Rabu, 13 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Anshar: Eksportir Bisa Urus Dokumen Sendiri Tanpa Perantara

Kelas ekspor yang berlangsung di kantor KPP BC Manado, Rabu (3/3/2021) ini diikuti perwakilan tujuh perusahaan

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Charles Komaling
tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa
Kelas ekspor bagi pelaku usaha perikanan di Kantor Bea Cukai Manado, Rabu (03/03/2021). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPP BC) Manado dan Balai Karantina Ikan dan Pengawasan Mutu (BKIPM) Manado kembali menggelar kelas ekspor bagi pelaku ekspor hasil perikanan di Manado dan Bitung.

Kelas ekspor yang berlangsung di kantor KPP BC Manado, Rabu (3/3/2021) ini diikuti perwakilan tujuh perusahaan yang bergerak di sektor perikanan.

Kepala KPP BC Manado, M Anshar mengatakan, kelas itu digelar untuk memberikan pelayanan prima bagi pengguna jasa.

"Harapan kami eksportir bisa memahami tata cara prosedur ekspor yang ada di Bea Cukai Manado. Selain itu, mereka bisa lebih pajak sistem kargo," kata Anshar.

Kepala Seksi Perbendaharaan BC Manado, Yuyu Mulyana dalam pemaparannya mengatakan, kelas ekspor itu bertujuan melatih para eksportir agar lebih fasih dan mengetahui tata cara ekspor di BC dan BKIPM.

Hal paling penting, kata Yuyu, ialah bagaimana mempersiapkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

"Harapan kami, eksportir bisa mengurus semua dokumennya secara mandiri tanpa perantara pihak ketiga. Dengan begitu bisa lebih efisien," jelasnya.

Sementara, Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Informasi BKIPM Manado, Dolly N Rawung mengatakan, pihaknya sangat mendukung program ekspor langsung (direct call) ke Singapura.

"Setelah Jepang, kini ada Singapura. Tentu ini akan membawa dampak ekonomi ke daerah (Sulut)," kata Dolly.

Ia mengatakan, para eksportir produk perikanan dan kelautan wajib memiliki Sertifikat Kesehatan dari BKIPM.

"Pengurusan dokuennya mudah, bisa online dan jika berkas lengkap bisa sehari sudah selesai," katanya.

Diketahui, setelah direct call ke Jepang, ekspor langsung dari Sulut akan menyasar pasar Singapura.

Direncanakan, pengiriman perdana berlangsung Senin 8 Maret 2021.

Ekspor Perdana ke Singapura
Kabar gembira. Harapan Pemprov Sulut, instansi terkait, pelaku usaha untuk membuka pasar tujuan ekspor lebih besar terwujud di awal tahun 2021.

Setelah direct call atau ekspor langsung ke Jepang sejak September 2020 lalu, Sulut berhasil membuka pasar ekspor langsung baru, yakni ke Singapura.

Kepastian ekspor langsung ke Negeri Singa itu diungkapkan Kepala Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (BC Sulbagtara), Cerah Bangun.

"Harapan kita membuka direct call ke Singapura sudah bisa awal pekan depan. Pengiriman perdana pada 8 Maret (2021)," ujar Cerah Bangun dalam FGD melalui Zoom Meeting 'Menembus Pasar Ekspor Singapura', Selasa (02/03/2021) sore.

Cerah bilang, Singapura merupakan potensial bagi komoditas asal Sulut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Singapura menjadi negara tujuan ekspor terbesar produk non migas asal Sulut di Bulan Januari 2021.

"Produk perikanan paling dominan diekspor dari Sulut ke Singapura. Dengan terbukanya ekspor, membuka peluang peningkatan ekonomi bagi Sulut," katanya.

Dia mengatakan, Bea Cukai yang selama ini menjadi 'trade facilator' berupaya agar ekspor langsung ke Singapura bisa terwujud.

Sebelumnya, hanya 43 persen dari total volume ekspor komoditas asal Sulut yang dikirim langsung ke pasar tujuan.

"Dengan terbukanya ekspor langsung ini, kami harap bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk UMKM," ujar Cerah.

Kepala KPP BC Manado, M Anshar mengatakan, pasar Singapura sangat prospektif.

Ia membeber alasan kenapa harus ekspor langsung ke Singapura.

Dari sisi pendapatan per kapita, Singapura merupakan yang tertinggi di ASEAN yakni 59,59 juta dollar AS per tahun (data 2019).

Selama ini, ekspor ke Singapura merupakan ekspor yang tertinggi selama lima tahun berturut-turut di ASEAN. Dimana pada tahun 2019 mencapai 12,9 miliar dollar AS.

"Sebelumnya pernah ada ekspor langsung ke Singapura melalui pesawat penumpang Silk Air sebelum pandemi Covid-19," jelasnya.

Keberhasilan Direct Call Ekspor Manado Narita Jepang juga turut menjadi alasan munculnya direct call Singapura.

Dengan ekspor langsung, kata Anshar, ada banyak keuntungan yang akan diperoleh.

Di antararanya, menghemat waktu pengiriman. Jarak tempuh udara Manado hanya sekitar 3,5 jam. Sebelumnya, ekspor tidak langsung bisa memakan waktu 9-16 jam.

Manfaat lainnya ialah adanya kepastian slot pengiriman kargo dan biaya logistik yang lebih rendah.

"Dengan begitu, kualitas barang dan komoditas yang dikirim terjamin," jelasnya.

Sementara itu, Rumaksono, Atase Perdagangan RI di Singapura mengatakan, Singapura adalah pasar potensial.

"Jumlah penduduk Singapura 5,6 jutaan dan didominasi usia produktif. Penduduk Singapura menghabiskan rata-rata Rp 75 juta per bulan untuk belanja," katanya.

Peluang lainnya, kata Rumaksono, Singapura tidak membebankan bea masuk bagi komoditas impornya.

"Karena Singapura tidak punya sumber daya alam. Nah, faktor ini yang harus bisa dimanfaatkan Indonesia, termasuk Sulawesi Utara," katanya. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved