Breaking News:

Kudeta Myanmar

Sejarah Negara Myanmar, Dulu Bernama Burma, Presiden Amerika Joe Biden Belum Akui

Mereka mulai mengakui setelah Myanmar mulai menerapkan demokrasi. Kendati begitu, Amerika masih menggunakan nama Burma.

Editor: Aldi Ponge
Seqoya / Shutterstock.com
Balon udara di Bagan, Myanmar. 

Akibatnya, banyak pemerintah di seluruh dunia menentang junta militer dan terus menyebut negara itu Burma dan ibu kotanya, Rangoon.

Nama Myanmar pun diterima

Pada 2010-an, rezim militer memutuskan transisi negara menuju demokrasi.

Meski angkatan bersenjata tetap kuat, lawan politiknya dibebaskan dan pemilihan umum pun diizinkan.

Pada 2015, partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi memenangi mayoritas kursi di parlemen Myanmar.

Ketika debat Myanmar versus Burma menjadi kurang terpolarisasi, sebagian besar pemerintah asing dan organisasi internasional memutuskan untuk mengakui Myanmar sebagai nama resmi.

Namun, banyak juga negara, seperti Australia, memutuskan untuk menggunakan Burma maupun Myanmar sebagai sarana untuk memberi sinyal dukungan bagi transisi demokrasi di dalam negeri dan pada saat yang sama mengikuti protokol diplomatik.

Suu Kyi, yang menjadi pemimpin de facto negara itu pada 2016, juga menyatakan dukungannya untuk menggunakan Myanmar atau Burma.

Namun, tidak semua negara mengikutinya.

Salah satunya, Amerika Serikat yang tidak mau menyebut Myanmar dan tetap menyebut negara itu sebagai Burma.

Hal itu ditegaskan Presiden AS Joe Biden saat memberi kecaman terhadap kudeta militer dengan menyebut negara itu sebagai Burma.

“AS mencabut sanksi terhadap Burma selama dekade terakhir berdasarkan kemajuan menuju demokrasi.

Pembalikan kemajuan itu akan membutuhkan peninjauan segera terhadap undang-undang sanksi kami,” ujar Biden.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved