Breaking News:

Perayaan Nyepi di Manado Berlangsung Khidmat

Kami doakan agar pendemi segera berlalu dan kehidupan bisa kembali normal

arthur rompis
Pura Jagadhita di Kelurahan Taas Lingkungan IV, Kecamatan Tikala, Manado 

MANADO TRIBUNMANADO.CO.ID - Di Hari Raya Nyepi, Minggu (14/3/2021), umat Hindu di Manado berdoa agar Covid 19 segera lenyap.

"Kami doakan agar pendemi segera berlalu dan kehidupan bisa kembali normal," kata Pindanita Pura Jagadhita I Ketut Dirta di Pura Jagadhita, Minggu (14/3/2021) pagi. Sebut Ketut, umat berdoa pula agar program vaksinasi covid 19 dapat sukses. 

Umat Hindu menggelar Upacara Tawur Agung Kesanga pada Sabtu. Sebelumnya digelar ritual Melasti. "Di dua persembahyangan itu protokol Covid 19 diberlakukan ketat. Umat memakai masker," kata dia.

Ia mencontohkan, di Desa Mopugad Bolmong, Ogoh-ogoh dipakaikan masker. Hal itu sebagai simbol keprihatinan dunia terhadap pendemi.

Dari pantauian Tribun, Bangunan sebuah gereja nampak dari antara gapura Pura Jagadhita di Kelurahan Taas Lingkungan IV, Kecamatan Tikala, Manado, yang berada di ketinggian. Gereja itu hanya puluhan meter dari pura.

Ada dua gereja lagi yang berada tepat di bawah pura itu. Karena posisinya rapat dengan pura, bangunan dua gereja yang bersisian tersebut tak nampak dari atas.

Pindanita Pura Jagadhita I Ketut Dirta menyebut, kedekatan bangunan gereja dan pura tersebut merupakan simbol dari toleransi antar umat beragama di Manado, dimana mayoritas melindungi minoritas. "Tak jauh dari gereja itu ada masjid," kata dia.

Ketut dijumpai Tribun Manado Minggu (14/3/2021) di Hari Raya Nyepi saat usai bersembahyang di rumahnya yang berada samping pura.

Saat Tribun Manado bicara dengan Ketut, bersamaan dengan itu terdengar suara khotbah dari pengeras suara gereja yang pagi itu menggelar ibadah. Ketut mengaku tak terganggu sedikitpun. Malah menyebutnya harmoni sesuai tema Nyepi di masa pendemi ini.

Menurut Ketut, prosesi sembahyang massal telah berlangsung sejak dua hari lalu. Di hari raya nyepi, umat hanya datang sekali di pura untuk sembahyang secara pribadi. Selebihnya berdiam di rumah.

Ketut menuturkan, kerukunan antar umat beragama di Manado sangat terasa saat hari raya nyepi.
"Kalau di Dumoga Bolmong yang berjaga adalah pecalang. Kalau disini saudara saudara kami dari umat beragama lain yang berjaga," katanya.

Saat persiapan nyepi, beber dia, banyak umat beragama lain yang terlibat. Mereka membantu secara sukarela.
Di saat umat Hindu menjalani nyepi di rumah, para tetangganya yang beragama lain paham dengan tidak membunyikan lagu keras keras bahkan sampai menunda pesta.

"Kerukunan di Manado luar biasa," katanya. Ketut sendiri kerap pesiar ke rumah orang Kristen atau Muslim saat Natal dan Idul Fitri.

Menurutnya, umat Hindu di Manado jumlahnya mencapai 500 orang. Ada puluhan orang yang menetap sekitar pura. "Tahun ini semuanya tak balik Dumoga Bolmong. Kami adakan nyepi di sini," kata dia.

Herdy warga sekitar mengaku bangga menyebut Kelurahan tersebut punya penduduk dari semua agama yang diakui di Indonesia. "Di sini ada Kristen, Katolik, Muslim, Hindu, Buddha dan Konghucu," ujarnya.
Saat nyepi, ungkap dia, warga selain umat Hindu turut melakukan patroli pengamanan. (*)

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Charles Komaling
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved