Breaking News:

Opini Politik

OPINI POLITIK - AHY Produk Gagal Partai Demokrat?

Kemarin (1/2) tiba-tiba Ketum Partai Demokrat (PD) Agus Yudhoyono (AHY) mengejutkan publik dengan pernyataan ada jenderal

(Sumber: KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI)
Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 

Oleh: Josef H. Wenas

Kemarin (1/2) tiba-tiba Ketum Partai Demokrat (PD) Agus Yudhoyono (AHY) mengejutkan publik dengan pernyataan ada jenderal di lingkaran Presiden Joko Widodo yang merancang pengambil-alihan PD melalui mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB). Tidak lama kemudian Andi Arief dengan senjata Twitter andalannya menjalankan tugasnya menohok langsung ke Jenderal Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Sebetulnya, SBY dua hari sebelumnya sudah memberikan sinyal, juga melalui Twitter-nya.

Saya langsung menduga ini arahnya kemana. Namun untuk meyakini apa yang saya pikirkan, saya menunggu dulu apa tanggapan Moeldoko terhadap tudingan Andi Arief.

Andi Arief dan Moeldoko
Andi Arief dan Moeldoko (Kolase Tribun Manado / Istimewa)

Jawaban Jenderal Moeldoko saya kutip persis dari beberapa media online. Begini dia bilang: “Saran saya, ya. Jadi seorang pemimpin harus jadi pemimpin yang kuat, jangan mudah baperan, jangan mudah terombang ambing dan seterusnya. Kalau anak buahnya enggak boleh pergi ke mana-mana diborgol aja.”

Dua hal yang dikatakan Moeldoko menjadi points of analysis tulisan ini: “pemimpin yang kuat” dan “anak buahnya engak boleh kemana-mana.” Moeldoko memang betul, hari ini hipotesanya adalah apakah AHY pemimpin yang kuat untuk PD. Juga, apakah kader-kader PD solid dan tidak kemana-mana?

**

Orang sering mengacaukan antara “modal politik” dan “modal sosial”. Modal politik itu konkrit dalam bentuk suara sah pada suatu pemilu, maka biasa diistilahkan sebagai “saham politik”. Sedangkan modal sosial itu abstraksi dari suatu kekuatan dukungan yang potensial menjadi modal politik— kalau dibilang si Cuplis didukung oleh kaum Nahdliyin, no body will know how big it is exactly in terms of vote, but everybody knows it will serve a huge leverage in terms of block vote. Gampangnya, modal politik itu “vote”, modal sosial itu “block vote.”

Ketika duet Prabowo Subianto-Fadli Zon menguasai kaum petani melalui HKTI, saat itu dia sedang membangun “block vote” untuk kepentingan “vote”-nya Gerindra; Ketika HKTI kemudian diambil-alih oleh Jenderal Moeldoko, motifnya sama, untuk kepentingan “block vote” Hanura (yang berkoalisi dengan Jokowi)— bukan tanpa alasan petinggi PD rada sensi dan trauma, Moeldoko has the edge over such a thing.

Nagita Slavina Dapat Salam Manis Aldebaran Ikatan Cinta, Raffi Ahmad Cemburu?

Fakta Tokoh Demokrasi Myanmar The Lady Aung San Suu Kyi, Putri Pahlawan Kemerdekaan yang Dibunuh

 

Punya saham politik kelas mayoritas seperti Gerindra, maka bisa menempatkan dua menteri, padahal mereka oposisi, ke dalam pemerintahan koalisi yang menjadi lawan tandingnya di pemilu. Sebaliknya, hanya punya saham politik minoritas seperti PD, tidak bisa apa-apa, kecuali jualan orasi dan narasi politik “sesuai aplikasi” tergantung isunya kemana hari itu, seperti tukang ojek.

Saham politik adalah concern utama PD hari ini. Layaknya suatu korporasi di bursa saham, it is there to stay, not to die, dan karena itu pengembangan usahanya, outputnya, produknya, menjadi amat penting untuk dilihat para calon investor. Ketika korporasi PD dibawah Ketum Subur Budhisantoso di 2004 dan Ketum Hadi Utomo di 2009 meluncurkan produk SBY, saham politik PD saat itu liquid betul, blue chip banget.

Halaman
12
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved