Breaking News:

Hari Raya Nyepi 1943 Saka

Potret Kerukunan Umat Beragama di Manado, Batal Hajatan Demi Tetangga yang Nyepi

Kedekatan bangunan gereja dan pura merupakan simbol dari toleransi antar umat beragama di Manado, dimana mayoritas melindungi minoritas. 

Istimewa
Pura Jagadhita 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Bangunan sebuah gereja nampak dari antara gapura Pura Jagadhita di Kelurahan Taas Lingkungan IV, Kecamatan Tikala, Manado, yang berada di ketinggian.

Gereja itu hanya puluhan meter dari pura. Ada dua gereja lagi yang berada tepat di bawah pura itu.

Karena posisinya rapat dengan pura, bangunan dua gereja yang bersisian tersebut tak nampak dari atas. 

Pindanita Pura Jagadhita I Ketut Dirta menyebut, kedekatan bangunan gereja dan pura tersebut merupakan simbol dari toleransi antar umat beragama di Manado, dimana mayoritas melindungi minoritas. 

"Tak jauh dari gereja itu ada mesjid," kata dia. Ketut dijumpai Tribun Manado Minggu (14/3/2021) di Hari Raya Nyepi saat usai bersembahyang di rumahnya yang berada samping pura. 

Saat Tribun Manado bicara dengan ketut, udara memuntahkan perkataan injil dari pengeras suara Gereja yang pagi itu menggelar ibadah via pengeras suara yang marak di masa Covid 19.

Ketut tak terganggu sedikitpun. Malah menyebutnya harmoni sesuai tema nyepi di masa pendemi ini.  

Menurut Ketut, prosesi sembahyang massal telah berlangsung sejak dua hari lalu. 

Di hari raya nyepi, umat hanya datang sekali di pura untuk sembahyang secara pribadi. Selebihnya berdiam di rumah. 

Ketut menuturkan, kerukunan antar umat beragama di Manado sangat terasa saat hari raya nyepi. 

Halaman
12
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved