Bupati Minut menyampaikan rencana kegiatan proyek yang akan menggunakan anggaran dana

siap pakai BPDB, dan proyek akan dikerjakan terdakwa Robby yang juga ada dalam ruangan itu.

Selanjutnya atas perintah terdakwa Rosa memintakan terdakwa steven untuk membuat proposal usulan kegiatan proyek.

Singkat, dalam rangka mendapat dana siap pakai BPBD VAP selaku bupati menerbitkan surat keputusan

Bupati Minut No 60 Tahun 2016, tertanggal 18 Februari 2016 tidak berdasarkan pada adanya kondisi yang dinyatakan ekstrim.

Sesuai klimatologi prakiraan curah hujan di Kab Minut dibawah normal,

yang artinya sifat hujan tidak terlalu menghawatirkan dan tidak terdapat warning dari BMKG. Dan dana pun cair.

Belakangan ada selisih pekerjaan.

Terdakwa steven sendiri sebagai PPK tidak membuat usulan rencana kegiatan penanggulangan darurat membuat tanggul,

dan tidak melakukan tindakan lain dalam rangka pengendalian pelaksanaan perjanjian kontrak.

Untuk terdakwa Robby, dikatakan JPU, sejak awal sudah mengetahui akan mendapat proyek dan menerima perintah untuk mendirikan perusahaan,

PT MMM tidak melalui Pokja ULP BPDB melainkan mendapat penunjuk langsung dari Bupati VAP dengan alasan kategori dalam keadaan darurat.

Parahnya, ternyata pekerjaan dikerjakan orang lain Rio Permana, orang yang tidak memiliki hak untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

“Dan berdasarkan penghitungan yang dilakukan ahli dari Politeknik negeri manado.

Dengan melakukan pengukuran terhadap hasil pekerjaan Didapat tiga kesimpulan Pekerjaan yang tidak selesai,” ujar JPU.

Pekerjaan batu,panjang pasangan batu adalah 637 m volume pasangan batu adalah 7.569,16 m2.volume pasang batu tidak sesuai yang tertera dalam kontrak kerja.

Kondisi batu tidak rapi dan tidak saling mengikat, dimana tidak sesuai dengan surat edaran menteri PU no.07/SE.

Kedua, Pekerjaan geotekstil, tidak terpasang sesuai dengan volume yang ada didalam kontrak,

pada bagian sepanjang 145.8 m, pemasangan geotekstil salah, tidak pada tempatnya.

Dan yang ketiga pekerjaan penimbunan tanah telah selesai dilaksanakan,

akan tetapi volume timbunan melebihi volume didalam kontrak.

Sehingga menimbulkan kerugian negara dari selisih pekerjaan di dalam kontrak dengan yang terpasang dilapangan.

Akibatnya dalam perkara yang diduga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 8,8 Milyar tersebut,

para tersangka diduga telah menyalahgunakan wewenang dalam proyek pemecah ombak dan penimbunan pantai di desa Likupang Kabupaten Minahasa Utara.

VAP Ditetapkan Tersangka

 Mantan Bupati Minahasa Utara (Minut) VAP telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi proyek pemecah ombak Likupang II, Kabupaten Minut. 

Hal ini sebagaimana yang telah diinformasikan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulut A Dita Prawitaningsih melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sulut Theodorus J.B. Rumampuk. 

"Iya, benar sudah ditetapkan sebagai tersangka," terang Rumampuk saat dihubungi tribunmanado.co.id, Rabu (16/3/2021) malam. 

Diketahui, VAP telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pemecah ombak sejak Selasa 16 Maret 2021. 

Saat ini dirinya tidak ditahan oleh pihak Kejati Sulut dikarenakan sedang sakit dan dalam perawatan di RSPAD Jakarta. 

VAP ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah turut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 6,8 miliar. 

Dari jumlah tersebut, vak telah mengembalikan sekitar Rp4,2 miliar, dan masih ada sekitar 2 miliar lebih yang harus dipertanggungjawabkan Tersangka VAP.

Sebelumnya, Kejati Sulut baru saja menetapkan adiknya Alexander M Panambunan sebagai tersangka.

Proyek pemecah ombak sendiri adalah proyek yang dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minut T.A 2016 yang menyebabkan kerugian negara kurang lebih Rp8,8 miliar. (Tribun Manado) 

Baca juga: Masih Ingat Regina Idol? Baru Nikah Sudah Nangis, Ternyata Ingat Hal ini

Baca juga: Kartu Prakerja Gelombang 14 Diumumkan Lewat Dua Cara Ini, Catat Tanggalnya, Hati-hati Penipuan,

Baca juga: Potret Model Cantik Monica Indah, Payudaranya Rusak Lantaran Filler, Kesakitan Beberapa Bulan

Editor: Alpen Martinus
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved