Prakiraan Cuaca
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 2 Hari di Akhir Februari 2021, Berikut Prediksi Lengkap BMKG
Simak prakiraan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk dua hari di sejumlah wilayah.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Simak prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk dua hari di sejumlah wilayah.
Berdasarkan BMKG, ada wilayah yang diperkirakan berpotensi terjadi cuaca ekstrem selama dua hari.
BMKG menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem di sejumlah provinsi Indonesia untuk dua hari di akhir Februari 2021.
Baca juga: Ashanty di Rumah Sakit, Arsy Hermansyah Kini Belajar Mandiri hingga Bikin Sarapan Sendiri
Baca juga: PERHATIKAN Anak Anda, Jangan Sampai Jadi Korban, di NTB Seorang Balita Tewas Tersengat Listrik
Baca juga: Peringatan Dini Hari Ini Rabu 24 Februari 2021, BMKG:Daerah Potensi Cuaca Ekstrem & Gelombang Tinggi
Berikut daerah yang diprakirakan BMKG akan terjadi cuaca ekstrem yakni di Pulau Jawa.
Hal itu didapatkan usai BMKG mendeteksi pusat tekanan rendah atau potensi bibit siklon, yang terjadi di sekitar selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bibit siklon tersebut diprediksi menguat hingga 2 hari mendatang, yakni pada 24-25 Februari 2021.
Bahkan, bibit siklon itu diprediksi bergerak mendekati wilayah laut di selatan Jawa Timur.
"Bibit siklon tersebut diprediksi masih bertahan dan menunjukkan pergerakan ke arah barat mendekati wilayah laut di selatan Jawa Timur."
"Dengan potensi intensitas yang menguat hingga dua hari mendatang," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto di Jakarta, Selasa (23/2/2021).
Prediksi BMKG itu berdasarkan hasil pantauan keberadaan pusat tekanan rendah udara (low pressure area/LPA) yang cukup signifikan.
Tekanan itu berdampak pada pembentukan pola konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumatera Selatan-Jawa-Nusa Tenggara.
Selain itu, bibit siklon ini dapat menimbulkan potensi angin kencang di wilayah laut dan potensi gelombang tinggi di wilayah laut bagian selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.
Karena itu, bibit siklon akan memicu dinamika atmosfer secara umum yang berdampak cukup signifikan, untuk memengaruhi potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Jawa mulai 23 Februari 2021.
Sedangkan dampak dari bibit siklon itu diprediksi akan menimbulkan cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek pada 24-27 Februari 2021.
Hujan diprediksi akan terjadi terutama pada malam atau dini hari menjelang pagi, dengan potensi distribusi hujan dapat terjadi secara merata.
Berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF) untuk dampak banjir/banjir bandang, selama dua hari ke depan (23-24 Februari) di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, berstatus siaga.
Potensi Hujan Lebat 24 Februari 2021
Curah hujan yang tinggi dalam tiga hari terakhir membuat sejumlah daerah di wilayah Jakarta dan sekitarnya terendam banjir.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorina Karnawati mengingatkan warga, khususnya yang bertempat tinggal di Jabodetabek, untuk waspada.
BMKG memprediksi potensi hujan lebat masih akan mengguyur dalam tiga hari ke depan.
"Untuk warga yang tinggal di wilayah Jabodetabek agar tetap waspada terutama hari ini (Sabtu 20/2/2021)."
"Kemudian mewaspadai potensi hujan lebat pada tanggal 23 dan 24 Februari mendatang," kata Dwikorita dalam konferensi pers BMKG, Sabtu (20/2/2021).
Potensi hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan akan mengguyur wilayah Jabodetabek secara merata hari ini.
Dwikorita menjelaskan, dalam periode sepekan ke depan, wilayah Jabodetabek umumnya berpotensi hujan dengan intensitas rignan-sedang.
"Namun tangal 21 Februari, intensitas hujan cenderung rendah."
"Karena energinya tampak sudah terlepas untuk hari ini," ujarnya.
Sedangkan intensitas hujan ringan juga berpotensi terjadi pada 22 Februari.
"Untuk tanggal 22 Februari di bagian Selatan (Jabodetabek) mulai terbentuk peningkatan intensitas hujan, meski dalam kondisi ringan," jelas Dwikorita.
Sementara, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengungkapkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan turun pada 23 Februari 2021.
"Tanggal 23 itu intensitas hujan 24 jam, intensitas sedang hingga lebat."
"Perlu menjadi kewaspadaan kita, terutama di Selatan jabodetabek, ada potensi banjir," ungkap Fachri dalam kesempatan yang sama.
Fachri juga menyampaikan, hujan pada 23 Februari mendatang diprediksi tidak selebat hujan yang terjadi sejak Jumat (19/2/2021) hingga Sabtu ini.
"Kalau dari jumlah curah hujan lebat bahkan sangat lebat, tapi tidak selebat yang terjadi selama 24 jam terakhir," terang Fachri.
Sampai Maret
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, sedang berada di periode puncak musim penghujan.
BMKG memprediksi, periode puncak musim penghujan ini akan terus berlangsung hingga awal Maret 2021.
"Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi selama periode puncak musim penghujan ini."
"Yang diperkirakan masih akan berlangsung sampai dengan akhir Februari hingga awal Maret," ucap Dwikorita dalam konferensi pers online, Sabtu (20/2/2021).
Selain itu, dalam sepekan ke depan, wilayah Jabodetabek diprediksi akan diguyur hujan intensitas ringan hingga sedang.
"Sepekan ke depan, wilayah Jabodetabek umumnya berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," tutur Dwikorita.
Dwikorita mengingatkan, potensi peningkatan intensitas curah hujan masih akan terjadi hingga 25 Februari 2021.
Peta curah hujan, lanjut Dwikorita, menunjukkan adanya dominasi warna kuning, penanda curah hujan akan berpotensi mengalami peningkatan.
"Jabodetabek sampai tanggal 25 Februari, gambarnya hijau dan kuning," ungkap Dwikorita.
4 Faktor
BMKG menyebut, ada beberapa hal faktor penyebab curah hujan ekstrem terjadi di Indonesia.
Faktor pertama, adanya aktivitas seruakan udara yang cukup signifikan dari arah Asia pada 18- 19 Februari.
"Seruakan udara dari Asia, aktivitas tersebut cukup signifikan."
"Mengakibatkan peningkatan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat," ucap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat konferensi pers virtual, Sabtu (20/2/2021).
Faktor kedua, lanjutnya, aktivitas gangguan atmosfer di zona ekuator, yang mengakibatkan adanya perlambatan dan pertemuan angin dari arah Asia, dengan angin dari arah Samudra Hindia.
"Ada pembelokan, perlambatan dan pertemuan angin, dari arah utara."
"Ini kebetulan terjadinya tepat melewati Jabodetabek."
"Saat membelok, melambat, di situlah terjadi peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan."
"Yang akhirnya membentuk sebagai hujan dengan intensitas tinggi," ulas Dwikorita.
"Jadi angin yang dari utara itu terhalang, tidak bisa langsung menerobos ke selatan."
"Karena terhalang angin yang dari arah barat itu, sehingga angin dari utara itu membelok ke timur," tutur Dwikorita.
Saat laju angin dari utara ke selatan terhambat, di situlah terjadi peningkatan intensitas pembentukan awan-awan hujan, yang akhirnya menyebabkan terjadinya hujan di Jabodetabek.
Faktor ketiga, adanya tingkat kebasahan dan labilitas udara di sebagian besar wilayah Jawa bagian barat.
Kebasahan dan labilitas udara ini cukup tinggi, dan mengakibatkan peningkatan potensi pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jabodetabek.
"Jadi ini tingkat labilitas dan kebasahan udara yang berpengaruh dalam peningkatan curah hujan," terang Dwikorita.
Terakhir, terpantau adanya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara.
Daerah pusat tekanan rendah di Australia ini membentuk pola konvergensi di sebagian besar Pulau Jawa.
"Jadi fenomena yang ada di Pulau Jawa ini juga dipengaruhi terbentuknya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara, yang membentuk pola konvergensi di Pulau Jawa."
"Ini juga berkontraksi pada peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek," paparnya. (Fandi Permana)
Artikel ini telah tayang di:
Wartakotalive dengan judul BMKG Deteksi Bibit Siklon, Cuaca Ekstrem Diprediksi Melanda Jabodetabek pada 24-27 Februari 2021,
Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/peringatan-cuaca-ekstreeem.jpg)